-
Peristiwa-peristiwa yang Melatarbelakangi Lepasnya Timor Timur dari
Wilayah
NKRI
-
Integrasi Timor Timur 1976
Pada
tahun 1975, ketika terjadi Revolusi
Bunga di Portugal dan Gubernur terakhir Portugal di Timor Leste,
Lemos Pires, tidak mendapatkan jawaban dari Pemerintah Pusat di
Portugal untuk mengirimkan bala bantuan ke Timor Leste yang sedang
terjadi perang saudara, maka Lemos Pires memerintahkan untuk menarik
tentara Portugis yang sedang bertahan di Timor Leste untuk
mengevakuasi ke Pulau Kambing atau dikenal dengan Pulau Atauro.
Setelah itu FRETILIN menurunkan
bendera Portugal dan mendeklarasikan Timor Leste sebagai
Republik Demokratik
Timor Leste pada tanggal 28 November 1975. Menurut suatu laporan
resmi dari PBB, selama berkuasa selama 3 bulan ketika terjadi
kevakuman pemerintahan di Timor Leste antara bulan September, Oktober
dan November, Fretilin melakukan pembantaian terhadap sekitar 60.000
penduduk sipil (sebagian besarnya wanita dan anak2 karena para suami
mereka adalah pendukung faksi integrasi dengan Indonesia).
Berdasarkan itulah, kelompok pro-integrasi kemudian mendeklarasikan
integrasi dengan Indonesia pada 30 November 1975 dan kemudian meminta
dukungan Indonesia untuk mengambil alih Timor Leste dari kekuasaan
FRETILIN yang berhaluan Komunis.
Tiga
Kuburan Masal sebagai bukti pembantaian FRETILIN terhadap pendukung
integrasi terdapat di Kabupaten Aileu (bagian tengah Timor Leste),
masing-masing terletak di daerah Saboria, Manutane dan Aisirimoun.
Ketika pasukan Indonesia mendarat di Timor Leste pada tanggal 7
Desember 1975, FRETILIN memaksa ribuan rakyat untuk mengungsi ke
daerah pegunungan untuk dijadikan tameng hidup atau perisai hidup
(human shields) untuk melawan tentara Indonesia. Lebih dari 200.000
orang dari penduduk ini kemudian mati di hutan karena penyakit dan
kelaparan. Selain terjadinya korban penduduk sipil di hutan, terjadi
juga pembantaian oleh kelompok radikal FRETILIN di hutan terhadap
kelompok yang lebih moderat. Sehingga banyak juga tokoh-tokoh
FRETILIN yang dibunuh oleh sesama FRETILIN selama di Hutan. Semua
cerita ini dikisahkan kembali oleh orang-orang seperti Francisco
Xavier do Amaral, Presiden Pertama Timor Leste yang mendeklarasikan
kemerdekaan Timor Leste pada tahun 1975. Seandainya Jenderal Wiranto
(pada waktu itu Letnan) tidak menyelamatkan Xavier di lubang tempat
dia dipenjarakan oleh FRETILIN di hutan, maka mungkin Xavier tidak
bisa lagi jadi Ketua Partai ASDT di Timor Leste sekarang.
Selain
Xavier, ada juga komandan sektor FRETILIN bernama Aquiles yang
dinyatakan hilang di hutan (kemungkinan besar dibunuh oleh kelompok
radikal FRETILIN). Istri komandan Aquilis sekarang ada di Baucau dan
masih terus menanyakan kepada para komandan FRETILIN lain yang
memegang kendali di sektor Timur pada waktu itu tentang keberakaan
suaminya. Hal yang sama juga dilakukan oleh kelompok pro-kemerdekaan
terhadap tentara Indonesia tentang keberadaan komandan Konis Santana
dan Mauhudu yang dinyatakan hilang di tangan tentara Indonesia.
Selama perang saudara di Timor Leste dalam kurun waktu 3 bulan
(September-November 1975) dan selama pendudukan Indonesia selama 24
tahun (1975-1999), lebih dari 200.000 orang dinyatakan meninggal
(60.000 orang secara resmi mati di tangan FRETILN menurut laporan
resmi PBB). Selebihnya tidak diketahui apakah semuanya mati kelaparan
atau mati di tangan tentara Indonesia. Hasil CAVR menyatakan 183.000
mati di tangan tentara Indonesia karena keracunan bahan kimia (tidak
dirinci bagaimana caranya), namun sejarah akan menentukan kebenaran
ini, karena keluarga yang sanak saudaranya meninggal di hutan tidak
bisa tinggal diam dan kebenaran akan terungkap apakah benar tentara
Indonesia yang membunuh sejumlah jiwa ini ataukah sebaliknya. Situasi
aktual di Timor Leste akhir-akhir ini adalah cerminan ketidak puasan
rakyat bahwa rakyat tidak bisa hidup hanya dari propaganda tapi dari
roti dan air. Rakyat tidak bisa hidup dari “makan batu”
sebagaimana dipropagandakan FRETILIN selama kampanye Jajak Pendapat
tahun 1999 “Lebih baik makan batu tapi merdeka, dari pada makan
nasi tapi dengan todongan senjata”. Kenyataan membuktikan bahwa
“batu tidak bisa dimakan”, dan rakyat perlu makanan yang layak
dimakan manusia.
