Jumat, 05 Oktober 2018

TARJAMAH HAL 6-7 (Book : An Introduction Of Islam )


1. Keesaan Tuhan

Kepercayaan islam adalah bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah SWT dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah ( Laa ilaa ha illallah- Muhammadur Rosulullah )
Muslim percaya bahwa Allah itu Maha Esa. Ia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dia tidak berpasangan. Dia yang memulai dan Dia yang mengakhiri. Dia maha mengetahui dan Dia Ada dimana-mana.
Alqur’an mengatakan bahwa dia lebih dekat terhadap manusia dibanding urat nadi, namun Dia tidak bisa dijangkau oleh kecerdasan manusia.
Dalam Alqur’an Allah SWT berfirman :
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Maka ke mana pun kalian menghadap, di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Qs. Albaqarah :115)


وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Qs. Albaqarah : 163)
اللّٰهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَۚ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ.ۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْأَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗ إِلَّا بِإِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖ إِلَّا بِمَا شَاءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضَۚ وَلَا يَئُوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang Terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apapun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya-* meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar. (Qs.Albaqarah : 255)

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ 

Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri.Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.( Qs.Al-An’am :101)

فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِم بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَآئِبِينَ

maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka). (Qs.Al-A’raf :7)
مَا ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ مِن وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُۥ مِنْ إِلَٰهٍ ۚ إِذًا لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهٍۭ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ سُبْحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ
Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu, (QS.Al-Mu’minun : 91)
عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Yang mengetahui semua yang ghaib dan semua yang nampak, maka Maha Tinggilah Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Al-Mu’minun :92)
إِنَّ إِلَٰهَكُمْ لَوَٰاحِدٌ
Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa. (QS. As-Saffat :4)
رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ ٱلْمَشَٰرِقِ
Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbit matahari. (QS. As-Saffat :5)
قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ مُنذِرٌ ۖ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا ٱللَّهُ ٱلْوَٰحِدُ ٱلْقَهَّارُ
Katakanlah (ya Muhammad): "Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan. (QS. Sad :65)
أَنتُمْ عَنْهُ مُعْرِضُونَ
yang kamu berpaling daripadanya. (QS. Sad :68)
قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ
Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. (QS. Al-Ikhlas :1)
ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (QS. Al-Ikhlas :2)
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, (QS. Al-Ikhlas :3)
وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ
dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". (QS. Al-Ikhlas :4)


Imam Ali berdoa :
Yaa Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu dengan namaMu. Dengan menyebut Nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Wahai pemilik keagungan dan kemegahan. Yang maha hidup , Yang terus-menerus mengurus MakhlukNya, Yang Maha Abadi, Tidak ada Tuhan selain Engkau. Oh .Dia tidak ada yang tahu siapa Dia, atau Bagaimana Dia, atau dimana Dia, atau dalam hal apa Dia itu, dan Tetapi, kita tahu itu Dia”


2. Keadilan Tuhan
Allah SWT berfirman dalam Alqur’an :
أَلَيْسَ ٱللَّهُ بِأَحْكَمِ ٱلْحَٰكِمِينَ
Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya? (QS. At-Tin : 8)
وَنَضَعُ ٱلْمَوَٰزِينَ ٱلْقِسْطَ لِيَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا ۖ وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَٰسِبِينَ
Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. (QS. Al-Anbiya :47)


Selasa, 04 September 2018

Lepasnya Timor Timur (Timur Leste)


  1. Peristiwa-peristiwa yang Melatarbelakangi Lepasnya Timor Timur dari
Wilayah NKRI
  1. Integrasi Timor Timur 1976
Pada tahun 1975, ketika terjadi Revolusi Bunga di Portugal dan Gubernur terakhir Portugal di Timor Leste, Lemos Pires, tidak mendapatkan jawaban dari Pemerintah Pusat di Portugal untuk mengirimkan bala bantuan ke Timor Leste yang sedang terjadi perang saudara, maka Lemos Pires memerintahkan untuk menarik tentara Portugis yang sedang bertahan di Timor Leste untuk mengevakuasi ke Pulau Kambing atau dikenal dengan Pulau Atauro. Setelah itu FRETILIN menurunkan bendera Portugal dan mendeklarasikan Timor Leste sebagai Republik Demokratik Timor Leste pada tanggal 28 November 1975. Menurut suatu laporan resmi dari PBB, selama berkuasa selama 3 bulan ketika terjadi kevakuman pemerintahan di Timor Leste antara bulan September, Oktober dan November, Fretilin melakukan pembantaian terhadap sekitar 60.000 penduduk sipil (sebagian besarnya wanita dan anak2 karena para suami mereka adalah pendukung faksi integrasi dengan Indonesia). Berdasarkan itulah, kelompok pro-integrasi kemudian mendeklarasikan integrasi dengan Indonesia pada 30 November 1975 dan kemudian meminta dukungan Indonesia untuk mengambil alih Timor Leste dari kekuasaan FRETILIN yang berhaluan Komunis.

Tiga Kuburan Masal sebagai bukti pembantaian FRETILIN terhadap pendukung integrasi terdapat di Kabupaten Aileu (bagian tengah Timor Leste), masing-masing terletak di daerah Saboria, Manutane dan Aisirimoun. Ketika pasukan Indonesia mendarat di Timor Leste pada tanggal 7 Desember 1975, FRETILIN memaksa ribuan rakyat untuk mengungsi ke daerah pegunungan untuk dijadikan tameng hidup atau perisai hidup (human shields) untuk melawan tentara Indonesia. Lebih dari 200.000 orang dari penduduk ini kemudian mati di hutan karena penyakit dan kelaparan. Selain terjadinya korban penduduk sipil di hutan, terjadi juga pembantaian oleh kelompok radikal FRETILIN di hutan terhadap kelompok yang lebih moderat. Sehingga banyak juga tokoh-tokoh FRETILIN yang dibunuh oleh sesama FRETILIN selama di Hutan. Semua cerita ini dikisahkan kembali oleh orang-orang seperti Francisco Xavier do Amaral, Presiden Pertama Timor Leste yang mendeklarasikan kemerdekaan Timor Leste pada tahun 1975. Seandainya Jenderal Wiranto (pada waktu itu Letnan) tidak menyelamatkan Xavier di lubang tempat dia dipenjarakan oleh FRETILIN di hutan, maka mungkin Xavier tidak bisa lagi jadi Ketua Partai ASDT di Timor Leste sekarang.



Selain Xavier, ada juga komandan sektor FRETILIN bernama Aquiles yang dinyatakan hilang di hutan (kemungkinan besar dibunuh oleh kelompok radikal FRETILIN). Istri komandan Aquilis sekarang ada di Baucau dan masih terus menanyakan kepada para komandan FRETILIN lain yang memegang kendali di sektor Timur pada waktu itu tentang keberakaan suaminya. Hal yang sama juga dilakukan oleh kelompok pro-kemerdekaan terhadap tentara Indonesia tentang keberadaan komandan Konis Santana dan Mauhudu yang dinyatakan hilang di tangan tentara Indonesia. Selama perang saudara di Timor Leste dalam kurun waktu 3 bulan (September-November 1975) dan selama pendudukan Indonesia selama 24 tahun (1975-1999), lebih dari 200.000 orang dinyatakan meninggal (60.000 orang secara resmi mati di tangan FRETILN menurut laporan resmi PBB). Selebihnya tidak diketahui apakah semuanya mati kelaparan atau mati di tangan tentara Indonesia. Hasil CAVR menyatakan 183.000 mati di tangan tentara Indonesia karena keracunan bahan kimia (tidak dirinci bagaimana caranya), namun sejarah akan menentukan kebenaran ini, karena keluarga yang sanak saudaranya meninggal di hutan tidak bisa tinggal diam dan kebenaran akan terungkap apakah benar tentara Indonesia yang membunuh sejumlah jiwa ini ataukah sebaliknya. Situasi aktual di Timor Leste akhir-akhir ini adalah cerminan ketidak puasan rakyat bahwa rakyat tidak bisa hidup hanya dari propaganda tapi dari roti dan air. Rakyat tidak bisa hidup dari “makan batu” sebagaimana dipropagandakan FRETILIN selama kampanye Jajak Pendapat tahun 1999 “Lebih baik makan batu tapi merdeka, dari pada makan nasi tapi dengan todongan senjata”. Kenyataan membuktikan bahwa “batu tidak bisa dimakan”, dan rakyat perlu makanan yang layak dimakan manusia.

