Selasa, 04 September 2018

Konsepsi Manusia

  1. Manusia menurut islam
Diantara sekian banyak ilmuan, ada yang berpendapat bahwa manusia berasal dari dua suku kata. Manus dan Ia. Manus artinya jiwa, Ia artinya raga tubuh kasar atau Jism. Jadi manusia adalah tubuh kasar atau kerangka jasmani yang berjiwa. Atau manusia adalah benda yang hidup yang berjiwa raga1
  1. Ibnu Sina berpendapat " Sebenarnya telah diketahui bahwa manusia berbeda dengan hewan manapun. Binatang tidak bisa hidup dengan cara yang baik, binatang hidup sendirian mengurus segala keperluannya tanpa ada teman bersekutu yang membantu segala kebutuhannya"
  2. Syeh Nuruddin Ar-Raniri berpendapat " manusia adalah makhluk tuhan yang paling sempurna di dunia ini. Tuhan menciptakan manusia ini sesuai dengan citra-Nya ( Shurah Tuhan ), agar manusia dapat berperan sebagai khalifah di muka bumi ini, sebab tanpa citra-Nya mustahil manusia dapat berperan sebagai wakil tuhan. Selain menyandang peran sebagai khalifah manusia juga sebagai tempat penaungan (tajalli) nama dan sifat tuhan yang paling lengkap dan sempurna "
Setidaknya ada empat kata yang digunakan al-Qur‟an untuk me-nunjuk makna manusia, yaitu: al-basyar, al-insān, al-nās, dan banī ādam. Meskipun kata tersebut menunjuk pada makna manusia, namun secara khusus memiliki penekanan pengertian yang berbeda. Perbedaan berikut dapat dilihat pada uraian berikut:

  1. Al-Basyar

Kata al-basyar dinyatakan dalam al-Qur‟an sebanyak 36 kali dan tersebar dalam 26 Surah. Secara etimologi, al-basyar berarti kulit ke-pala, wajah atau tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Menurut Quraish Shihab, kata basyar terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas dan berbeda dengan kulit binatang. Di bagian lain dari al-Qur‟an disebutkan bahwa kata basyar digunakan untuk menunjukkan proses kejadian manusia sebagai basyar melalui tahap-tahap hingga mencapai kedewasaan.
Berdasarkan konsep al-basyar, manusia tak jauh berbeda dengan makhluk biologis lainnya. Dengan demikian kehidupan manusia terikat kepada kaidah prinsip kehidupan biologis seperti berkembangbiak, mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan dalam mencapai tingkat kematangan dan kedewasaan. Manusia memerlukan makanan dan minuman untuk hidup, dan juga memerlukan pasangan hidup un-tuk melanjutkan proses pelanjut keturunannya. Sebagai makhluk bio-logis, manusia juga mengalami proses akhir secara fisik, yaitu mati. Mati merupakan tahap akhir dari proses pertumbuhan dan perkemba-ngan manusia sebagai makhluk biologis.

  1. Al-Insān

Islam sebagai agama samawi paling belakangan muncul juga me-nawarkan pandangan tentang manusia. Manusia dalam bahasa Arab disebut al-s atau al-insān. Kata al-insān dalam al-Qur‟an disebut sebanyak 60 kali. Kata al-insān berasal dari kata al-uns yang berarti jinak, harmonis, dan tampak. Dalam al-Qur‟an kata insān sering juga dihadapkan dengan kata jin atau jān, yaitu makhluk yang tidak tampak. Kata insān dalam al-Qur‟an digunakan untuk menunjuk manusia seba-gai totalitas (jiwa dan raga). Potensi tersebut antara lain berupa po-tensi untuk bertumbuh dan berkembang secara fisik dan secara mental spiritual.
Perkembangan tersebut antara lain, meliputi kemampuan untuk berbicara. Menguasai ilmu pengetahuan melalui proses tertentu, dengan mengajarkan manusia dengan kalam (baca tulis), dan segala apa yang tidak diketahui. Kemampuan untuk mengenal Tuhan atas dasar perjanjian awal di dalam ruh, dalam bentuk kesaksian. Potensi untuk mengembangkan diri ini (yang positif) memberi peluang bagi manusia untuk mengembangkan kualitas sumber daya insaninya. Integritas ini akan tergambar pada nilai iman dan bentuk amaliyahnya. Dengan kemampuan ini, manusia akan mampu mengemban amanah Allah di muka bumi secara utuh. Namun demikian, manusia sering la-lai bahkan melupakan nilai insaniyah yang dimilikinya dengan berbuat kerusakan di bumi.

  1. An-Nās

Kata al-nās dinyatakan dalam al-Qur‟an sebanyak 240 kali dan tersebar dalam 53 Surah. Kata al-nās menunjukkan pada eksistensi manusia sebagai makhluk sosial secara keseluruhan tanpa melihat status keimanan atau kekafirannya. Dilihat dari kandungan maknanya, kata ini lebih bersifat umum dibandingkan dengan kata al-insān.
Dalam al-Qur‟an, kosa kata al-nās umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial. Manusia diciptakan sebagai makhluk bermasyarakat, yang berawal dari pasangan laki-laki dan wanita, kemudian berkembang menjadi suku dan bangsa, untuk saling mengenal. Kata al-nās juga dijelaskan oleh Allah untuk menunjuk kepada manusia bahwa ada sebagian yang beriman dan ada juga yang munafik.
Adapun secara umum, penggunaan kata al-nās memiliki arti pe-ringatan dari Allah kepada semua manusia untuk selalu menjaga per-buatannya karena semua itu pasti ada konsekuensinya, seperti jangan terlampau hemat memakai harta bendanya atau pelit, jangan som-bong, bangga karena telah berbuat baik dan jangan menjadikan setan sebagai temannya karena setan merupakan seburuk-buruk teman, jangan takut kepada manusia tetapi takutlah kepadaNya. Kemampuan untuk memerankan diri dalam kehidupan sosial, sehingga dapat men-datangkan manfaat, merupakan usaha yang sangat dianjurkan. Dengan demikian konsep al-nās, mengacu kepada peran dan tanggung jawab manusia sebagai makhluk sosial dalam statusnya sebagai makhluk cip-taan Allah Swt.