-
Insiden Santa Cruz 1992
Benedict
Anderson dalam Nasionalisme, Asia Tenggara, dan Dunia (2002)
mengatakan, lubang hitam dalam sejarah Indonesia di pulau kecil
sebelah utara lepas pantai Australia itu cenderung ditutup-tutupi,
termasuk jumlah penduduk Timor Timur yang tewas akibat kelaparan,
wabah, dan pertempuran 1977-1979. Padahal, menurut Peter Carey
(1995), jumlahnya melebihi angka kematian penduduk Kamboja dibawah
Pol Pot. Fakta sejarah ini amat jarang diberitakan media
Indonesia. Kalaupun ada, media yang memberitakan niscaya akan menemui
ajal. Majalah Jakarta-Jakarta, sebagai salah satu media populer,
misalnya, menjadi korban pemberitaan tentang Timor Timur tahun 1992.
Namun,
meski media dimatikan, cerita yang berkisah tentang Insiden Dili, 12
November 1991, masih terbaca sebagai cerpen. Pelajaran Sejarah (Seno
Gumira Ajidarma, Saksi Mata, Penerbit Bentang, 1994) yang menjadi
fiksi dari peristiwa Santa Cruz itu ditulis oleh wartawan dari media
yang terkena “pembredelan” pemerintah saat itu. Bagi sang
wartawan, cerpen atau fiksi merupakan cara lain untuk menyajikan
berita atau fakta sejarah yang sengaja disembunyikan, bahkan
dihilangkan. Maka, sejarah bukan sekadar catatan penyebab kejadian
pada masa lalu, tetapi juga demi menyiapkan akibat selanjutnya pada
masa kini.
Insiden
Santa Cruz (juga dikenal sebagai Pembantaian Santa Cruz) adalah
penembakan pemrotes Timor Timur di kuburan Santa Cruz di ibu kota
Dili pada 12 November 1991. Para pemrotes, kebanyakan mahasiswa,
mengadakan aksi protes mereka terhadap pemerintahan Indonesia pada
penguburan rekan mereka, Sebastião Gomes, yang ditembak mati oleh
pasukan Indonesia sebulan sebelumnya. Para mahasiswa telah
mengantisipasi kedatangan delegasi parlemen dari Portugal, yang masih
diakui oleh PBB secara legal sebagai penguasa administrasi Timor
Timur. Rencana ini dibatalkan setelah Jakarta keberatan karena
hadirnya Jill Joleffe sebagai anggota delegasi itu. Joleffe adalah
seorang wartawan Australia yang dipandang mendukung gerakan
kemerdekaan Fretilin.
Dalam
prosesi pemakaman, para mahasiswa menggelar spanduk untuk penentuan
nasib sendiri dan kemerdekaan, menampilkan gambar pemimpin
kemerdekaan Xanana Gusmao. Pada saat prosesi tersebut memasuki
kuburan, pasukan Indonesia mulai menembak. Dari orang-orang yang
berdemonstrasi di kuburan, 271 tewas, 382 terluka, dan 250
menghilang. Salah satu yang meninggal adalah seorang warga Selandia
Baru, Kamal Bamadhaj, seorang pelajar ilmu politik dan aktivis HAM
berbasis di Australia.
Pembantaian
ini disaksikan oleh dua jurnalis Amerika Serikat; Amy Goodman dan
Allan Nairn; dan terekam dalam pita video oleh Max Stahl, yang
diam-diam membuat rekaman untuk Yorkshire Television di Britania
Raya. Para juru kamera berhasil menyelundupkan pita video tersebut ke
Australia. Mereka memberikannya kepada seorang wanita Belanda untuk
menghindari penangkapan dan penyitaan oleh pihak berwenang Australia,
yang telah diinformasikan oleh pihak Indonesia dan melakukan
penggeledahan bugil terhadap para juru kamera itu ketika mereka tiba
di Darwin. Video tersebut digunakan dalam dokumenter First
Tuesday berjudul In
Cold Blood: The Massacre of East Timor,
ditayangkan di ITV di Britania pada Januari 1992.