  1. Insiden Santa Cruz 1992
Benedict Anderson dalam Nasionalisme, Asia Tenggara, dan Dunia (2002) mengatakan, lubang hitam dalam sejarah Indonesia di pulau kecil sebelah utara lepas pantai Australia itu cenderung ditutup-tutupi, termasuk jumlah penduduk Timor Timur yang tewas akibat kelaparan, wabah, dan pertempuran 1977-1979. Padahal, menurut Peter Carey (1995), jumlahnya melebihi angka kematian penduduk Kamboja dibawah Pol Pot. Fakta sejarah ini amat jarang diberitakan media Indonesia. Kalaupun ada, media yang memberitakan niscaya akan menemui ajal. Majalah Jakarta-Jakarta, sebagai salah satu media populer, misalnya, menjadi korban pemberitaan tentang Timor Timur tahun 1992.

Namun, meski media dimatikan, cerita yang berkisah tentang Insiden Dili, 12 November 1991, masih terbaca sebagai cerpen. Pelajaran Sejarah (Seno Gumira Ajidarma, Saksi Mata, Penerbit Bentang, 1994) yang menjadi fiksi dari peristiwa Santa Cruz itu ditulis oleh wartawan dari media yang terkena “pembredelan” pemerintah saat itu. Bagi sang wartawan, cerpen atau fiksi merupakan cara lain untuk menyajikan berita atau fakta sejarah yang sengaja disembunyikan, bahkan dihilangkan. Maka, sejarah bukan sekadar catatan penyebab kejadian pada masa lalu, tetapi juga demi menyiapkan akibat selanjutnya pada masa kini.
Insiden Santa Cruz (juga dikenal sebagai Pembantaian Santa Cruz) adalah penembakan pemrotes Timor Timur di kuburan Santa Cruz di ibu kota Dili pada 12 November 1991. Para pemrotes, kebanyakan mahasiswa, mengadakan aksi protes mereka terhadap pemerintahan Indonesia pada penguburan rekan mereka, Sebastião Gomes, yang ditembak mati oleh pasukan Indonesia sebulan sebelumnya. Para mahasiswa telah mengantisipasi kedatangan delegasi parlemen dari Portugal, yang masih diakui oleh PBB secara legal sebagai penguasa administrasi Timor Timur. Rencana ini dibatalkan setelah Jakarta keberatan karena hadirnya Jill Joleffe sebagai anggota delegasi itu. Joleffe adalah seorang wartawan Australia yang dipandang mendukung gerakan kemerdekaan Fretilin.

Dalam prosesi pemakaman, para mahasiswa menggelar spanduk untuk penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan, menampilkan gambar pemimpin kemerdekaan Xanana Gusmao. Pada saat prosesi tersebut memasuki kuburan, pasukan Indonesia mulai menembak. Dari orang-orang yang berdemonstrasi di kuburan, 271 tewas, 382 terluka, dan 250 menghilang. Salah satu yang meninggal adalah seorang warga Selandia Baru, Kamal Bamadhaj, seorang pelajar ilmu politik dan aktivis HAM berbasis di Australia.

Pembantaian ini disaksikan oleh dua jurnalis Amerika Serikat; Amy Goodman dan Allan Nairn; dan terekam dalam pita video oleh Max Stahl, yang diam-diam membuat rekaman untuk Yorkshire Television di Britania Raya. Para juru kamera berhasil menyelundupkan pita video tersebut ke Australia. Mereka memberikannya kepada seorang wanita Belanda untuk menghindari penangkapan dan penyitaan oleh pihak berwenang Australia, yang telah diinformasikan oleh pihak Indonesia dan melakukan penggeledahan bugil terhadap para juru kamera itu ketika mereka tiba di Darwin. Video tersebut digunakan dalam dokumenter First Tuesday berjudul In Cold Blood: The Massacre of East Timor, ditayangkan di ITV di Britania pada Januari 1992.

Tayangan tersebut kemudian disiarkan ke seluruh dunia, hingga sangat mempermalukan pemerintahan Indonesia. Di Portugal dan Australia, yang keduanya memiliki komunitas Timor Timur yang cukup besar, terjadi protes keras. Banyak rakyat Portugal yang menyesali keputusan pemerintah mereka yang praktis telah meninggalkan bekas koloni mereka pada 1975. Mereka terharu oleh siaran yang melukiskan orang-orang yang berseru-seru dan berdoa dalam bahasa Portugis. Demikian pula, banyak orang Australia yang merasa malu karena dukungan pemerintah mereka terhadap rezim Soeharto yang menindas di Indonesia, dan apa yang mereka lihat sebagai pengkhianatan bagi bangsa Timor Timur yang pernah berjuang bersama pasukan Australia melawan Jepang pada Perang Dunia II.


Meskipun hal ini menyebabkan pemerintah Portugal meningkatkan kampanye diplomatik mereka, bagi pemerintah Australia, pembunuhan ini, dalam kata-kata menteri luar negeri Gareth Evans, merupakan ‘suatu penyimpangan’. Pembantaian ini (yang secara halus disebut Insiden Dili oleh pemerintah Indonesia) disamakan dengan Pembantaian Sharpeville di Afrika Selatan pada 1960, yang menyebabkan penembakan mati sejumlah demonstran yang tidak bersenjata, dan yang menyebabkan rezim apartheid mendapatkan kutukan internasional.

  1. Faktor Penyebab Lepasnya Timor-Timur dari Wilayah NKRI
  1. Tidak terpenuhinya hak-hak dasar rakyat seperti kesejahteraan, keadilan,keamanan, pendidikan, dan kesehatan. Belum lagi minimnya sarana pendidikan, kesehatan, maupun transportasi di sana. Perkara inilah yang membuat saudara-saudara kita di timor timur tertarik dengan ide kemerdekaan.
  2. Lemahnya kesadaran politik masyarakat. Ide-ide disintegrasi yang dimainkan oleh asing gampang diterima masyarakat, padahal disintegrasi merupakan alat permainan negara-negara kapitalis penjajah. Yang diuntungkan dari disintegrasi adalah negara-negara penjajah. Karena itu, meminta bantuan kepada negara-negara kapitalis penjajah sesungguhnya bukanlah solusi, tetapi justru akan menimbulkan penderitaan.baru.

  1. Upaya Pemerintah dalam Rangka Mempertahankan Timor Timur
  1. Otonomi luas yang diberikan pada timor timur
  2. Kebebasan berupa jejak pendapat bagi masyarakat timor timur untuk memilih  tetap menjadi bagian indonesia ataukah memisahkan diri dan merdeka
  3. Kebijakan presiden B.J. Habibiedengan memberikan opsi referendum untuk mencapai solusi final atas masalah timor timur

Munculnya tekanan-tekanan dari masyarakat internasional menanggapi kasus-kasus yang terjadi di timor timur itu memaksa Indonesia untuk mengeluarkan kebijakan guna mengakomodasi aspirasi masyarakat Timor Timur. Tekanan ini juga mendorong Pemerintah Indonesia untuk membahas masalah ini ke tingkat internasional. Akhirnya, pada Juni 1998, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk memberikan status khusus berupa otonomi luas kepada Timor Timur. Usulan Indonesia itu disampaikan kepada Sekjen PBB. Sebagai tindak lanjutnya, PBB pun mengadakan pembicaraan segitiga antara Indonesia, Portugal, dan PBB. Selama pembicaraan ini, masih terjadi kerusuhan antara pihak pro kemerdekaan dan pro integrasi di Timor Timur. Kerusuhan ini semakin manambah kecaman dari dari masyarakat internasional, khusunya dari negara-negara Barat, yang merupakan sasaran utama speech act dalam usaha sekuritisasi kasus Timor Timur.



Berangkat dari pembicaraan tiga pihak serta kecaman yang semakin keras dari dunia internasional, Indonesia memutuskan untuk melaksanakan jajak pendapat rakyat Timor Timur dilakukan secara langsung. Menanggapi keputusan Indonesia tersebut, pihak-pihak yang berada dalam pembicaraan segitiga di atas menyepakati Persetujuan New York yang mencakup masalah teknis dan substansi jajak pendapat. Jajak pendapat pun berakhir dengan kemenangan di pihak pro kemerdekaan Timor Timur. Dengan kemenangannya ini, Timor Timur meraih kedaulatan sebagai sebuah negara.Kedaulatan negara merupakan satu hal yang selama ini dikejar oleh pihak Timor Timur. berbagai pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Indonesia, yang dibuktikan oleh Peristiwa Santa Cruz menjadi batu loncatan bagi usaha sekuritisasi perjuangan meraih kembali kedaulatan Timor Timur.