  1. Banī Ādam

Dalam al-Qur‟an, kata banī ādam dijumpai sebanyak 7 kali dan tersebar dalam 3 Surat. Secara etimologi kata banī ādam menunjukkan arti pada keturunan Nabi Adam.27 Namun yang jelas, menurut al-Qur‟an pada hakikatnya manusia berasal dari nenek moyang yang sama, yakni Adam dan Siti Hawa. Berdasarkan asal usul yang sama ini, berarti manusia masih memiliki hubungan darah, serta pertalian kekerabatan. Dari ras manapun dia berasal. Atas kesamaan ini sudah semestinya manusia mampu menempatkan dirinya dalam komunitas
Namun dalam alqur'an was sunnah disebut kan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dan memiliki berbagai potensi serta memperoleh petunjuk kebenaran dalam menjalani kehidupan di dunia dan di akhirat.
Allah selaku pencipta alam semesta dan manusia telah memberikan infoormasi lewat wahyu alqur'an dan realita faktual yang tampak pada diri manusia . informasi itu diberi-Nya melalui ayat-ayat tersebar tidak bertumpuk pada satu ayat atau satu surat . hal ini dilakukan-Nya agar manusia berusaha mencari , meneliti , memikirkan, dan menganalisanya. Tidak menerima mentah demikian saja. Untuk mampu memutuskan nya, diperlukan suatu peneliti alqur'an dan sunnah rosul secara analitis dan mendalam. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan penelitian laboratorium sebagai perbandingan , untuk merumuskan mana yang benar bersumber dari konsep awal dari Allah dan mana yang telah mendapat pengaruh dari lingkungan.
Hasil peneliti alqur'an yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulannya bahwa manusia terdiri dari unsur-unsur : jasad, ruh, nafs, qolb, dan aqal.


  1. Jasad
Jasad merupakan bentuk lahiriah manusia , yang dalam alqur'an dinyatakan diciptakan dari tanah. Penciptaan tanah diungkapkan lebih lanjut melalui proses yang dimulai dari saripati makanan, disimpan dalam tubuh sampai sebagiannya menjadi sperma atau ovum ( sel telur ) , yang keluar dari tulang sulbi (laki-laki) dan tulang depan (saraib) perempuan
Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? 5 Dia diciptakan dari air yang dipancarkan 6, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan 7 2Sperma dan ovum bersatu dan tergantung dalam rahim kandungan seorang ibu ( alaqah) , kemudian menjadi yang di liliti daging dan kemudian di isi tulang lalu dibalut lagi dengan daging. Setelah ia berumur sembilan bulan, ia lahir ke bumi dengan dorongan sesuatu kekuatan dari ruh sang ibu, menjadiikan ia seorang anak manusia.
  1. Ruh
Ruh adalah daya ( sejenis makhluk atau ciptaan ) yang di tiupkan allah kepada janin dalam kandungan
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.3
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. 4
Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan, 5
Ketika janin berumur 4 bulan 10 hari. Walaupun dalam istilah bahasa dikenal adanya istilah ruhani, kata ini lebih mengarah pada aspek kejiwaan, yang dalam istilah alqur'an di sebut nafs.
Dalam diri manusia , ruh berfungsi untuk :
  1. Membawa dan menerima wahyu
"dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril)" 6
  1. Menguatkan iman
"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. 7
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa manusia pada dasarnya menerima beban perintah-perintah allah dan sebagai orang yang dibekali ruh , seharusnya ia selalu meningkatkan ke imanannya terhadap Allah. Hal itu berarti mereka yang tidak ada usaha untuk menganalisa wahyu Allah serta tidak pula ada usaha untuk menguatkan keimanannya setiap saat berarti dia menghianati ruh yang ada pada dirinya.
  1. Nafs
Para ahli menyatakan manusia itu pasti akan mati. Tetapi alqur'an menginformasikan bahwa yang mati itu nafsnya. Hal ini di ungkapkan pada QS. al-anbiya : 35 "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." dan QS. al-ankabut : 57 Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan., QS. ali-imran ; 185 Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Hadits menginformasikan bahwa ruh manusia menuju alam barjah sementara jasad mengalami jasad mengalami proses pembusukan, menjelang ia bersenyawa kembali secara sempurna dengan tanah.
Al-qur'an menjelaskan bahwa nafs terdiri dari 3 jenis :
  1. Nafs al-amarah "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang" 8Ayat ini secara tegas memberikan pengertian bahwa nafs amarah itu mendorong ke arah kejahatan.
  2. Nafs al-lawwamah QS. Al-Qiyamah : 1-3 (1) Aku bersumpah demi hari kiamat,(2) dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). (3) Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? dan 20 -21 (20)   Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, (21)   dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. Dari penjelasan ayat tersebut bahwa yang dimaksud dengan nafs lawwamah adalah jiwa yang condong kepada dunia dan tak acuh dengan akhirat.
  3. Nafs al-muthmainnah ( 27 )   Hai jiwa yang tenang.( 28 )   Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.( 29 )   Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,( 30 )   masuklah ke dalam surga-Ku. 9Nafs muthmainnah ini adalah jiwa yang mengarah ke jalan allah untuk mencari ketenangan dan kesenangan sehingga hidup berbahagia bersama Allah.


  1. Qolb
Menurut imam al-ghozali qolbu atau hati memiliki Dua makna yang pertama adalah sepotong daging atau mudhghoh yang berbentuk buah sanaubar yang terletak dibagian kiri dada di dalamnya terdapat rongga berisi darah hitam dan di situ pula sumber atau pusat ruh. Makna yang kedua makna qalb atau hati adalah Lathifah ( sesuatu yang amat halus dan lembut tidak kasat mata , tak berupa dan tak dapat diraba ) yang bersifa rabbani dan ruhani.
maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. Qs. Al-hajj : 46 identik dengan dengan Nafs Qs. 89 : 27-28
  1. Aql
Secara bahasa , kata al-‘aql didalam Kamus Kontemporer Arab-Indonesia merupakan sinonim bagi kata hija yang berarti pikiran, otak, dan alasan. Sedangkan di dalam Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia kata al-‘aql juga berarti quwwah al-idrak (daya yang dapat menangkap, mempersepsi, memahami, dan mencerapi), qalb (hati), al-dzakirah (ingatan), al-quwwah al-‘aqilah (daya atau kekuatan yang dapat berfikir), al-fahm (pengertian), al-diyyat (diyat), al-hishn (benteng) dan al-malja (tempat berlindung). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akal diartikan dengan : (1) daya pikir, pikiran, ingatan; (2) jalan atau cara melakukan sesuatu; daya upaya, ikhtiyar; (3) tipu daya, muslihat, kecerdikan, dan kelicikan.
Menurut Imam al-Ghazali, kata al-‘aql memiliki empat hakikat, yaitu :
Pertama, sesuatu yang siap menerima pengetahuan teoretis dan mengatur kepandaian berpikir yang tersembunyi.
Kedua, pengetahuan yang ada pada diri manusia sejak usia anak dapat menentukan yang mungkin bagi yang perkara yang mungkin dan mustahil bagi yang perkara yang mustahil. Pengertian ini, hematnya, sama dengan hati, yaitu perasaan halus (lathifah).
Ketiga, pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman /empirik.
Keempat, kekuatan gharizah (insting) untuk mengetahui konsekuensi berbagai masalah dan menahan keinginan untuk mendapatkan kelezatan sesaat.
Al-‘aql juga bisa dipahami dalam dua makna yaitu pertama, otak yang berada di dalam kepala bagian belakang dan yang kedua adalah potensilathifah robbaniyyah yang mempunyai potensi akademik, mengetahui hakekat segala sesuatu.
Sedangkan manfaat/fungsi al-‘aql adalah potensi penyerapan pengetahuan, membedakan baik dan buruk, dan jalan memperoleh iman sejati.


  1. Perjalanan hidup manusia
Manusia adalah wujud dari tanah karena manusia tercipta dari tanah. Allah berfirman dalam QS. Nuh : 17-18  "Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya . Kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya" demikian pula QS. Taha : 55 "Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain" dari ayat ini dapat disimpulkan bahwa manusia diciptakan dari tanah. Lalu. Apa saja yang merupakan komponen-komponen tanah dan pembentukan manusia ? Allah SWT menjelaskan secara detail dalam al-qur'an. Salah satunya adalah terdapat dalam QS.Hud : 61 dan QS.An-Najm : 32. kemudian QS.A-Hajj : 4 menjelaskan proses penciptaan manusia yang bermula dari komponen-komponeh tanah (Maurice Bucaile, 1998:67). Yaitu sebagai berikut :
  1. Manusia berasal dari sari pati tanah
  2. Kemudian dari setetes air mani
  3. Kemudian dari segumpal darah
  4. Kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna
  5. Allah meniupkan roh ke dalam rahim dan menetapakan takdir manusia
  6. Dilahirkan sang bayi
  7. Tumbuh mnjadi balita, remaja , dewasa dan tua
  8. Ada yang panjang umurnya, ada yang pendek umur
  9. Masa tua sebagai kepikunan
  10. Lalu manusia mati dan jasadnya di kembalikan kedalam tanah
Saripati tanah adalah sesuatu yang disarikan dari cairan mani. Komponen aktif cairan mani adalah organisme sel tunggal yang di sebut dengan spermatazoon. Tak seorangpun akan dapat membantah pernyataan allah tersebut karena dengan ayat itulah diketahui bahwa manusia berasal dari tanah. Akan tetapi, ada yang langsung cetak dari tanah dan ada yang melalui proses perkawinan antara manusia yang berbeda gendernya.
Cairan air mani disebut pula dengan air mani. Oleh karena itu, manusiaa berasal dari air. Allah menyatakan perihal itu dalam Al-qur'an QS.Al-Furqan : 54 "Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa".
Perihal penciptaan manusia pertama, Allah menerangkan didalam QS. Annisa : 1. Menurut Muhammad Rasyid Ridha (1983: 56), "Nafsun Waahidatun" adalah nenek moyang yang sama, artinya bukan adam . adapun secara langsung diciptakan dari jia adam hanyalah hawa karena ia di ciptakan allah dari tulang rusuk Adam, sedangkan manusia keturuna diciptakan dalam proses yang berbeda-beda akan tetapi, mayoritas mufasir menyataka bahwa kata "Nafsun Waahidatun " artinya Adam , maka manusia seluruhnya keturunan adam, baik yang jalur langsung Qabil, Habil, Iklima dan Labuda maupun jalur yang terjauh. Demikian pula penjelasan Allah, yang terdapat dalam alqur'an surat Al-Hijr ayat 28-29 "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk . Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud"
Tubuh manusia dibentuk secara langsung oleh Allah dengan bentuk yang sempurna. Allah memliki kehendak sendiri dalam pembentukannya. Bentuk tubuh manusia beragam. Mata, hidung, bibir, rambut, otak, tinggi badan, warna kulit pun berbeda dan secara psikologispun, manusia berbeda-beda. Untuk itulah Allah berfirman dalam QS. At-Tin : 4 "sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya"
Manusia diciptakan melalui tahap-tahap tertentu. Perkembangan dan pertumbuhan manusia dapat dilihat dengan dua pendekatan, yaitu Pendekatan biologis dan psikologis "Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian"10
Demikian pula, firman-Nya dalam Al-qur'an surat Al-Mu'minun ayat 12-14 dijelaskan bahwa perkembangan manusia didalam rahim ibu berproses secara bertahap, dan pernyataan Allah dalam ayat tersebut telah dibuktkan oleh berbagai ilmu kedokteran di bidang geneologi . pada prinsipnya, perkembangan manusia berprose secara alamiah dan tidak mengenal kata berhenti. Setiap perkembangan yang terjadi secara fisikal akan memberikan pengaruh kepada kejiwaan manusia yang mengikuti pola terarah.


  1. Potensi manusia
Allah Ta’ala membekali manusia dengan at-thaqah –potensi-, yaitu as sam’u s (pendengaran), al-basharu (penglihatan), dan al-fuadu (hati). Banyak sekali firman Allah Ta’ala yang menyebutkan tentang hal  ini, diantaranya adalah.

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
Katakanlah: ‘Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati’. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.” 11

Allah Ta’ala menganugerahkan telinga kepada manusia yang dengannya ia dapat mendengarkan ajaran-ajaran agama Allah yang disampaikan kepadanya oleh rasul-rasul Allah. Dianugerahi-Nya pula manusia mata yang dengannya ia dapat melihat, memandang dan memperhatikan kejadian alam semesta ini. Diberi-Nya manusia hati, akal dan pikiran untuk memikirkan, merenungkan, menimbang dan membedakan mana yang baik bagimu dan mana yang tidak baik, mana yang bermanfaat dan mana pula yang tidak bermanfaat. Sebenarnya dengan anugerah-Nya itu manusia dapat mencapai semua yang baik bagi dirinya sebagai makhluk Allah.
Firman-Nya yang lain:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” 12
Allah Ta’ala mengeluarkan manusia dari rahim ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Tetapi sewaktu masih di dalam rahim, Allah Ta’alamenganugerahkan bakat dan kemampuan pada diri manusia, seperti bakat berpikir, mengindra dan lain sebagainya.
Setelah manusia itu lahir, dengan hidayah Allah Ta’ala segala bakat-bakat itu berkembang. Akalnya dapat memikirkan tentang kebaikan, kejahatan, kebenaran dan kesalahan, hak dan batal. Dan dengan bakat pendengaran dan penglihatan yang telah berkembang itu manusia mengenali dunia sekitarnya dan mempertahankan hidupnya serta mengadakan hubungan sesama manusia. Dan dengan perantaraan akal dan indra itu pengalaman dari pengetahuan manusia dari hari ke hari semakin bertambah dan berkembang. Kesemuanya itu merupakan rahmat dan anugerah Tuhan kepada manusia yang tidak terhingga.
Karena itu seharusnyalah manusia bersyukur kepada-Nya dengan menjalankan al-mas’uliyyah (tanggung jawab) yang telah dipikulkan kepadanya, yakni mempergunakan segala nikmat Allah Ta’ala itu untuk beribadah dan patuh kepada-Nya.


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” 13
Di saat memikul al-mas’uliyyah itu, ada dua pilihan di hadapan manusia; apakah menindaklanjutinya dengan al-amanah (sikap amanah) atau dengan al-khiyanah (sikap khianat).
Mereka yang memilih sikap amanah, di dunia ini akan dianugerahi kehormatan al-khilafah (kepemimpinan), sebagaimana disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam kitab-Nya.
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesu atu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur, 24: 55)
Berkenaan dengan al-khilafah ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan manusia:

Pertama, manusia bukan pemilik yang hakiki (‘adamu haqiqatil mulkiyah), karena Pemilik yang hakiki adalah Allah Ta’ala.

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-Hasyr, 59: 23)
Allah itu merajai segala apa yang di bumi dan di langit, bertasbih kepada-Nya dengan kehendak-Nya berdasarkan kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya, suci dari segala yang tidak layak dan tidak sesuai dengan ketinggian dan kesempurnaan-Nya. Tuhan Yang Maha Perkasa, menundukkan segala makhluk-Nya dengan kekuasaan-Nya, Maha Bijaksana dalam mengatur hal ihwal mereka. Dia-lah yang lebih mengetahui kemaslahatan mereka, yang akan membawa mereka kepada kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat kelak.