Tayangan
tersebut kemudian disiarkan ke seluruh dunia, hingga sangat
mempermalukan pemerintahan Indonesia. Di Portugal dan Australia, yang
keduanya memiliki komunitas Timor Timur yang cukup besar, terjadi
protes keras. Banyak rakyat Portugal yang menyesali keputusan
pemerintah mereka yang praktis telah meninggalkan bekas koloni mereka
pada 1975. Mereka terharu oleh siaran yang melukiskan orang-orang
yang berseru-seru dan berdoa dalam bahasa Portugis. Demikian pula,
banyak orang Australia yang merasa malu karena dukungan pemerintah
mereka terhadap rezim Soeharto yang menindas di Indonesia, dan apa
yang mereka lihat sebagai pengkhianatan bagi bangsa Timor Timur yang
pernah berjuang bersama pasukan Australia melawan Jepang pada Perang
Dunia II.
Meskipun
hal ini menyebabkan pemerintah Portugal meningkatkan kampanye
diplomatik mereka, bagi pemerintah Australia, pembunuhan ini, dalam
kata-kata menteri luar negeri Gareth Evans, merupakan ‘suatu
penyimpangan’. Pembantaian ini (yang secara halus disebut Insiden
Dili oleh pemerintah Indonesia) disamakan dengan Pembantaian
Sharpeville di Afrika Selatan pada 1960, yang menyebabkan penembakan
mati sejumlah demonstran yang tidak bersenjata, dan yang menyebabkan
rezim apartheid mendapatkan kutukan internasional.
-
Faktor Penyebab Lepasnya Timor-Timur dari Wilayah NKRI
-
Tidak terpenuhinya hak-hak dasar rakyat seperti kesejahteraan, keadilan,keamanan, pendidikan, dan kesehatan. Belum lagi minimnya sarana pendidikan, kesehatan, maupun transportasi di sana. Perkara inilah yang membuat saudara-saudara kita di timor timur tertarik dengan ide kemerdekaan.
-
Lemahnya kesadaran politik masyarakat. Ide-ide disintegrasi yang dimainkan oleh asing gampang diterima masyarakat, padahal disintegrasi merupakan alat permainan negara-negara kapitalis penjajah. Yang diuntungkan dari disintegrasi adalah negara-negara penjajah. Karena itu, meminta bantuan kepada negara-negara kapitalis penjajah sesungguhnya bukanlah solusi, tetapi justru akan menimbulkan penderitaan.baru.
-
Upaya Pemerintah dalam Rangka Mempertahankan Timor Timur
-
Otonomi luas yang diberikan pada timor timur
-
Kebebasan berupa jejak pendapat bagi masyarakat timor timur untuk memilih tetap menjadi bagian indonesia ataukah memisahkan diri dan merdeka
-
Kebijakan presiden B.J. Habibiedengan memberikan opsi referendum untuk mencapai solusi final atas masalah timor timur
Munculnya
tekanan-tekanan dari masyarakat internasional menanggapi kasus-kasus
yang terjadi di timor timur itu memaksa Indonesia untuk mengeluarkan
kebijakan guna mengakomodasi aspirasi masyarakat Timor Timur. Tekanan
ini juga mendorong Pemerintah Indonesia untuk membahas masalah ini ke
tingkat internasional. Akhirnya, pada Juni 1998, Pemerintah Indonesia
memutuskan untuk memberikan status khusus berupa otonomi luas kepada
Timor Timur. Usulan Indonesia itu disampaikan kepada Sekjen PBB.
Sebagai tindak lanjutnya, PBB pun mengadakan pembicaraan segitiga
antara Indonesia, Portugal, dan PBB. Selama pembicaraan ini, masih
terjadi kerusuhan antara pihak pro kemerdekaan dan pro integrasi di
Timor Timur. Kerusuhan ini semakin manambah kecaman dari dari
masyarakat internasional, khusunya dari negara-negara Barat, yang
merupakan sasaran utama speech
act dalam
usaha sekuritisasi kasus Timor Timur.
Berangkat
dari pembicaraan tiga pihak serta kecaman yang semakin keras dari
dunia internasional, Indonesia memutuskan untuk melaksanakan jajak
pendapat rakyat Timor Timur dilakukan secara langsung. Menanggapi
keputusan Indonesia tersebut, pihak-pihak yang berada dalam
pembicaraan segitiga di atas menyepakati Persetujuan New York yang
mencakup masalah teknis dan substansi jajak pendapat. Jajak pendapat
pun berakhir dengan kemenangan di pihak pro kemerdekaan Timor Timur.