Kunci dari berhasilnya perjuangan meraih kemerdekaan Timor Timur adalah dukungan internasional. Oleh karena itu sekuritisasi menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan oleh Timor Timur. Berbagaispeech act telah dilakukan oleh securitizing actor untuk meraih dukungan internasional. Usaha sekuritisasi ini mencapai keberhasilannya tidak hanya saat Timor Timur merdeka dari Indonesia, namun juga saat sejumlah negara mulai mendukung perjuangan kemerdekaan Timor Timur.

Pada HUT ke-10 The Habibie Center, mantan Presiden BJ Habibie menyatakan Timor Leste tidak pernah masuk Proklamasi RI. Alasannya, karena yang diproklamasikan adalah Hindia Belanda (Kompas, 9/11/2009). Pernyataan ini patut pula kita salami  karena terkait masa lalu Indonesia yang secara historis banyak menyimpan anakronisme yang menyamarkan beragam fakta. Timor Leste adalah contoh. Semula negeri itu dianggap berintegrasi ke NKRI sebagai Timor Timur. Ternyata bekas koloni Portugis itu dianeksasi melalui semacam invasi militer tahun 1975.

Dinamika politik dalam negeri Indonesia telah berubah secara dramatis dengan jatuhnya Pemerintahan mantan Presiden Soeharto. Di bulan Januari 1999, diumumkan bahwa Indonesia akan menawarkan otonomi kepada Timor Timur. Jika rakyat Timor Timur menolak tawaran ini, maka Indonesia akan menerima pemisahan diri Timor Timur dari Republik Indonesia. Pada tanggal 5 Mei 1999, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Indonesia dan Portugis menandatangani Perjanjian Tripartit yang menyatakan bahwa PBB akan menyelenggarakan jajak pendapat di Timor-Timur. Rakyat diminta memilih apakah Timor Timur tetap menjadi bagian dari Indonesia ataukah Timor Timur menjadi negara merdeka. Habibie mengeluarkan pernyataan pertama mengenai isu Timor Timur pada bulan Juni 1998 dimana ia mengajukan tawaran untuk pemberlakuan otonomi seluas-luasnya untuk provinsi Timor Timur. Proposal ini, oleh masyarakat internasional, dilihat sebagai pendekatan baru.
Di akhir 1998, Habibie mengeluarkan kebijakan yang jauh lebih radikal dengan menyatakan bahwa Indonesia akan memberi opsi referendum untuk mencapai solusi final atas masalah Timor Timur.

Beberapa pihak meyakini bahwa keputusan radikal itu merupakan akibat dari surat yang dikirim Perdana Menteri Australia John Howard pada bulan Desember 1998 kepada Habibie yang menyebabkan Habibie meninggalkan opsi otonomi luas dan memberi jalan bagi referendum. Akan tetapi, pihak Australia menegaskan bahwa surat tersebut hanya berisi dorongan agar Indonesia mengakui hak menentukan nasib sendiri (right of self-determination) bagi masyarakat Timor Timur. Namun, Australia menyarankan bahwa hal tersebut dijalankan sebagaimana yang dilakukan di Kaledonia Baru dimana referendum baru dijalankan setelah dilaksanakannya otonomi luas selama beberapa tahun lamanya. Karena itu, keputusan berpindah dari opsi otonomi luas ke referendum merupakan keputusan pemerintahan Habibie sendiri.

Aksi kekerasan yang terjadi sebelum dan setelah referendum kemudian memojokkan pemerintahan Habibie. Legitimasi domestiknya semakin tergerus karena beberapa hal. Pertama, Habibie dianggap tidak mempunyai hak konstitusional untuk memberi opsi referendum di Timor Timur karena ia dianggap sebagai presiden transisional. Kedua, kebijakan Habibie dalam isu Timor Timur merusakan hubungan saling ketergantungan antara dirinya dan Jenderal Wiranto, panglima TNI pada masa itu. Di hari-hari jatuhnya Suharto dari kursi kepresidenannya, Jenderal Wiranto dilaporkan bersedia mendukung Habibie dengan syarat Habibie mengamankan posisinya sebagai Panglima TNI. Sementara itu, Habibie meminta Wiranto mendukung pencalonan Akbar Tanjung sebagai Ketua Golkar pada bulan Juli 1998. Hal ini cukup sulit bagi Wiranto karena calon lain dalam Kongres Partai Golkar adalah Edi Sudrajat yang didukung oleh Try Sutrisno, kesemuanya adalah mantan senior Jenderal Wiranto. Namun Wiranto tidak memiliki pilihan lain dan menginstruksikan semua pimpinan TNI di daerah untuk mendorong semua ketua Golkar di daerah untuk memilih Akbar Tanjung Habibie kehilangan legitimasi baik dimata masyarakat internasional maupun domestik. Di mata internasional, ia dinilai gagal mengontrol TNI, yang dalam pernyataan-pernyataannya mendukung langkah presiden Habibie menawarkan refendum, namun di lapangan mendukung milisi pro integrasi yang berujung pada tindakan kekerasan di Timor Timur setelah referendum.

Di mata publik domestik, Habibie juga harus menghadapi menguatnya sentimen nasionalis, terutama ketika akhirnya pasukan penjaga perdamaian yang dipimpin Australia masuk ke Timor Timur. Sebagai akibatnya, peluang Habibie untuk memenangi pemilihan presiden pada bulan September 1999 hilang. Sebaliknya, citra TNI sebagai penjaga kedaulatan territorial kembali menguat. Padahal sebelumnya peran politik TNI menjadi sasaran kritik kekuatan pro demokrasi segera setelah jatuhnya Suharto pada bulan Mei 1998.
Tanggal 30 Agustus merupakan tanggal yang sangat sakral dalam dinamika perpolitikan Negara yang seumur jagung ini. Pada hari itu diadakan jajak pendapat di Timor Leste (pada saat itu masih bernama Timor Timur). Jajak pendapat inilah yang nantinya berujung pada kemerdekaan (bekas) provinsiTimor Timur ini. Pada akhirnya, hasil jajak pendapat tersebutlah yang dapat menjawab nasib rakyat Timor Leste selanjutnya. Sebagian besar rakyat Timor Timur lebih memilih untuk merdeka (78.5%). Pengumuman hasil pemilihan umum tersebut diikuti dengan kekerasan yang meluas oleh unsur-unsur pro-integrasi.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa pada akhirnya, pasukan Australia lah yang menjadi pahlawan dalam kasus ini. Australia telah memperhitungkan semua ini secara cermat dan tepat. Australia memainkan peranan pokok dalam memobilisasi tanggapan internasional terhadap krisis kemanusiaan yang membayang nyata. Pasukan penjaga perdamaian yang dipimpin Australia masuk ke Timor Timur. Jakarta menyetujui keterlibatan angkatan internasional pemilihara keamanan di kawasan ini. Australia diminta oleh PBB untuk memimpin angkatan tersebut, dan menerima tugas ini. Kekuatan internasional di Timor Timur atau International Force in East Timor (disingkat INTERFET) telah berhasil dikirim ke Timor Timur dan menjalankan tugasnya untuk mengembalikan perdamaian dan keamanan di kawasan tersebut. Pada tanggal 20 Oktober, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) mencabut keputusan penyatuan Timor Timur dengan Indonesia.

Terkait hal ini, SBY pernah menyatakan bahwa hasil jajak pendapat di Timor Timur pada 1999, merupakan buah dari reformasi di Indonesia. Sebagaimana negara Indonesia mengakui Timor Leste yang merdeka, MPR saat itu pada 1999 mengakui hasil jajak pendapat tersebut.

Sejak awal 2000, kedua pemerintahan pemerintahan mencari pemecahan masa lalu, yang terjadi menjelang, selama, dan segera setelah jajak pendapat. Pertama melalui pendekatan hukum dan cara kedua melalui pendekatan kebenaran dan persahabatan yang tidak berujung pada peradilan. Kedua pemerintahan sepakat untuk menempuh yang kedua melalui Komisi Kebenaran dan Persahabatan. Juga harus diketahui, adalah presiden, waktu itu Menteri Luar Negeri Horta dan Xanana, yang menganjurkan kepada pemerintah Indonesia memilih kata persahabatan karena rekonsiliasi sesungguhnya telah terjadi








Konsepsi Manusia

  1. Manusia menurut islam
Diantara sekian banyak ilmuan, ada yang berpendapat bahwa manusia berasal dari dua suku kata. Manus dan Ia. Manus artinya jiwa, Ia artinya raga tubuh kasar atau Jism. Jadi manusia adalah tubuh kasar atau kerangka jasmani yang berjiwa. Atau manusia adalah benda yang hidup yang berjiwa raga1
  1. Ibnu Sina berpendapat " Sebenarnya telah diketahui bahwa manusia berbeda dengan hewan manapun. Binatang tidak bisa hidup dengan cara yang baik, binatang hidup sendirian mengurus segala keperluannya tanpa ada teman bersekutu yang membantu segala kebutuhannya"
  2. Syeh Nuruddin Ar-Raniri berpendapat " manusia adalah makhluk tuhan yang paling sempurna di dunia ini. Tuhan menciptakan manusia ini sesuai dengan citra-Nya ( Shurah Tuhan ), agar manusia dapat berperan sebagai khalifah di muka bumi ini, sebab tanpa citra-Nya mustahil manusia dapat berperan sebagai wakil tuhan. Selain menyandang peran sebagai khalifah manusia juga sebagai tempat penaungan (tajalli) nama dan sifat tuhan yang paling lengkap dan sempurna "
Setidaknya ada empat kata yang digunakan al-Qur‟an untuk me-nunjuk makna manusia, yaitu: al-basyar, al-insān, al-nās, dan banī ādam. Meskipun kata tersebut menunjuk pada makna manusia, namun secara khusus memiliki penekanan pengertian yang berbeda. Perbedaan berikut dapat dilihat pada uraian berikut:

  1. Al-Basyar

Kata al-basyar dinyatakan dalam al-Qur‟an sebanyak 36 kali dan tersebar dalam 26 Surah. Secara etimologi, al-basyar berarti kulit ke-pala, wajah atau tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Menurut Quraish Shihab, kata basyar terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas dan berbeda dengan kulit binatang. Di bagian lain dari al-Qur‟an disebutkan bahwa kata basyar digunakan untuk menunjukkan proses kejadian manusia sebagai basyar melalui tahap-tahap hingga mencapai kedewasaan.
Berdasarkan konsep al-basyar, manusia tak jauh berbeda dengan makhluk biologis lainnya. Dengan demikian kehidupan manusia terikat kepada kaidah prinsip kehidupan biologis seperti berkembangbiak, mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan dalam mencapai tingkat kematangan dan kedewasaan. Manusia memerlukan makanan dan minuman untuk hidup, dan juga memerlukan pasangan hidup un-tuk melanjutkan proses pelanjut keturunannya. Sebagai makhluk bio-logis, manusia juga mengalami proses akhir secara fisik, yaitu mati. Mati merupakan tahap akhir dari proses pertumbuhan dan perkemba-ngan manusia sebagai makhluk biologis.

  1. Al-Insān

Islam sebagai agama samawi paling belakangan muncul juga me-nawarkan pandangan tentang manusia. Manusia dalam bahasa Arab disebut al-s atau al-insān. Kata al-insān dalam al-Qur‟an disebut sebanyak 60 kali. Kata al-insān berasal dari kata al-uns yang berarti jinak, harmonis, dan tampak. Dalam al-Qur‟an kata insān sering juga dihadapkan dengan kata jin atau jān, yaitu makhluk yang tidak tampak. Kata insān dalam al-Qur‟an digunakan untuk menunjuk manusia seba-gai totalitas (jiwa dan raga). Potensi tersebut antara lain berupa po-tensi untuk bertumbuh dan berkembang secara fisik dan secara mental spiritual.
Perkembangan tersebut antara lain, meliputi kemampuan untuk berbicara. Menguasai ilmu pengetahuan melalui proses tertentu, dengan mengajarkan manusia dengan kalam (baca tulis), dan segala apa yang tidak diketahui. Kemampuan untuk mengenal Tuhan atas dasar perjanjian awal di dalam ruh, dalam bentuk kesaksian. Potensi untuk mengembangkan diri ini (yang positif) memberi peluang bagi manusia untuk mengembangkan kualitas sumber daya insaninya. Integritas ini akan tergambar pada nilai iman dan bentuk amaliyahnya. Dengan kemampuan ini, manusia akan mampu mengemban amanah Allah di muka bumi secara utuh. Namun demikian, manusia sering la-lai bahkan melupakan nilai insaniyah yang dimilikinya dengan berbuat kerusakan di bumi.

  1. An-Nās

Kata al-nās dinyatakan dalam al-Qur‟an sebanyak 240 kali dan tersebar dalam 53 Surah. Kata al-nās menunjukkan pada eksistensi manusia sebagai makhluk sosial secara keseluruhan tanpa melihat status keimanan atau kekafirannya. Dilihat dari kandungan maknanya, kata ini lebih bersifat umum dibandingkan dengan kata al-insān.
Dalam al-Qur‟an, kosa kata al-nās umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial. Manusia diciptakan sebagai makhluk bermasyarakat, yang berawal dari pasangan laki-laki dan wanita, kemudian berkembang menjadi suku dan bangsa, untuk saling mengenal. Kata al-nās juga dijelaskan oleh Allah untuk menunjuk kepada manusia bahwa ada sebagian yang beriman dan ada juga yang munafik.
Adapun secara umum, penggunaan kata al-nās memiliki arti pe-ringatan dari Allah kepada semua manusia untuk selalu menjaga per-buatannya karena semua itu pasti ada konsekuensinya, seperti jangan terlampau hemat memakai harta bendanya atau pelit, jangan som-bong, bangga karena telah berbuat baik dan jangan menjadikan setan sebagai temannya karena setan merupakan seburuk-buruk teman, jangan takut kepada manusia tetapi takutlah kepadaNya. Kemampuan untuk memerankan diri dalam kehidupan sosial, sehingga dapat men-datangkan manfaat, merupakan usaha yang sangat dianjurkan. Dengan demikian konsep al-nās, mengacu kepada peran dan tanggung jawab manusia sebagai makhluk sosial dalam statusnya sebagai makhluk cip-taan Allah Swt.

  1. Banī Ādam

Dalam al-Qur‟an, kata banī ādam dijumpai sebanyak 7 kali dan tersebar dalam 3 Surat. Secara etimologi kata banī ādam menunjukkan arti pada keturunan Nabi Adam.27 Namun yang jelas, menurut al-Qur‟an pada hakikatnya manusia berasal dari nenek moyang yang sama, yakni Adam dan Siti Hawa. Berdasarkan asal usul yang sama ini, berarti manusia masih memiliki hubungan darah, serta pertalian kekerabatan. Dari ras manapun dia berasal. Atas kesamaan ini sudah semestinya manusia mampu menempatkan dirinya dalam komunitas
Namun dalam alqur'an was sunnah disebut kan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dan memiliki berbagai potensi serta memperoleh petunjuk kebenaran dalam menjalani kehidupan di dunia dan di akhirat.
Allah selaku pencipta alam semesta dan manusia telah memberikan infoormasi lewat wahyu alqur'an dan realita faktual yang tampak pada diri manusia . informasi itu diberi-Nya melalui ayat-ayat tersebar tidak bertumpuk pada satu ayat atau satu surat . hal ini dilakukan-Nya agar manusia berusaha mencari , meneliti , memikirkan, dan menganalisanya. Tidak menerima mentah demikian saja. Untuk mampu memutuskan nya, diperlukan suatu peneliti alqur'an dan sunnah rosul secara analitis dan mendalam. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan penelitian laboratorium sebagai perbandingan , untuk merumuskan mana yang benar bersumber dari konsep awal dari Allah dan mana yang telah mendapat pengaruh dari lingkungan.
Hasil peneliti alqur'an yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulannya bahwa manusia terdiri dari unsur-unsur : jasad, ruh, nafs, qolb, dan aqal.


  1. Jasad
Jasad merupakan bentuk lahiriah manusia , yang dalam alqur'an dinyatakan diciptakan dari tanah. Penciptaan tanah diungkapkan lebih lanjut melalui proses yang dimulai dari saripati makanan, disimpan dalam tubuh sampai sebagiannya menjadi sperma atau ovum ( sel telur ) , yang keluar dari tulang sulbi (laki-laki) dan tulang depan (saraib) perempuan
Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? 5 Dia diciptakan dari air yang dipancarkan 6, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan 7 2Sperma dan ovum bersatu dan tergantung dalam rahim kandungan seorang ibu ( alaqah) , kemudian menjadi yang di liliti daging dan kemudian di isi tulang lalu dibalut lagi dengan daging. Setelah ia berumur sembilan bulan, ia lahir ke bumi dengan dorongan sesuatu kekuatan dari ruh sang ibu, menjadiikan ia seorang anak manusia.
  1. Ruh
Ruh adalah daya ( sejenis makhluk atau ciptaan ) yang di tiupkan allah kepada janin dalam kandungan
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.3
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. 4
Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan, 5
Ketika janin berumur 4 bulan 10 hari. Walaupun dalam istilah bahasa dikenal adanya istilah ruhani, kata ini lebih mengarah pada aspek kejiwaan, yang dalam istilah alqur'an di sebut nafs.
Dalam diri manusia , ruh berfungsi untuk :
  1. Membawa dan menerima wahyu
"dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril)" 6
  1. Menguatkan iman
"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. 7
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa manusia pada dasarnya menerima beban perintah-perintah allah dan sebagai orang yang dibekali ruh , seharusnya ia selalu meningkatkan ke imanannya terhadap Allah. Hal itu berarti mereka yang tidak ada usaha untuk menganalisa wahyu Allah serta tidak pula ada usaha untuk menguatkan keimanannya setiap saat berarti dia menghianati ruh yang ada pada dirinya.
  1. Nafs
Para ahli menyatakan manusia itu pasti akan mati. Tetapi alqur'an menginformasikan bahwa yang mati itu nafsnya. Hal ini di ungkapkan pada QS. al-anbiya : 35 "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." dan QS. al-ankabut : 57 Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan., QS. ali-imran ; 185 Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Hadits menginformasikan bahwa ruh manusia menuju alam barjah sementara jasad mengalami jasad mengalami proses pembusukan, menjelang ia bersenyawa kembali secara sempurna dengan tanah.
Al-qur'an menjelaskan bahwa nafs terdiri dari 3 jenis :
  1. Nafs al-amarah "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang" 8Ayat ini secara tegas memberikan pengertian bahwa nafs amarah itu mendorong ke arah kejahatan.
  2. Nafs al-lawwamah QS. Al-Qiyamah : 1-3 (1) Aku bersumpah demi hari kiamat,(2) dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). (3) Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? dan 20 -21 (20)   Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, (21)   dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. Dari penjelasan ayat tersebut bahwa yang dimaksud dengan nafs lawwamah adalah jiwa yang condong kepada dunia dan tak acuh dengan akhirat.
  3. Nafs al-muthmainnah ( 27 )   Hai jiwa yang tenang.( 28 )   Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.( 29 )   Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,( 30 )   masuklah ke dalam surga-Ku. 9Nafs muthmainnah ini adalah jiwa yang mengarah ke jalan allah untuk mencari ketenangan dan kesenangan sehingga hidup berbahagia bersama Allah.


  1. Qolb
Menurut imam al-ghozali qolbu atau hati memiliki Dua makna yang pertama adalah sepotong daging atau mudhghoh yang berbentuk buah sanaubar yang terletak dibagian kiri dada di dalamnya terdapat rongga berisi darah hitam dan di situ pula sumber atau pusat ruh. Makna yang kedua makna qalb atau hati adalah Lathifah ( sesuatu yang amat halus dan lembut tidak kasat mata , tak berupa dan tak dapat diraba ) yang bersifa rabbani dan ruhani.
maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. Qs. Al-hajj : 46 identik dengan dengan Nafs Qs. 89 : 27-28
  1. Aql
Secara bahasa , kata al-‘aql didalam Kamus Kontemporer Arab-Indonesia merupakan sinonim bagi kata hija yang berarti pikiran, otak, dan alasan. Sedangkan di dalam Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia kata al-‘aql juga berarti quwwah al-idrak (daya yang dapat menangkap, mempersepsi, memahami, dan mencerapi), qalb (hati), al-dzakirah (ingatan), al-quwwah al-‘aqilah (daya atau kekuatan yang dapat berfikir), al-fahm (pengertian), al-diyyat (diyat), al-hishn (benteng) dan al-malja (tempat berlindung). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akal diartikan dengan : (1) daya pikir, pikiran, ingatan; (2) jalan atau cara melakukan sesuatu; daya upaya, ikhtiyar; (3) tipu daya, muslihat, kecerdikan, dan kelicikan.
Menurut Imam al-Ghazali, kata al-‘aql memiliki empat hakikat, yaitu :
Pertama, sesuatu yang siap menerima pengetahuan teoretis dan mengatur kepandaian berpikir yang tersembunyi.
Kedua, pengetahuan yang ada pada diri manusia sejak usia anak dapat menentukan yang mungkin bagi yang perkara yang mungkin dan mustahil bagi yang perkara yang mustahil. Pengertian ini, hematnya, sama dengan hati, yaitu perasaan halus (lathifah).
Ketiga, pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman /empirik.
Keempat, kekuatan gharizah (insting) untuk mengetahui konsekuensi berbagai masalah dan menahan keinginan untuk mendapatkan kelezatan sesaat.
Al-‘aql juga bisa dipahami dalam dua makna yaitu pertama, otak yang berada di dalam kepala bagian belakang dan yang kedua adalah potensilathifah robbaniyyah yang mempunyai potensi akademik, mengetahui hakekat segala sesuatu.
Sedangkan manfaat/fungsi al-‘aql adalah potensi penyerapan pengetahuan, membedakan baik dan buruk, dan jalan memperoleh iman sejati.


  1. Perjalanan hidup manusia
Manusia adalah wujud dari tanah karena manusia tercipta dari tanah. Allah berfirman dalam QS. Nuh : 17-18  "Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya . Kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya" demikian pula QS. Taha : 55 "Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain" dari ayat ini dapat disimpulkan bahwa manusia diciptakan dari tanah. Lalu. Apa saja yang merupakan komponen-komponen tanah dan pembentukan manusia ? Allah SWT menjelaskan secara detail dalam al-qur'an. Salah satunya adalah terdapat dalam QS.Hud : 61 dan QS.An-Najm : 32. kemudian QS.A-Hajj : 4 menjelaskan proses penciptaan manusia yang bermula dari komponen-komponeh tanah (Maurice Bucaile, 1998:67). Yaitu sebagai berikut :
  1. Manusia berasal dari sari pati tanah
  2. Kemudian dari setetes air mani
  3. Kemudian dari segumpal darah
  4. Kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna
  5. Allah meniupkan roh ke dalam rahim dan menetapakan takdir manusia
  6. Dilahirkan sang bayi
  7. Tumbuh mnjadi balita, remaja , dewasa dan tua
  8. Ada yang panjang umurnya, ada yang pendek umur
  9. Masa tua sebagai kepikunan
  10. Lalu manusia mati dan jasadnya di kembalikan kedalam tanah
Saripati tanah adalah sesuatu yang disarikan dari cairan mani. Komponen aktif cairan mani adalah organisme sel tunggal yang di sebut dengan spermatazoon. Tak seorangpun akan dapat membantah pernyataan allah tersebut karena dengan ayat itulah diketahui bahwa manusia berasal dari tanah. Akan tetapi, ada yang langsung cetak dari tanah dan ada yang melalui proses perkawinan antara manusia yang berbeda gendernya.
Cairan air mani disebut pula dengan air mani. Oleh karena itu, manusiaa berasal dari air. Allah menyatakan perihal itu dalam Al-qur'an QS.Al-Furqan : 54 "Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa".
Perihal penciptaan manusia pertama, Allah menerangkan didalam QS. Annisa : 1. Menurut Muhammad Rasyid Ridha (1983: 56), "Nafsun Waahidatun" adalah nenek moyang yang sama, artinya bukan adam . adapun secara langsung diciptakan dari jia adam hanyalah hawa karena ia di ciptakan allah dari tulang rusuk Adam, sedangkan manusia keturuna diciptakan dalam proses yang berbeda-beda akan tetapi, mayoritas mufasir menyataka bahwa kata "Nafsun Waahidatun " artinya Adam , maka manusia seluruhnya keturunan adam, baik yang jalur langsung Qabil, Habil, Iklima dan Labuda maupun jalur yang terjauh. Demikian pula penjelasan Allah, yang terdapat dalam alqur'an surat Al-Hijr ayat 28-29 "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk . Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud"
Tubuh manusia dibentuk secara langsung oleh Allah dengan bentuk yang sempurna. Allah memliki kehendak sendiri dalam pembentukannya. Bentuk tubuh manusia beragam. Mata, hidung, bibir, rambut, otak, tinggi badan, warna kulit pun berbeda dan secara psikologispun, manusia berbeda-beda. Untuk itulah Allah berfirman dalam QS. At-Tin : 4 "sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya"
Manusia diciptakan melalui tahap-tahap tertentu. Perkembangan dan pertumbuhan manusia dapat dilihat dengan dua pendekatan, yaitu Pendekatan biologis dan psikologis "Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian"10
Demikian pula, firman-Nya dalam Al-qur'an surat Al-Mu'minun ayat 12-14 dijelaskan bahwa perkembangan manusia didalam rahim ibu berproses secara bertahap, dan pernyataan Allah dalam ayat tersebut telah dibuktkan oleh berbagai ilmu kedokteran di bidang geneologi . pada prinsipnya, perkembangan manusia berprose secara alamiah dan tidak mengenal kata berhenti. Setiap perkembangan yang terjadi secara fisikal akan memberikan pengaruh kepada kejiwaan manusia yang mengikuti pola terarah.


  1. Potensi manusia
Allah Ta’ala membekali manusia dengan at-thaqah –potensi-, yaitu as sam’u s (pendengaran), al-basharu (penglihatan), dan al-fuadu (hati). Banyak sekali firman Allah Ta’ala yang menyebutkan tentang hal  ini, diantaranya adalah.

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
Katakanlah: ‘Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati’. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.” 11

Allah Ta’ala menganugerahkan telinga kepada manusia yang dengannya ia dapat mendengarkan ajaran-ajaran agama Allah yang disampaikan kepadanya oleh rasul-rasul Allah. Dianugerahi-Nya pula manusia mata yang dengannya ia dapat melihat, memandang dan memperhatikan kejadian alam semesta ini. Diberi-Nya manusia hati, akal dan pikiran untuk memikirkan, merenungkan, menimbang dan membedakan mana yang baik bagimu dan mana yang tidak baik, mana yang bermanfaat dan mana pula yang tidak bermanfaat. Sebenarnya dengan anugerah-Nya itu manusia dapat mencapai semua yang baik bagi dirinya sebagai makhluk Allah.
Firman-Nya yang lain:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” 12
Allah Ta’ala mengeluarkan manusia dari rahim ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Tetapi sewaktu masih di dalam rahim, Allah Ta’alamenganugerahkan bakat dan kemampuan pada diri manusia, seperti bakat berpikir, mengindra dan lain sebagainya.
Setelah manusia itu lahir, dengan hidayah Allah Ta’ala segala bakat-bakat itu berkembang. Akalnya dapat memikirkan tentang kebaikan, kejahatan, kebenaran dan kesalahan, hak dan batal. Dan dengan bakat pendengaran dan penglihatan yang telah berkembang itu manusia mengenali dunia sekitarnya dan mempertahankan hidupnya serta mengadakan hubungan sesama manusia. Dan dengan perantaraan akal dan indra itu pengalaman dari pengetahuan manusia dari hari ke hari semakin bertambah dan berkembang. Kesemuanya itu merupakan rahmat dan anugerah Tuhan kepada manusia yang tidak terhingga.
Karena itu seharusnyalah manusia bersyukur kepada-Nya dengan menjalankan al-mas’uliyyah (tanggung jawab) yang telah dipikulkan kepadanya, yakni mempergunakan segala nikmat Allah Ta’ala itu untuk beribadah dan patuh kepada-Nya.


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” 13
Di saat memikul al-mas’uliyyah itu, ada dua pilihan di hadapan manusia; apakah menindaklanjutinya dengan al-amanah (sikap amanah) atau dengan al-khiyanah (sikap khianat).
Mereka yang memilih sikap amanah, di dunia ini akan dianugerahi kehormatan al-khilafah (kepemimpinan), sebagaimana disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam kitab-Nya.
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesu atu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur, 24: 55)
Berkenaan dengan al-khilafah ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan manusia:

Pertama, manusia bukan pemilik yang hakiki (‘adamu haqiqatil mulkiyah), karena Pemilik yang hakiki adalah Allah Ta’ala.

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-Hasyr, 59: 23)
Allah itu merajai segala apa yang di bumi dan di langit, bertasbih kepada-Nya dengan kehendak-Nya berdasarkan kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya, suci dari segala yang tidak layak dan tidak sesuai dengan ketinggian dan kesempurnaan-Nya. Tuhan Yang Maha Perkasa, menundukkan segala makhluk-Nya dengan kekuasaan-Nya, Maha Bijaksana dalam mengatur hal ihwal mereka. Dia-lah yang lebih mengetahui kemaslahatan mereka, yang akan membawa mereka kepada kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat kelak.

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Jumu’ah, 62: 1)

Kedua, manusia harus mengembannya  sesuai dengan kehendak pihak yang mewakilkan kepemimpinan tersebut ( at-tasharruf bi-iradatil mustakhlif), yakni Allah Ta’ala.
Apa yang dikehendaki Allah Ta’ala dari mereka yang telah diberi kekuasaan di muka bumi?
Dia berfirman,
الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al Hajj, 22: 41)
Ayat di atas menegaskan bahwa mereka yang diberi kekuasaan di muka bumi hendaknya melakukan hal-hal berikut ini:
  1. Mendirikan shalat pada setiap waktu yang telah ditentukan sesuai dengan yang diperintahkan Allah. Makna yang lebih luas adalah bahwa para pemimpin Islam hendaknya membimbing umat Islam agar menjalankan shalat dan peribadahan dengan konsekuen, mengarahkan mereka agar menjaga hubungan dengan Allah Ta’ala,menjaga akhlak, keimanan, dan ketakwaan mereka. Karena salah satu tujuan dari shalat adalah menyucikan jiwa dan raga, mencegah manusia dari perbuatan keji dan perbuatan mungkar serta mewujudkan takwa yang sebenarnya.
  2. Menunaikan zakat. Makna yang lebih luas adalah bahwa para pemimpin Islam hendaknya mengarahkan umatnya agar meyakini bahwa di dalam harta si kaya terdapat hak orang-orang fakir dan miskin. Dengan kata lain, seorang pemimpin Islam hendaknya berupaya mewujudkan solidaritas sosial di tengah-tengah umatnya, diantaranya adalah dengan menegakkan syariat zakat.
  3. Menyuruh manusia berbuat makruf dan mencegah perbuatanmunkar. Para pemimpin Islam memiliki tugas untuk mendorong manusia mengerjakan amal saleh, memimpin manusia malalui jalan lurus yang dibentangkan Allah, dan dengan kekuatannya, mereka mencegah orang-orang yang biasa mengerjakan larangan-larangan Allah. Dengan kata lain, seorang pemimpin Islam berkewajiban menjalankan fungsi kontrol sosial.

Tindakan mereka sesuai dengan firman Allah Ta’ala,


كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran, 3: 110)

Ketiga, dalam mengembannya manusia tidak boleh menentang peraturan yang telah ditentukan oleh Allah Ta’ala (‘adamut ta’addi ‘alal hudud).
Sebagai pengemban khilafah, manusia wajib melaksanakan peraturan Allah dan menjaganya. Allah Ta’ala menyebutkan bahwa salah satu ciri-ciri orang beriman itu adalah,


وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ
“…dan yang memelihara hukum-hukum Allah.” (QS. At-Taubah, 9: 112)
Jadi, sebagai individu dan pemimpin, manusia harus berupaya menjaga diri dan umatnya agar tidak melampaui batas dan ketentuan yang telah ditetapkan Allah Ta’ala, yaitu berupa syariat dan hukum-hukum-Nya demi kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat.

Bagi manusia yang memilih sikap khianat, maka Allah Ta’ala akan mengazab dan menghinakannya, na’udzubillahi min dzalik. Mereka yang tidak mau menggunakan potensi dirinya untuk beribadah, diumpakan oleh Allah Ta’ala dengan berbagai perumpamaan yang hina:

Kal an’am (bagaikan binatang ternak).

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf, 7: 179)

Kal kalbi (bagaikan anjing).

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.”(QS. Al-A’raf, 7: 176)

Kal qirdi (seperti monyet dan kal khinzir (seperti babi).

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ
Katakanlah: ‘Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut ?’. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah, 5: 60)

Kutukan yang disebutkan dalam ayat di atas -dan juga disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 65 adalah menceritakan tentang orang-orang Yahudi pada masa lalu yang melanggar ketentuan yang terdapat di dalam Taurat. Mereka meninggalkan kewajiban beribadah pada hari Sabtu hanya karena ingin melakukan pekerjaan duniawi menangkap ikan di laut, dimana pada hari itu ikan-ikan di laut bermunculan dan mudah ditangkap.
Menurut Mujahid, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, “Fisik mereka tidak ditukar menjadi kera, tetapi hati, jiwa dan sifat mereka dirubah menjadi seperti kera. Oleh sebab itu mereka tidak dapat menerima pengajaran dan tidak dapat memahami ancaman”
Namun, jumhur ulama berpendapat, bahwa mereka benar-benar bertukar rupa menjadi kera. Disebut di dalam riwayat lain bahwa mereka yang dirubah menjadi kera itu, tidak beranak, tidak makan, tidak minum dan tidak dapat hidup lebih dari tiga hari.
Mengenai kutukan ini Ibnu Mas’ud berkata,
سَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْقِرَدَةِ وَالْخَنَازِيرِ، أَهِيَ مِنْ نَسْلِ الْيَهُودِ؟ فَقَالَ: “لَا إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَلْعَنْ قَوْمًا فَيَمْسَخُهُمْفَكَانَ لَهُمْ نَسْلٌ، وَلَكِنْ هَذَا خَلْقٌ كَانَ، فَلَمَّا غَضِبَ اللَّهُ عَلَى الْيَهُودِ فَمَسَخَهُمْ، جَعَلَهُمْ مِثْلَهُمْ”.
Kami pernah bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang kera dan babi, ‘Apakah kera dan babi yang ada sekarang merupakan keturunan dari orang-orang Yahudi ?’. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Tidak, sesungguhnya Allah sama sekali belum pernah mengutuk suatu kaum, lalu membiarkan mereka berketurunan. Tetapi kera dan babi yang ada merupakan makhluk yang telah ada sebelumnya. Dan ketika Allah murka terhadap orang-orang Yahudi, maka Dia mengutuk mereka dan menjadikan mereka seperti kera dan babi.’” (HR. Muslim)

Kal khasabi (seperti kayu).

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ
Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al-Munafiqun, 63: 4)

Ayat di atas menyebutkan tentang orang-orang munafik. Mereka memiliki penampilan yang baik, pandai berbicara, dan berlisan fasih. Perkataan mereka membuat pendengarnya akan terpesona. Padahal kenyataannya hati mereka sangat lemah, rapuh, mudah sok, penakut, dan pengecut. Kalbu mereka kosong dari iman. Mereka bagaikan kayu yang tersandar, tak ada kehidupan dalam diri mereka. Manakala terdengar seruan sebagaimana seruan di dalam kemiliteran, atau bagaikan seruan orang yang mencari barang yang hilang, mereka rasakan hal itu ditujukan kepada mereka. Demikian itu karena hati mereka sudah memendam rasa kecut dan takut terhadap hal-hal yang akan menimpa mereka yang memperbolehkan darah mereka dialirkan.

Kal hijarah (seperti batu).

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah, 2: 74)

Ayat di atas berbicara tentang watak orang-orang Yahudi. Sesudah mereka diberi petunjuk ke jalan yang benar dan mereka sudah pula memahami kebenaran itu, mereka lari darinya dan hati mereka mengeras seperti batu bahkan lebih keras lagi. Padahal sekeras apa pun batu, oleh suatu sebab dapat terbelah atau retak. Lalu memancarlah air dan kemudian berkumpul menjadi anak-anak sungai. Kadang-kadang batu-batu itu jatuh dari gunung karena patuh kepada kekuasaan Allah. Tapi, hati orang Yahudi lebih keras dari batu bagaikan tak mengenal retak sedikit pun. Hati mereka tak terpengaruh oleh ajaran-ajaran agama ataupun nasihat-nasihat yang biasanya dapat menembus hati manusia.

Kal himar (seperti keledai).

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al-Jum’ah, 62: 5)

Orang yang tidak mau mengamalkan isi kitabullah diumpamakan oleh AllahTa’ala seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Bahkan mereka lebih bodoh lagi dari keledai, karena keledai itu memang tidak mempunyai akal untuk memahaminya sedangkan mereka itu mempunyai akal tetapi tidak dipergunakanan.

Kal ‘ankabut (seperti laba-laba).

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut, 29: 41)

Orang yang berkhianat kepada Allah Ta’ala, yakni mereka yang berbuat musyrik, tak ubahnya bagaikan laba-laba yang membuat sarang, sangat rapuh dan lemah, sebab sarang laba-laba itulah ibarat dari suatu bangunan rumah yang sangat rapuh. Oleh karena itu, at-thaqah (potensi), as-sam’u (pendengaran), al-basharu(penglihatan), dan al-fuadu (hati) yang telah dianugerahkan Allah Ta’ala kepada kita harus dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh untuk menjalankan amanah, sehingga Allah Ta’ala akan memuliakan kita di dunia dan akhirat.

  1. Manusia dan Agama
Al-qur'anul karim telah mengungkapkan bahwa Allah SWT menyimpankan agama pada lubuk jiwa manusia :
Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia sesuai dengan fitrah Ar-rum : 30
Hubungan Manusia dengan Agama

Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah sebagai pencipta alam semesta. Allah sendiri yang mencipta dan memerintahkan ciptaan-Nya untuk beribadah kepada-Nya, juga menurunkan panduan agar dapat beribadah dengan benar. Panduan tersebut diturunkan Allah melalui nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya, dari Adam AS hingga Muhammad SAW. Nabi-nabi dan rasul-rasul tersebut hanya menerima Allah sebagai Tuhan mereka dan Islam sebagai panduan kehidupan mereka. Beribadah diartikan secara luas meliputi seluruh hal dalam kehidupan yang ditujukan hanya kepada Allah. Kita meyakini bahwa hanya Islamlah panduan bagi manusia menuju kebahagiaan dunia dan akherat. Islam telah mengatur berbagai perihal dalam kehidupan manusia. Islam merupakan sistem hidup, bukan sekedar agama yang mengatur ibadah ritual belaka.
Sayangnya, pada saat ini, kebanyakan kaum muslim tidak memahami hal ini. Mereka memahami ajaran Islam sebagaimana para penganut agama lain memahami ajaran agama mereka masing-masing, yakni bahwa ajaran agama hanya berlaku di tempat-tempat ibadah dan dilaksanakan secara ritual, tanpa ada aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut biasanya disebabkan karena dua hal: Pertama, terjadinya gerakan pembaruan di Eropa yang fikenal sebagai Renaissance dan Humanisme, sebagai reaksi masyarakat yang dikekang oleh kaum gereja pada masa abad pertengahan atau Dark Ages, kaum gereja mendirikan mahkamah inkuisisi yang digunakan untuk menghabisi para ilmuwan, cendikiawan, serta pembaharu. Setelah itu, pada masaRenaissance, masyarakat menilai bahwa Tuhan hanya berkuasa di gereja , sedangkan di luar itu masyarakat dan rajalah yang berkuasa. Paham dikotomis ini kemudian dibawa ke Asia melalui penjajahan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa; Kedua, masih adanya ulama-ulama yang jumud, kaku dalam menerapkan syariat-syariat Islam, tidak dapat atau tidak mau mengikuti perkembangan jaman. Padahal selama tidak melanggar Al-Qur’an dan Hadits, ajaran-ajaran Islam adalah luwes dan dapat selalu mengikuti perkembangan zaman. Akibat kejumudan tersebut, banyak kalangan masyrakat yang merasa takut atau kesulitan dalam menerapkan syariat-syariat Islam dan menilainya tidak aplikatif. Ini membuat masyarakat semakin jauh dari syariat Islam.
Paham dikotomis melalui sekularisme tersebut antara lain dipengaruhi terutama oleh pemikiran August Comte melalui bukunya Course de la Philosophie Positive (1842) mengemukakan bahwa sepanjang sejarah pemikiran manusia berkembang melalui tiga tahap: (1) tahap teologik, (2) tahap metafisik, dan (3) tahap positif; pemikiran tersebut melahirkan filsafat positivisme yang mempengaruhi ilmu pengetahuan sosial dan humaniora, melalui sekularisme. Namun teori tersebut tidaklah benar, sebab perkembangan pemikiran manusia tidaklah demikian, seperti pada zaman modern ini (tahap ketiga), manusia masih tetap percaya pada Tuhan dan metafisika, bahkan kembali kepada spiritualisme.
Sejarah umat manusia di barat menunjukkan bahwa dengan mengenyampingkan agama dan mengutamakan ilmu dan akal manusia semata-mata telah membawa krisis dan malapetaka. Atas pengalamannya tersebut, kini perhatian manusia kembali kepada agama, karena: (1) Ilmuwan yang selama ini meninggalkan agama, kembali pada agama sebagai pegangan hidup yang sesungguhnya, dan (2) harapan manusia pada otak manusia untuk memecahkan segala masalah di masa lalu tidak terwujud.
Kemajuan ilmu pengetahuan telah membawa manusia pada tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi, namun dampak negatifnya juga cukup besar berpengaruh pada kehidupan manusia secara keseluruhan. Sehingga untuk dapat mengendalikan hal tersebut diperlukan agama, untuk diarahkan untuk keselamatan dan kebahagiaan umat manusia.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa agama sangat diperlukan oleh manusia sebagai pegangan hidup sehingga ilmu dapat menjadi lebih bermakna, yang dalam hal ini adalah Islam. Agama Islam adalah agama yang selalu mendorong manusia untuk mempergunakan akalnya memahami ayat-ayat kauniyah (Sunnatullah) yang terbentang di alam semesta dan ayat-ayat qur’aniyah yang terdapat dalam Al-Qur’an, menyeimbangkan antara dunia dan akherat. Dengan ilmu kehidupan manusia akan bermutu, dengan agama kehidupan manusia akan lebih bermakna, dengan ilmu dan agama kehidupan manusia akan sempurna dan bahagia.

  1. Kebutuhan Manusia terhadap Agama

Manusia dalam kehidupannya mempunyai kebutuhan yang banyak sekali. Adanya kebutuhan hidup inilah yang mendorong manusia untuk melakukan berbagai tindakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan ter-sebut. Begitu pula kebutuhan manusia terhadap agama. Dari sudut pan-dang kebahasaan, “agama” berasal dari bahasa Sansakerta yang artinya “tidak kacau”. Agama diambil dari dua akar suku kata, yaitu a yang berarti “tidak” dan gama yang berarti “kacau”. Hal ini mengandung pe-ngertian bahwa agama adalah suatu peraturan yang mengatur kehidupan manusia agar tidak kacau. Dalam bahasa Arab, istilah agama disebut “dīn”, berarti “ajaran tentang ketaatan absolut (kepada Tuhan, Allah)”, pemahaman ini benar-benar sesuai dengan konsep “Islam”, yang berarti “ Manusia dan Agama. ketundukan penuh (kepada Tuhan)”. Menurut para salaf al- shālih se-bagaimana yang dikutip oleh Atiqullah, agama adalah suatu keimanan manusia akan adanya Allah Swt yang ditetapkan kebenarannya melalui perasaan iman (qalb), diucapkan dengan kata-kata (lisan), dan melak-sanakan dengan perbuatan.

Dalam pandangan positivism atau materialism, jika sains dan tek-nologi sudah maju, masyarakat tidak membutuhkan agama lagi sebab semua kebutuhan dan keinginan mereka sudah terpenuhi oleh sains dan teknologi. Sepintas pernyataan tersebut ada benarnya, tetapi ketika dire-nungkan lebih dalam timbul persoalan. Apakah keinginan manusia betul-betul mampu dipenuhi oleh sains dan teknologi? Bagaimana ia mampu memenuhi keinginan yang tidak terbatas, seperti dia tidak ingin mati. Apakah teknologi yang sangat canggih itu mampu mengatasi persoalan tersebut? Kalau memang ada teknologi yang mampu mengatasi persoalan tersebut akan dipastikan semua orang akan menganut faham ini. Ternyata pandangan materialism tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan ka-rena alur pikirannya tidak logis. Kebanyakan ahli studi keagamaan sepakat bahwa agama sebagai sumber nilai, sumber etika, dan pandangan hidup yang dapat diperankan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi perlunya manusia terhadap agama. Alasan-alasan tersebut secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. Fitrah beragama
Fitrah ini merupakan potensi bawaan yang memberikan kemam-puan kepada manusia untuk selalu tunduk, taat melaksanakan perintah Tuhan sebagai pencipta, penguasa dan pemelihara alam semesta. Dalam al-Qur‟an dinyatakan bahwa fitrah beragama sudah tertanam ke dalam jiwa manusia semenjak dari alam arwah dahulu, yaitu sewaktu ruh manusia belum ditiupkan oleh Allah ke dalam jasmaninya. Pada waktu itu, Allah bertanya kepada ruh-ruh manusia: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” kemudian ruh-ruh manusia itu menjawab: ”Benar, kami telah menyaksikan.”
Hubungan manusia dan agama tampaknya merupakan hubungan yang bersifat kodrati. Agama itu sendiri menyatu dalam fitrah pencip-taan manusia. Terwujud dalam bentuk ketundukan, kerinduan ibadah, serta sifat-sifat luhur. Manakala dalam menjalankan kehidupannya, manusia menyimpang dari nilai-nilai fitrahnya, maka secara psikologis ia akan merasa adanya semacam “hukuman moral”. Lalu spontan akan muncul rasa bersalah atau rasa berdosa.

  1. Kemampuan manusia terbatas

Dalam masyarakat sederhana banyak peristiwa yang terjadi dan berlangsung di sekitar manusia dan di dalam manusia, tetapi tidak dipahami oleh mereka yang tidak dipahami itu dimasukkan ke dalam kategori ghaib. Karena banyak hal atau peristiwa ghaib ini menurut pendapat mereka, mereka merasakan hidup dan kehidupan penuh de-ngan keghaiban. Menghadapi peristiwa ghaib ini mereka merasa lemah tidak berdaya. Untuk menguatkan diri, mereka mencari perlindungan pada kekuatan yang menurut mereka menguasai alam ghaib yaitu Dewa atau Tuhan. Atas dasar itulah, manusia sangat memerlukan agama. Karena dengan agama manusia dapat mengetahui dan mema-hami sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh akal pikiran yang dimiliki manusia. Karena di samping manusia memiliki berbagai kesempurnaan manusia juga memiliki kekurangan.

  1. Tantangan Manusia Beragama
Manusia dalam kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Pertama, tan-tangan dari dalam dapat berupa dorongan hawa nafsu dan bisikan setan. Mengacu pada latar belakang sejarah penciptaannya, tampaknya manusia selaku banī ādam, memang termasuk makhluk yang bermasalah. Banī ādam memiliki peluang untuk digoda setan. Karena itu, selaku makhluk yang diciptakan untuk jadi “khalifah”, maka manusia selalu diperingatkan oleh Allah agar selalu berhati-hati terhadap godaan setan.55 Setan selalu ada, siap untuk menggodanya agar melakukan kejahatan yang akan mem-buatnya gagal dalam cobaan. Dalam cerita Adam dan setan, al-Qur‟an menceritakan bahwa iblis meminta kepada Allah untuk ditangguhkan siksanya sampai waktu mereka dibangkitkan. Dalam waktu penangguhan inilah setan akan menjerumuskan manusia untuk berpaling dari jalan yang lurus dan mendatangi manusia dari depan, belakang, kiri dan kanan se-hingga kebanyakan dari mereka tidak bersyukur.

Menurut Fazlurrahman, kehidupan manusia adalah “suatu perju-angan moral yang tiada henti”. Jika dia mengabaikan perjuangan ini se-saat saja, dia dapat dengan mudah terperangkap oleh setan. Hal ini ka-rena manusia sebagai makhluk biologis yang berasal dari tanah dia cende-rung terbujuk oleh godaan kehidupan keduniaan dan mengikutinya. Kehidupan spiritual adalah sesuatu yang sulit baginya, dan dia harus mengatasi daya tarik nafsu dan godaan-godaan duniawi yang lain.

Kedua, tantangan dari luar dapat berupa rekayasa dan upaya-upaya yang dilakukan manusia yang secara sengaja berupaya ingin me-malingkan manusia dari Tuhan. Mereka dengan rela mengeluarkan biaya, tenaga, dan pikiran yang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk ke-budayaan yang di dalamnya mengandung misi menjauhkan manusia dari Tuhan. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur‟an yang artinya “Sesung-guhnya orang-orang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk meng-halangi (orang) dari jalan Allah”. (Qs. Al-Anfal : 36)
Orang-orang kafir itu sengaja mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mereka gunakan agar orang mengikuti keinginannya. Ber-bagai bentuk budaya, hiburan, obat-obat terlarang dan lain sebagainya di-buat dengan sengaja. Untuk itu, upaya mengatasi dan membentengi ma-nusia adalah dengan mengajar mereka agar taat menjalankan agama. Godaan dan tantangan hidup demikian itu, saat ini semakin meningkat, sehingga upaya meningkatkan perilaku keberagamaan masyarakat men-jadi penting.










1 Kamus Besar Bahasa Indonesia
2 QS. at-thariq : 5-7

3 QS. Al-hijr 29
4 QS. As-sajadah : 9
5 QS. shad : 27
6 QS : asyyu'ara : 193
7 QS : Al-mujadalah : 22
8 QS. Yusuf :53
9 QS. Al-Fajr : 27-30 .
10 QS. Nuh: 14
11 QS. Al-Mulk, 67: 23
12 QS. An-Nahl, 16: 78

13 QS. Adz-Dzariyat, 51: 56