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Jumu’ah, 62: 1)

Kedua, manusia harus mengembannya  sesuai dengan kehendak pihak yang mewakilkan kepemimpinan tersebut ( at-tasharruf bi-iradatil mustakhlif), yakni Allah Ta’ala.
Apa yang dikehendaki Allah Ta’ala dari mereka yang telah diberi kekuasaan di muka bumi?
Dia berfirman,
الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al Hajj, 22: 41)
Ayat di atas menegaskan bahwa mereka yang diberi kekuasaan di muka bumi hendaknya melakukan hal-hal berikut ini:
  1. Mendirikan shalat pada setiap waktu yang telah ditentukan sesuai dengan yang diperintahkan Allah. Makna yang lebih luas adalah bahwa para pemimpin Islam hendaknya membimbing umat Islam agar menjalankan shalat dan peribadahan dengan konsekuen, mengarahkan mereka agar menjaga hubungan dengan Allah Ta’ala,menjaga akhlak, keimanan, dan ketakwaan mereka. Karena salah satu tujuan dari shalat adalah menyucikan jiwa dan raga, mencegah manusia dari perbuatan keji dan perbuatan mungkar serta mewujudkan takwa yang sebenarnya.
  2. Menunaikan zakat. Makna yang lebih luas adalah bahwa para pemimpin Islam hendaknya mengarahkan umatnya agar meyakini bahwa di dalam harta si kaya terdapat hak orang-orang fakir dan miskin. Dengan kata lain, seorang pemimpin Islam hendaknya berupaya mewujudkan solidaritas sosial di tengah-tengah umatnya, diantaranya adalah dengan menegakkan syariat zakat.
  3. Menyuruh manusia berbuat makruf dan mencegah perbuatanmunkar. Para pemimpin Islam memiliki tugas untuk mendorong manusia mengerjakan amal saleh, memimpin manusia malalui jalan lurus yang dibentangkan Allah, dan dengan kekuatannya, mereka mencegah orang-orang yang biasa mengerjakan larangan-larangan Allah. Dengan kata lain, seorang pemimpin Islam berkewajiban menjalankan fungsi kontrol sosial.

Tindakan mereka sesuai dengan firman Allah Ta’ala,


كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran, 3: 110)

Ketiga, dalam mengembannya manusia tidak boleh menentang peraturan yang telah ditentukan oleh Allah Ta’ala (‘adamut ta’addi ‘alal hudud).
Sebagai pengemban khilafah, manusia wajib melaksanakan peraturan Allah dan menjaganya. Allah Ta’ala menyebutkan bahwa salah satu ciri-ciri orang beriman itu adalah,


وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ
“…dan yang memelihara hukum-hukum Allah.” (QS. At-Taubah, 9: 112)
Jadi, sebagai individu dan pemimpin, manusia harus berupaya menjaga diri dan umatnya agar tidak melampaui batas dan ketentuan yang telah ditetapkan Allah Ta’ala, yaitu berupa syariat dan hukum-hukum-Nya demi kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat.

Bagi manusia yang memilih sikap khianat, maka Allah Ta’ala akan mengazab dan menghinakannya, na’udzubillahi min dzalik. Mereka yang tidak mau menggunakan potensi dirinya untuk beribadah, diumpakan oleh Allah Ta’ala dengan berbagai perumpamaan yang hina:

Kal an’am (bagaikan binatang ternak).

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf, 7: 179)

Kal kalbi (bagaikan anjing).

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.”(QS. Al-A’raf, 7: 176)

Kal qirdi (seperti monyet dan kal khinzir (seperti babi).

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ
Katakanlah: ‘Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut ?’. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah, 5: 60)

Kutukan yang disebutkan dalam ayat di atas -dan juga disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 65 adalah menceritakan tentang orang-orang Yahudi pada masa lalu yang melanggar ketentuan yang terdapat di dalam Taurat. Mereka meninggalkan kewajiban beribadah pada hari Sabtu hanya karena ingin melakukan pekerjaan duniawi menangkap ikan di laut, dimana pada hari itu ikan-ikan di laut bermunculan dan mudah ditangkap.
Menurut Mujahid, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, “Fisik mereka tidak ditukar menjadi kera, tetapi hati, jiwa dan sifat mereka dirubah menjadi seperti kera. Oleh sebab itu mereka tidak dapat menerima pengajaran dan tidak dapat memahami ancaman”
Namun, jumhur ulama berpendapat, bahwa mereka benar-benar bertukar rupa menjadi kera. Disebut di dalam riwayat lain bahwa mereka yang dirubah menjadi kera itu, tidak beranak, tidak makan, tidak minum dan tidak dapat hidup lebih dari tiga hari.
Mengenai kutukan ini Ibnu Mas’ud berkata,
سَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْقِرَدَةِ وَالْخَنَازِيرِ، أَهِيَ مِنْ نَسْلِ الْيَهُودِ؟ فَقَالَ: “لَا إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَلْعَنْ قَوْمًا فَيَمْسَخُهُمْفَكَانَ لَهُمْ نَسْلٌ، وَلَكِنْ هَذَا خَلْقٌ كَانَ، فَلَمَّا غَضِبَ اللَّهُ عَلَى الْيَهُودِ فَمَسَخَهُمْ، جَعَلَهُمْ مِثْلَهُمْ”.
Kami pernah bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang kera dan babi, ‘Apakah kera dan babi yang ada sekarang merupakan keturunan dari orang-orang Yahudi ?’. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Tidak, sesungguhnya Allah sama sekali belum pernah mengutuk suatu kaum, lalu membiarkan mereka berketurunan. Tetapi kera dan babi yang ada merupakan makhluk yang telah ada sebelumnya. Dan ketika Allah murka terhadap orang-orang Yahudi, maka Dia mengutuk mereka dan menjadikan mereka seperti kera dan babi.’” (HR. Muslim)

Kal khasabi (seperti kayu).

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ
Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al-Munafiqun, 63: 4)

Ayat di atas menyebutkan tentang orang-orang munafik. Mereka memiliki penampilan yang baik, pandai berbicara, dan berlisan fasih. Perkataan mereka membuat pendengarnya akan terpesona. Padahal kenyataannya hati mereka sangat lemah, rapuh, mudah sok, penakut, dan pengecut. Kalbu mereka kosong dari iman. Mereka bagaikan kayu yang tersandar, tak ada kehidupan dalam diri mereka. Manakala terdengar seruan sebagaimana seruan di dalam kemiliteran, atau bagaikan seruan orang yang mencari barang yang hilang, mereka rasakan hal itu ditujukan kepada mereka. Demikian itu karena hati mereka sudah memendam rasa kecut dan takut terhadap hal-hal yang akan menimpa mereka yang memperbolehkan darah mereka dialirkan.

Kal hijarah (seperti batu).

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah, 2: 74)

Ayat di atas berbicara tentang watak orang-orang Yahudi. Sesudah mereka diberi petunjuk ke jalan yang benar dan mereka sudah pula memahami kebenaran itu, mereka lari darinya dan hati mereka mengeras seperti batu bahkan lebih keras lagi. Padahal sekeras apa pun batu, oleh suatu sebab dapat terbelah atau retak. Lalu memancarlah air dan kemudian berkumpul menjadi anak-anak sungai. Kadang-kadang batu-batu itu jatuh dari gunung karena patuh kepada kekuasaan Allah. Tapi, hati orang Yahudi lebih keras dari batu bagaikan tak mengenal retak sedikit pun. Hati mereka tak terpengaruh oleh ajaran-ajaran agama ataupun nasihat-nasihat yang biasanya dapat menembus hati manusia.

Kal himar (seperti keledai).

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al-Jum’ah, 62: 5)

Orang yang tidak mau mengamalkan isi kitabullah diumpamakan oleh AllahTa’ala seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Bahkan mereka lebih bodoh lagi dari keledai, karena keledai itu memang tidak mempunyai akal untuk memahaminya sedangkan mereka itu mempunyai akal tetapi tidak dipergunakanan.

Kal ‘ankabut (seperti laba-laba).

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut, 29: 41)

Orang yang berkhianat kepada Allah Ta’ala, yakni mereka yang berbuat musyrik, tak ubahnya bagaikan laba-laba yang membuat sarang, sangat rapuh dan lemah, sebab sarang laba-laba itulah ibarat dari suatu bangunan rumah yang sangat rapuh. Oleh karena itu, at-thaqah (potensi), as-sam’u (pendengaran), al-basharu(penglihatan), dan al-fuadu (hati) yang telah dianugerahkan Allah Ta’ala kepada kita harus dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh untuk menjalankan amanah, sehingga Allah Ta’ala akan memuliakan kita di dunia dan akhirat.

  1. Manusia dan Agama
Al-qur'anul karim telah mengungkapkan bahwa Allah SWT menyimpankan agama pada lubuk jiwa manusia :
Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia sesuai dengan fitrah Ar-rum : 30
Hubungan Manusia dengan Agama

Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah sebagai pencipta alam semesta. Allah sendiri yang mencipta dan memerintahkan ciptaan-Nya untuk beribadah kepada-Nya, juga menurunkan panduan agar dapat beribadah dengan benar. Panduan tersebut diturunkan Allah melalui nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya, dari Adam AS hingga Muhammad SAW. Nabi-nabi dan rasul-rasul tersebut hanya menerima Allah sebagai Tuhan mereka dan Islam sebagai panduan kehidupan mereka. Beribadah diartikan secara luas meliputi seluruh hal dalam kehidupan yang ditujukan hanya kepada Allah. Kita meyakini bahwa hanya Islamlah panduan bagi manusia menuju kebahagiaan dunia dan akherat. Islam telah mengatur berbagai perihal dalam kehidupan manusia. Islam merupakan sistem hidup, bukan sekedar agama yang mengatur ibadah ritual belaka.
Sayangnya, pada saat ini, kebanyakan kaum muslim tidak memahami hal ini. Mereka memahami ajaran Islam sebagaimana para penganut agama lain memahami ajaran agama mereka masing-masing, yakni bahwa ajaran agama hanya berlaku di tempat-tempat ibadah dan dilaksanakan secara ritual, tanpa ada aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut biasanya disebabkan karena dua hal: Pertama, terjadinya gerakan pembaruan di Eropa yang fikenal sebagai Renaissance dan Humanisme, sebagai reaksi masyarakat yang dikekang oleh kaum gereja pada masa abad pertengahan atau Dark Ages, kaum gereja mendirikan mahkamah inkuisisi yang digunakan untuk menghabisi para ilmuwan, cendikiawan, serta pembaharu. Setelah itu, pada masaRenaissance, masyarakat menilai bahwa Tuhan hanya berkuasa di gereja , sedangkan di luar itu masyarakat dan rajalah yang berkuasa. Paham dikotomis ini kemudian dibawa ke Asia melalui penjajahan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa; Kedua, masih adanya ulama-ulama yang jumud, kaku dalam menerapkan syariat-syariat Islam, tidak dapat atau tidak mau mengikuti perkembangan jaman. Padahal selama tidak melanggar Al-Qur’an dan Hadits, ajaran-ajaran Islam adalah luwes dan dapat selalu mengikuti perkembangan zaman. Akibat kejumudan tersebut, banyak kalangan masyrakat yang merasa takut atau kesulitan dalam menerapkan syariat-syariat Islam dan menilainya tidak aplikatif. Ini membuat masyarakat semakin jauh dari syariat Islam.
Paham dikotomis melalui sekularisme tersebut antara lain dipengaruhi terutama oleh pemikiran August Comte melalui bukunya Course de la Philosophie Positive (1842) mengemukakan bahwa sepanjang sejarah pemikiran manusia berkembang melalui tiga tahap: (1) tahap teologik, (2) tahap metafisik, dan (3) tahap positif; pemikiran tersebut melahirkan filsafat positivisme yang mempengaruhi ilmu pengetahuan sosial dan humaniora, melalui sekularisme. Namun teori tersebut tidaklah benar, sebab perkembangan pemikiran manusia tidaklah demikian, seperti pada zaman modern ini (tahap ketiga), manusia masih tetap percaya pada Tuhan dan metafisika, bahkan kembali kepada spiritualisme.
Sejarah umat manusia di barat menunjukkan bahwa dengan mengenyampingkan agama dan mengutamakan ilmu dan akal manusia semata-mata telah membawa krisis dan malapetaka. Atas pengalamannya tersebut, kini perhatian manusia kembali kepada agama, karena: (1) Ilmuwan yang selama ini meninggalkan agama, kembali pada agama sebagai pegangan hidup yang sesungguhnya, dan (2) harapan manusia pada otak manusia untuk memecahkan segala masalah di masa lalu tidak terwujud.
Kemajuan ilmu pengetahuan telah membawa manusia pada tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi, namun dampak negatifnya juga cukup besar berpengaruh pada kehidupan manusia secara keseluruhan. Sehingga untuk dapat mengendalikan hal tersebut diperlukan agama, untuk diarahkan untuk keselamatan dan kebahagiaan umat manusia.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa agama sangat diperlukan oleh manusia sebagai pegangan hidup sehingga ilmu dapat menjadi lebih bermakna, yang dalam hal ini adalah Islam. Agama Islam adalah agama yang selalu mendorong manusia untuk mempergunakan akalnya memahami ayat-ayat kauniyah (Sunnatullah) yang terbentang di alam semesta dan ayat-ayat qur’aniyah yang terdapat dalam Al-Qur’an, menyeimbangkan antara dunia dan akherat. Dengan ilmu kehidupan manusia akan bermutu, dengan agama kehidupan manusia akan lebih bermakna, dengan ilmu dan agama kehidupan manusia akan sempurna dan bahagia.

  1. Kebutuhan Manusia terhadap Agama

Manusia dalam kehidupannya mempunyai kebutuhan yang banyak sekali. Adanya kebutuhan hidup inilah yang mendorong manusia untuk melakukan berbagai tindakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan ter-sebut. Begitu pula kebutuhan manusia terhadap agama. Dari sudut pan-dang kebahasaan, “agama” berasal dari bahasa Sansakerta yang artinya “tidak kacau”. Agama diambil dari dua akar suku kata, yaitu a yang berarti “tidak” dan gama yang berarti “kacau”. Hal ini mengandung pe-ngertian bahwa agama adalah suatu peraturan yang mengatur kehidupan manusia agar tidak kacau. Dalam bahasa Arab, istilah agama disebut “dīn”, berarti “ajaran tentang ketaatan absolut (kepada Tuhan, Allah)”, pemahaman ini benar-benar sesuai dengan konsep “Islam”, yang berarti “ Manusia dan Agama. ketundukan penuh (kepada Tuhan)”. Menurut para salaf al- shālih se-bagaimana yang dikutip oleh Atiqullah, agama adalah suatu keimanan manusia akan adanya Allah Swt yang ditetapkan kebenarannya melalui perasaan iman (qalb), diucapkan dengan kata-kata (lisan), dan melak-sanakan dengan perbuatan.

Dalam pandangan positivism atau materialism, jika sains dan tek-nologi sudah maju, masyarakat tidak membutuhkan agama lagi sebab semua kebutuhan dan keinginan mereka sudah terpenuhi oleh sains dan teknologi. Sepintas pernyataan tersebut ada benarnya, tetapi ketika dire-nungkan lebih dalam timbul persoalan. Apakah keinginan manusia betul-betul mampu dipenuhi oleh sains dan teknologi? Bagaimana ia mampu memenuhi keinginan yang tidak terbatas, seperti dia tidak ingin mati. Apakah teknologi yang sangat canggih itu mampu mengatasi persoalan tersebut? Kalau memang ada teknologi yang mampu mengatasi persoalan tersebut akan dipastikan semua orang akan menganut faham ini. Ternyata pandangan materialism tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan ka-rena alur pikirannya tidak logis. Kebanyakan ahli studi keagamaan sepakat bahwa agama sebagai sumber nilai, sumber etika, dan pandangan hidup yang dapat diperankan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi perlunya manusia terhadap agama. Alasan-alasan tersebut secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. Fitrah beragama
Fitrah ini merupakan potensi bawaan yang memberikan kemam-puan kepada manusia untuk selalu tunduk, taat melaksanakan perintah Tuhan sebagai pencipta, penguasa dan pemelihara alam semesta. Dalam al-Qur‟an dinyatakan bahwa fitrah beragama sudah tertanam ke dalam jiwa manusia semenjak dari alam arwah dahulu, yaitu sewaktu ruh manusia belum ditiupkan oleh Allah ke dalam jasmaninya. Pada waktu itu, Allah bertanya kepada ruh-ruh manusia: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” kemudian ruh-ruh manusia itu menjawab: ”Benar, kami telah menyaksikan.”
Hubungan manusia dan agama tampaknya merupakan hubungan yang bersifat kodrati. Agama itu sendiri menyatu dalam fitrah pencip-taan manusia. Terwujud dalam bentuk ketundukan, kerinduan ibadah, serta sifat-sifat luhur. Manakala dalam menjalankan kehidupannya, manusia menyimpang dari nilai-nilai fitrahnya, maka secara psikologis ia akan merasa adanya semacam “hukuman moral”. Lalu spontan akan muncul rasa bersalah atau rasa berdosa.

  1. Kemampuan manusia terbatas

Dalam masyarakat sederhana banyak peristiwa yang terjadi dan berlangsung di sekitar manusia dan di dalam manusia, tetapi tidak dipahami oleh mereka yang tidak dipahami itu dimasukkan ke dalam kategori ghaib. Karena banyak hal atau peristiwa ghaib ini menurut pendapat mereka, mereka merasakan hidup dan kehidupan penuh de-ngan keghaiban. Menghadapi peristiwa ghaib ini mereka merasa lemah tidak berdaya. Untuk menguatkan diri, mereka mencari perlindungan pada kekuatan yang menurut mereka menguasai alam ghaib yaitu Dewa atau Tuhan. Atas dasar itulah, manusia sangat memerlukan agama. Karena dengan agama manusia dapat mengetahui dan mema-hami sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh akal pikiran yang dimiliki manusia. Karena di samping manusia memiliki berbagai kesempurnaan manusia juga memiliki kekurangan.

  1. Tantangan Manusia Beragama
Manusia dalam kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Pertama, tan-tangan dari dalam dapat berupa dorongan hawa nafsu dan bisikan setan. Mengacu pada latar belakang sejarah penciptaannya, tampaknya manusia selaku banī ādam, memang termasuk makhluk yang bermasalah. Banī ādam memiliki peluang untuk digoda setan. Karena itu, selaku makhluk yang diciptakan untuk jadi “khalifah”, maka manusia selalu diperingatkan oleh Allah agar selalu berhati-hati terhadap godaan setan.55 Setan selalu ada, siap untuk menggodanya agar melakukan kejahatan yang akan mem-buatnya gagal dalam cobaan. Dalam cerita Adam dan setan, al-Qur‟an menceritakan bahwa iblis meminta kepada Allah untuk ditangguhkan siksanya sampai waktu mereka dibangkitkan. Dalam waktu penangguhan inilah setan akan menjerumuskan manusia untuk berpaling dari jalan yang lurus dan mendatangi manusia dari depan, belakang, kiri dan kanan se-hingga kebanyakan dari mereka tidak bersyukur.

Menurut Fazlurrahman, kehidupan manusia adalah “suatu perju-angan moral yang tiada henti”. Jika dia mengabaikan perjuangan ini se-saat saja, dia dapat dengan mudah terperangkap oleh setan. Hal ini ka-rena manusia sebagai makhluk biologis yang berasal dari tanah dia cende-rung terbujuk oleh godaan kehidupan keduniaan dan mengikutinya. Kehidupan spiritual adalah sesuatu yang sulit baginya, dan dia harus mengatasi daya tarik nafsu dan godaan-godaan duniawi yang lain.

Kedua, tantangan dari luar dapat berupa rekayasa dan upaya-upaya yang dilakukan manusia yang secara sengaja berupaya ingin me-malingkan manusia dari Tuhan. Mereka dengan rela mengeluarkan biaya, tenaga, dan pikiran yang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk ke-budayaan yang di dalamnya mengandung misi menjauhkan manusia dari Tuhan. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur‟an yang artinya “Sesung-guhnya orang-orang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk meng-halangi (orang) dari jalan Allah”. (Qs. Al-Anfal : 36)
Orang-orang kafir itu sengaja mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mereka gunakan agar orang mengikuti keinginannya. Ber-bagai bentuk budaya, hiburan, obat-obat terlarang dan lain sebagainya di-buat dengan sengaja. Untuk itu, upaya mengatasi dan membentengi ma-nusia adalah dengan mengajar mereka agar taat menjalankan agama. Godaan dan tantangan hidup demikian itu, saat ini semakin meningkat, sehingga upaya meningkatkan perilaku keberagamaan masyarakat men-jadi penting.










1 Kamus Besar Bahasa Indonesia
2 QS. at-thariq : 5-7

3 QS. Al-hijr 29
4 QS. As-sajadah : 9
5 QS. shad : 27
6 QS : asyyu'ara : 193
7 QS : Al-mujadalah : 22
8 QS. Yusuf :53
9 QS. Al-Fajr : 27-30 .
10 QS. Nuh: 14
11 QS. Al-Mulk, 67: 23
12 QS. An-Nahl, 16: 78

13 QS. Adz-Dzariyat, 51: 56

Tidak ada komentar:

Posting Komentar