Dengan kemenangannya ini, Timor Timur meraih kedaulatan sebagai
sebuah negara.Kedaulatan negara merupakan satu hal yang selama ini
dikejar oleh pihak Timor Timur. berbagai pelanggaran HAM yang
dilakukan oleh Indonesia, yang dibuktikan oleh Peristiwa Santa Cruz
menjadi batu loncatan bagi usaha sekuritisasi perjuangan meraih
kembali kedaulatan Timor Timur.
Kunci
dari berhasilnya perjuangan meraih kemerdekaan Timor Timur adalah
dukungan internasional. Oleh karena itu sekuritisasi menjadi hal yang
sangat penting untuk dilakukan oleh Timor Timur. Berbagaispeech
act telah
dilakukan oleh securitizing
actor untuk
meraih dukungan internasional. Usaha sekuritisasi ini mencapai
keberhasilannya tidak hanya saat Timor Timur merdeka dari Indonesia,
namun juga saat sejumlah negara mulai mendukung perjuangan
kemerdekaan Timor Timur.
Pada
HUT ke-10 The Habibie Center, mantan Presiden BJ Habibie menyatakan
Timor Leste tidak pernah masuk Proklamasi RI. Alasannya, karena yang
diproklamasikan adalah Hindia Belanda (Kompas, 9/11/2009). Pernyataan
ini patut pula kita salami karena terkait masa lalu Indonesia
yang secara historis banyak menyimpan anakronisme yang menyamarkan
beragam fakta. Timor Leste adalah contoh. Semula negeri itu dianggap
berintegrasi ke NKRI sebagai Timor Timur. Ternyata bekas koloni
Portugis itu dianeksasi melalui semacam invasi militer tahun 1975.
Dinamika
politik dalam negeri Indonesia telah berubah secara dramatis dengan
jatuhnya Pemerintahan mantan Presiden Soeharto. Di bulan Januari
1999, diumumkan bahwa Indonesia akan menawarkan otonomi kepada Timor
Timur. Jika rakyat Timor Timur menolak tawaran ini, maka Indonesia
akan menerima pemisahan diri Timor Timur dari Republik Indonesia.
Pada tanggal 5 Mei 1999, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Indonesia
dan Portugis menandatangani Perjanjian Tripartit yang menyatakan
bahwa PBB akan menyelenggarakan jajak pendapat di Timor-Timur. Rakyat
diminta memilih apakah Timor Timur tetap menjadi bagian dari
Indonesia ataukah Timor Timur menjadi negara merdeka. Habibie
mengeluarkan pernyataan pertama mengenai isu Timor Timur pada bulan
Juni 1998 dimana ia mengajukan tawaran untuk pemberlakuan otonomi
seluas-luasnya untuk provinsi Timor Timur. Proposal ini, oleh
masyarakat internasional, dilihat sebagai pendekatan baru.
Di
akhir 1998, Habibie mengeluarkan kebijakan yang jauh lebih radikal
dengan menyatakan bahwa Indonesia akan memberi opsi referendum untuk
mencapai solusi final atas masalah Timor Timur.
Beberapa
pihak meyakini bahwa keputusan radikal itu merupakan akibat dari
surat yang dikirim Perdana Menteri Australia John Howard pada bulan
Desember 1998 kepada Habibie yang menyebabkan Habibie meninggalkan
opsi otonomi luas dan memberi jalan bagi referendum. Akan tetapi,
pihak Australia menegaskan bahwa surat tersebut hanya berisi dorongan
agar Indonesia mengakui hak menentukan nasib sendiri (right
of self-determination)
bagi masyarakat Timor Timur. Namun, Australia menyarankan bahwa hal
tersebut dijalankan sebagaimana yang dilakukan di Kaledonia Baru
dimana referendum baru dijalankan setelah dilaksanakannya otonomi
luas selama beberapa tahun lamanya. Karena itu, keputusan berpindah
dari opsi otonomi luas ke referendum merupakan keputusan pemerintahan
Habibie sendiri.
Aksi
kekerasan yang terjadi sebelum dan setelah referendum kemudian
memojokkan pemerintahan Habibie. Legitimasi domestiknya semakin
tergerus karena beberapa hal. Pertama, Habibie dianggap tidak
mempunyai hak konstitusional untuk memberi opsi referendum di Timor
Timur karena ia dianggap sebagai presiden transisional. Kedua,
kebijakan Habibie dalam isu Timor Timur merusakan hubungan saling
ketergantungan antara dirinya dan Jenderal Wiranto, panglima TNI pada
masa itu. Di hari-hari jatuhnya Suharto dari kursi kepresidenannya,
Jenderal Wiranto dilaporkan bersedia mendukung Habibie dengan syarat
Habibie mengamankan posisinya sebagai Panglima TNI. Sementara itu,
Habibie meminta Wiranto mendukung pencalonan Akbar Tanjung sebagai
Ketua Golkar pada bulan Juli 1998. Hal ini cukup sulit bagi Wiranto
karena calon lain dalam Kongres Partai Golkar adalah Edi Sudrajat
yang didukung oleh Try Sutrisno, kesemuanya adalah mantan senior
Jenderal Wiranto. Namun Wiranto tidak memiliki pilihan lain dan
menginstruksikan semua pimpinan TNI di daerah untuk mendorong semua
ketua Golkar di daerah untuk memilih Akbar Tanjung Habibie
kehilangan legitimasi baik dimata masyarakat internasional maupun
domestik. Di mata internasional, ia dinilai gagal mengontrol TNI,
yang dalam pernyataan-pernyataannya mendukung langkah presiden
Habibie menawarkan refendum, namun di lapangan mendukung milisi pro
integrasi yang berujung pada tindakan kekerasan di Timor Timur
setelah referendum.
Di
mata publik domestik, Habibie juga harus menghadapi menguatnya
sentimen nasionalis, terutama ketika akhirnya pasukan penjaga
perdamaian yang dipimpin Australia masuk ke Timor Timur. Sebagai
akibatnya, peluang Habibie untuk memenangi pemilihan presiden pada
bulan September 1999 hilang. Sebaliknya, citra TNI sebagai penjaga
kedaulatan territorial kembali menguat. Padahal sebelumnya peran
politik TNI menjadi sasaran kritik kekuatan pro demokrasi segera
setelah jatuhnya Suharto pada bulan Mei 1998.
Tanggal
30 Agustus merupakan tanggal yang sangat sakral dalam dinamika
perpolitikan Negara yang seumur jagung ini. Pada hari itu diadakan
jajak pendapat di Timor Leste (pada saat itu masih bernama Timor
Timur). Jajak pendapat inilah yang nantinya berujung pada kemerdekaan
(bekas) provinsiTimor Timur ini. Pada akhirnya, hasil jajak pendapat
tersebutlah yang dapat menjawab nasib rakyat Timor Leste selanjutnya.
Sebagian besar rakyat Timor Timur lebih memilih untuk merdeka
(78.5%). Pengumuman hasil pemilihan umum tersebut diikuti dengan
kekerasan yang meluas oleh unsur-unsur pro-integrasi.
Seperti
yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa pada akhirnya, pasukan
Australia lah yang menjadi pahlawan dalam kasus ini. Australia telah
memperhitungkan semua ini secara cermat dan tepat. Australia
memainkan peranan pokok dalam memobilisasi tanggapan internasional
terhadap krisis kemanusiaan yang membayang nyata. Pasukan penjaga
perdamaian yang dipimpin Australia masuk ke Timor Timur. Jakarta
menyetujui keterlibatan angkatan internasional pemilihara keamanan di
kawasan ini. Australia diminta oleh PBB untuk memimpin angkatan
tersebut, dan menerima tugas ini. Kekuatan internasional di Timor
Timur atau International
Force in East Timor (disingkat
INTERFET) telah berhasil dikirim ke Timor Timur dan menjalankan
tugasnya untuk mengembalikan perdamaian dan keamanan di kawasan
tersebut. Pada tanggal 20 Oktober, Majelis Permusyawaratan Rakyat
(MPR) mencabut keputusan penyatuan Timor Timur dengan Indonesia.
Terkait
hal ini, SBY pernah menyatakan bahwa hasil jajak pendapat di Timor
Timur pada 1999, merupakan buah dari reformasi di Indonesia.
Sebagaimana negara Indonesia mengakui Timor Leste yang merdeka, MPR
saat itu pada 1999 mengakui hasil jajak pendapat tersebut.
Sejak
awal 2000, kedua pemerintahan pemerintahan mencari pemecahan masa
lalu, yang terjadi menjelang, selama, dan segera setelah jajak
pendapat. Pertama melalui pendekatan hukum dan cara kedua melalui
pendekatan kebenaran dan persahabatan yang tidak berujung pada
peradilan. Kedua pemerintahan sepakat untuk menempuh yang kedua
melalui Komisi Kebenaran dan Persahabatan. Juga harus diketahui,
adalah presiden, waktu itu Menteri Luar Negeri Horta dan Xanana, yang
menganjurkan kepada pemerintah Indonesia memilih kata persahabatan
karena rekonsiliasi sesungguhnya telah terjadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar