-
Manusia
menurut islam
Diantara
sekian banyak ilmuan, ada yang berpendapat bahwa manusia berasal dari
dua suku kata. Manus
dan Ia.
Manus artinya jiwa,
Ia artinya raga
tubuh kasar atau Jism. Jadi manusia adalah tubuh kasar atau kerangka
jasmani yang berjiwa. Atau manusia adalah benda yang hidup yang
berjiwa raga
-
Ibnu
Sina berpendapat " Sebenarnya telah diketahui bahwa manusia
berbeda dengan hewan manapun. Binatang tidak bisa hidup dengan cara
yang baik, binatang hidup sendirian mengurus segala keperluannya
tanpa ada teman bersekutu yang membantu segala kebutuhannya"
-
Syeh
Nuruddin Ar-Raniri berpendapat " manusia adalah makhluk tuhan
yang paling sempurna di dunia ini. Tuhan menciptakan manusia ini
sesuai dengan citra-Nya ( Shurah Tuhan ), agar manusia dapat
berperan sebagai khalifah di muka bumi ini, sebab tanpa citra-Nya
mustahil manusia dapat berperan sebagai wakil tuhan. Selain
menyandang peran sebagai khalifah manusia juga sebagai tempat
penaungan (tajalli)
nama dan sifat tuhan yang paling lengkap dan sempurna "
Setidaknya
ada empat kata yang digunakan al-Qur‟an untuk me-nunjuk makna
manusia, yaitu: al-basyar,
al-insān, al-nās, dan
banī ādam.
Meskipun kata tersebut menunjuk pada makna manusia, namun secara
khusus memiliki penekanan pengertian yang berbeda. Perbedaan berikut
dapat dilihat pada uraian berikut:
-
Al-Basyar
Kata
al-basyar dinyatakan
dalam al-Qur‟an sebanyak 36 kali dan tersebar dalam 26 Surah.
Secara etimologi, al-basyar
berarti kulit ke-pala,
wajah atau tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Menurut
Quraish Shihab, kata basyar
terambil dari akar
kata yang pada mulanya berarti penampakan sesuatu dengan baik dan
indah. Dari akar kata yang sama lahir kata basyarah
yang berarti kulit.
Manusia dinamai basyar
karena kulitnya tampak
jelas dan berbeda dengan kulit binatang. Di bagian lain dari
al-Qur‟an disebutkan bahwa kata basyar
digunakan untuk
menunjukkan proses kejadian manusia sebagai basyar
melalui tahap-tahap
hingga mencapai kedewasaan.
Berdasarkan
konsep al-basyar,
manusia tak jauh
berbeda dengan makhluk biologis lainnya. Dengan demikian kehidupan
manusia terikat kepada kaidah prinsip kehidupan biologis seperti
berkembangbiak, mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan dalam
mencapai tingkat kematangan dan kedewasaan. Manusia memerlukan
makanan dan minuman untuk hidup, dan juga memerlukan pasangan hidup
un-tuk melanjutkan proses pelanjut keturunannya. Sebagai makhluk
bio-logis, manusia juga mengalami proses akhir secara fisik, yaitu
mati. Mati merupakan tahap akhir dari proses pertumbuhan dan
perkemba-ngan manusia sebagai makhluk biologis.
-
Al-Insān
Islam
sebagai agama samawi paling belakangan muncul juga me-nawarkan
pandangan tentang manusia. Manusia dalam bahasa Arab disebut
al-nās
atau al-insān.
Kata al-insān
dalam al-Qur‟an
disebut sebanyak 60 kali. Kata al-insān
berasal dari kata
al-uns yang
berarti jinak, harmonis, dan tampak. Dalam al-Qur‟an kata insān
sering juga dihadapkan
dengan kata jin atau
jān, yaitu
makhluk yang tidak tampak. Kata insān
dalam al-Qur‟an
digunakan untuk menunjuk manusia seba-gai totalitas (jiwa dan raga).
Potensi tersebut antara lain berupa po-tensi untuk bertumbuh dan
berkembang secara fisik dan secara mental spiritual.
Perkembangan
tersebut antara lain, meliputi kemampuan untuk berbicara. Menguasai
ilmu pengetahuan melalui proses tertentu, dengan mengajarkan manusia
dengan kalam (baca tulis), dan segala apa yang tidak diketahui.
Kemampuan untuk mengenal Tuhan atas dasar perjanjian awal di dalam
ruh, dalam bentuk kesaksian. Potensi untuk mengembangkan diri ini
(yang positif) memberi peluang bagi manusia untuk mengembangkan
kualitas sumber daya insaninya. Integritas ini akan tergambar pada
nilai iman dan bentuk amaliyahnya. Dengan kemampuan ini, manusia akan
mampu mengemban amanah Allah di muka bumi secara utuh. Namun
demikian, manusia sering la-lai bahkan melupakan nilai insaniyah yang
dimilikinya dengan berbuat kerusakan di bumi.
-
An-Nās
Kata
al-nās dinyatakan
dalam al-Qur‟an sebanyak 240 kali dan tersebar dalam 53 Surah. Kata
al-nās menunjukkan
pada eksistensi manusia sebagai makhluk sosial secara keseluruhan
tanpa melihat status keimanan atau kekafirannya. Dilihat dari
kandungan maknanya, kata ini lebih bersifat umum dibandingkan dengan
kata al-insān.
Dalam
al-Qur‟an, kosa
kata al-nās umumnya
dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial. Manusia
diciptakan sebagai makhluk bermasyarakat, yang berawal dari pasangan
laki-laki dan wanita, kemudian berkembang menjadi suku dan bangsa,
untuk saling mengenal. Kata al-nās
juga dijelaskan oleh
Allah untuk menunjuk kepada manusia bahwa ada sebagian yang beriman
dan ada juga yang munafik.
Adapun
secara umum, penggunaan kata al-nās
memiliki arti
pe-ringatan dari Allah kepada semua manusia untuk selalu menjaga
per-buatannya karena semua itu pasti ada konsekuensinya, seperti
jangan terlampau hemat memakai harta bendanya atau pelit, jangan
som-bong, bangga karena telah berbuat baik dan jangan menjadikan
setan sebagai temannya karena setan merupakan seburuk-buruk teman,
jangan takut kepada manusia tetapi takutlah kepadaNya. Kemampuan
untuk memerankan diri dalam kehidupan sosial, sehingga dapat
men-datangkan manfaat, merupakan usaha yang sangat dianjurkan. Dengan
demikian konsep al-nās,
mengacu kepada peran
dan tanggung jawab manusia sebagai makhluk sosial dalam statusnya
sebagai makhluk cip-taan Allah Swt.
-
Banī Ādam
Dalam
al-Qur‟an, kata banī
ādam dijumpai
sebanyak 7 kali dan tersebar dalam 3 Surat. Secara etimologi kata
banī ādam menunjukkan
arti pada keturunan Nabi Adam.27 Namun yang jelas, menurut al-Qur‟an
pada hakikatnya manusia berasal dari nenek moyang yang sama, yakni
Adam dan Siti Hawa. Berdasarkan asal usul yang sama ini, berarti
manusia masih memiliki hubungan darah, serta pertalian kekerabatan.
Dari ras manapun dia berasal. Atas kesamaan ini sudah semestinya
manusia mampu menempatkan dirinya dalam komunitas
Namun
dalam alqur'an
was sunnah
disebut kan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dan
memiliki berbagai potensi serta memperoleh petunjuk kebenaran dalam
menjalani kehidupan di dunia dan di akhirat.
Allah
selaku pencipta alam semesta dan manusia telah memberikan infoormasi
lewat wahyu alqur'an dan realita faktual yang tampak pada diri
manusia . informasi itu diberi-Nya melalui ayat-ayat tersebar tidak
bertumpuk pada satu ayat atau satu surat . hal ini dilakukan-Nya agar
manusia berusaha mencari , meneliti , memikirkan, dan menganalisanya.
Tidak menerima mentah demikian saja. Untuk mampu memutuskan nya,
diperlukan suatu peneliti alqur'an dan sunnah rosul secara analitis
dan mendalam. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan penelitian
laboratorium sebagai perbandingan , untuk merumuskan mana yang benar
bersumber dari konsep awal dari Allah dan mana yang telah mendapat
pengaruh dari lingkungan.
Hasil
peneliti alqur'an yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulannya
bahwa manusia terdiri dari unsur-unsur : jasad, ruh, nafs, qolb, dan
aqal.
-
Jasad
Jasad
merupakan bentuk lahiriah manusia , yang dalam alqur'an dinyatakan
diciptakan dari tanah. Penciptaan tanah diungkapkan lebih lanjut
melalui proses yang dimulai dari saripati makanan, disimpan dalam
tubuh sampai sebagiannya menjadi sperma atau ovum ( sel telur ) ,
yang keluar dari tulang sulbi (laki-laki) dan tulang depan (saraib)
perempuan
Maka
hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? 5 Dia
diciptakan dari air yang dipancarkan 6, yang keluar dari antara
tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan 7
Sperma
dan ovum bersatu dan tergantung dalam rahim kandungan seorang ibu (
alaqah) , kemudian menjadi yang di liliti daging dan kemudian di isi
tulang lalu dibalut lagi dengan daging. Setelah ia berumur sembilan
bulan, ia lahir ke bumi dengan dorongan sesuatu kekuatan dari ruh
sang ibu, menjadiikan ia seorang anak manusia.
-
Ruh
Ruh
adalah daya ( sejenis makhluk atau ciptaan ) yang di tiupkan allah
kepada janin dalam kandungan
Maka
apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan
kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan
bersujud.
Kemudian
Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan
Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi)
kamu sedikit sekali bersyukur.
Kami
tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini
(mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan,
Ketika
janin berumur 4 bulan 10 hari. Walaupun dalam istilah bahasa dikenal
adanya istilah ruhani, kata ini lebih mengarah pada aspek kejiwaan,
yang dalam istilah alqur'an di sebut nafs.
Dalam
diri manusia , ruh berfungsi untuk :
-
Membawa
dan menerima wahyu
"dia
dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril)"
-
Menguatkan
iman
"Kamu
tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat,
saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan
Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau
saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka
itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka
dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya.
Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka,
dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka
itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu
adalah golongan yang beruntung.
Dari
ayat ini dapat dipahami bahwa manusia pada dasarnya menerima beban
perintah-perintah allah dan sebagai orang yang dibekali ruh ,
seharusnya ia selalu meningkatkan ke imanannya terhadap Allah. Hal
itu berarti mereka yang tidak ada usaha untuk menganalisa wahyu Allah
serta tidak pula ada usaha untuk menguatkan keimanannya setiap saat
berarti dia menghianati ruh yang ada pada dirinya.
-
Nafs
Para
ahli menyatakan manusia itu pasti akan mati. Tetapi alqur'an
menginformasikan bahwa yang mati itu nafsnya. Hal ini di ungkapkan
pada QS. al-anbiya : 35
"Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan
keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan
hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan."
dan
QS. al-ankabut : 57 Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu
dikembalikan.,
QS. ali-imran ; 185 Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat
sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan
dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan
dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
Hadits menginformasikan bahwa ruh manusia menuju alam barjah
sementara jasad mengalami jasad mengalami proses pembusukan,
menjelang ia bersenyawa kembali secara sempurna dengan tanah.
Al-qur'an
menjelaskan bahwa nafs terdiri dari 3 jenis :
-
Nafs
al-amarah "Dan
aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya
nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang
diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi
Maha Penyanyang"
Ayat
ini secara tegas memberikan pengertian bahwa nafs amarah itu
mendorong ke arah kejahatan.
-
Nafs
al-lawwamah QS. Al-Qiyamah : 1-3 (1) Aku
bersumpah demi hari kiamat,(2) dan aku bersumpah dengan jiwa
yang amat menyesali (dirinya sendiri). (3) Apakah manusia
mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang
belulangnya?
dan
20 -21 (20)
Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai
manusia) mencintai kehidupan dunia, (21)
dan
meninggalkan (kehidupan) akhirat.
Dari penjelasan ayat tersebut bahwa yang dimaksud dengan nafs
lawwamah adalah jiwa yang condong kepada dunia dan tak acuh dengan
akhirat.
-
Nafs
al-muthmainnah (
27 ) Hai jiwa yang tenang.( 28 ) Kembalilah
kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.( 29 ) Maka
masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,( 30 ) masuklah
ke dalam surga-Ku.
Nafs
muthmainnah ini adalah jiwa yang mengarah ke jalan allah untuk
mencari ketenangan dan kesenangan sehingga hidup berbahagia bersama
Allah.
-
Qolb
Menurut
imam al-ghozali qolbu atau hati memiliki Dua makna yang pertama
adalah sepotong daging atau mudhghoh yang berbentuk buah sanaubar
yang terletak dibagian kiri dada di dalamnya terdapat rongga berisi
darah hitam dan di situ pula sumber atau pusat ruh. Makna yang kedua
makna qalb atau hati adalah Lathifah ( sesuatu yang amat halus dan
lembut tidak kasat mata , tak berupa dan tak dapat diraba ) yang
bersifa rabbani dan ruhani.
maka
apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati
yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang
dengan itu mereka dapat mendengar? Karena
sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah
hati yang di dalam dada.
Qs.
Al-hajj : 46
identik dengan dengan Nafs Qs. 89 : 27-28
-
Aql
Secara
bahasa , kata al-‘aql didalam
Kamus Kontemporer Arab-Indonesia merupakan sinonim bagi
kata hija yang
berarti pikiran, otak, dan alasan. Sedangkan di dalam Kamus
Al-Munawwir Arab-Indonesia kata al-‘aql juga
berarti quwwah
al-idrak (daya
yang dapat menangkap, mempersepsi, memahami, dan
mencerapi), qalb (hati), al-dzakirah (ingatan), al-quwwah
al-‘aqilah (daya
atau kekuatan yang dapat
berfikir), al-fahm (pengertian), al-diyyat (diyat), al-hishn (benteng)
dan al-malja (tempat
berlindung). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akal diartikan
dengan : (1) daya pikir, pikiran, ingatan; (2) jalan atau cara
melakukan sesuatu; daya upaya, ikhtiyar; (3) tipu daya, muslihat,
kecerdikan, dan kelicikan.
Menurut
Imam al-Ghazali, kata al-‘aql memiliki
empat hakikat, yaitu :
Pertama,
sesuatu yang siap menerima pengetahuan teoretis dan mengatur
kepandaian berpikir yang tersembunyi.
Kedua,
pengetahuan yang ada pada diri manusia sejak usia anak dapat
menentukan yang mungkin bagi yang perkara yang mungkin dan mustahil
bagi yang perkara yang mustahil. Pengertian ini, hematnya, sama
dengan hati, yaitu perasaan halus (lathifah).
Ketiga,
pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman /empirik.
Keempat,
kekuatan gharizah (insting)
untuk mengetahui konsekuensi berbagai masalah dan menahan keinginan
untuk mendapatkan kelezatan sesaat.
Al-‘aql juga
bisa dipahami dalam dua makna yaitu pertama,
otak yang berada di dalam kepala bagian belakang dan
yang kedua adalah
potensilathifah
robbaniyyah yang
mempunyai potensi akademik, mengetahui hakekat segala sesuatu.
Sedangkan
manfaat/fungsi al-‘aql adalah
potensi penyerapan pengetahuan, membedakan baik dan buruk, dan jalan
memperoleh iman sejati.
-
Perjalanan
hidup manusia
Manusia
adalah wujud dari tanah karena manusia tercipta dari tanah. Allah
berfirman dalam QS. Nuh : 17-18 "Dan
Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya . Kemudian
Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu
(daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya"
demikian
pula QS. Taha : 55 "Dari
bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan
mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada
kali yang lain"
dari
ayat ini dapat disimpulkan bahwa manusia diciptakan dari tanah. Lalu.
Apa saja yang merupakan komponen-komponen tanah dan pembentukan
manusia ? Allah SWT menjelaskan secara detail dalam al-qur'an. Salah
satunya adalah terdapat dalam QS.Hud : 61 dan QS.An-Najm : 32.
kemudian QS.A-Hajj : 4 menjelaskan proses penciptaan manusia yang
bermula dari komponen-komponeh tanah (Maurice Bucaile, 1998:67).
Yaitu sebagai berikut :
-
Manusia
berasal dari sari pati tanah
-
Kemudian
dari setetes air mani
-
Kemudian
dari segumpal darah
-
Kemudian
dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak
sempurna
-
Allah
meniupkan roh ke dalam rahim dan menetapakan takdir manusia
-
Dilahirkan
sang bayi
-
Tumbuh
mnjadi balita, remaja , dewasa dan tua
-
Ada
yang panjang umurnya, ada yang pendek umur
-
Masa
tua sebagai kepikunan
-
Lalu
manusia mati dan jasadnya di kembalikan kedalam tanah
Saripati
tanah adalah sesuatu yang disarikan dari cairan mani. Komponen aktif
cairan mani adalah organisme sel tunggal yang di sebut dengan
spermatazoon. Tak seorangpun akan dapat membantah pernyataan allah
tersebut karena dengan ayat itulah diketahui bahwa manusia berasal
dari tanah. Akan tetapi, ada yang langsung cetak dari tanah dan ada
yang melalui proses perkawinan antara manusia yang berbeda gendernya.
Cairan
air mani disebut pula dengan air mani. Oleh karena itu, manusiaa
berasal dari air. Allah menyatakan perihal itu dalam Al-qur'an
QS.Al-Furqan : 54 "Dan
Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia
itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa".
Perihal
penciptaan manusia pertama, Allah menerangkan didalam QS. Annisa : 1.
Menurut Muhammad Rasyid Ridha (1983: 56), "Nafsun
Waahidatun"
adalah nenek moyang yang sama, artinya bukan adam . adapun secara
langsung diciptakan dari jia adam hanyalah hawa karena ia di ciptakan
allah dari tulang rusuk Adam, sedangkan manusia keturuna diciptakan
dalam proses yang berbeda-beda akan tetapi, mayoritas mufasir
menyataka bahwa kata "Nafsun
Waahidatun "
artinya Adam , maka manusia seluruhnya keturunan adam, baik yang
jalur langsung Qabil, Habil, Iklima dan Labuda maupun jalur yang
terjauh. Demikian pula penjelasan Allah, yang terdapat dalam alqur'an
surat Al-Hijr ayat 28-29 "Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
"Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah
liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk .
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup
kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan
bersujud"
Tubuh
manusia dibentuk secara langsung oleh Allah dengan bentuk yang
sempurna. Allah memliki kehendak sendiri dalam pembentukannya. Bentuk
tubuh manusia beragam. Mata, hidung, bibir, rambut, otak, tinggi
badan, warna kulit pun berbeda dan secara psikologispun, manusia
berbeda-beda. Untuk itulah Allah berfirman dalam QS. At-Tin : 4
"sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya"
Manusia
diciptakan melalui tahap-tahap tertentu. Perkembangan dan pertumbuhan
manusia dapat dilihat dengan dua pendekatan, yaitu Pendekatan
biologis dan psikologis "Padahal
Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan
kejadian"
Demikian
pula, firman-Nya dalam Al-qur'an surat Al-Mu'minun ayat 12-14
dijelaskan bahwa perkembangan manusia didalam rahim ibu berproses
secara bertahap, dan pernyataan Allah dalam ayat tersebut telah
dibuktkan oleh berbagai ilmu kedokteran di bidang geneologi . pada
prinsipnya, perkembangan manusia berprose secara alamiah dan tidak
mengenal kata berhenti. Setiap perkembangan yang terjadi secara
fisikal akan memberikan pengaruh kepada kejiwaan manusia yang
mengikuti pola terarah.
-
Potensi
manusia
Allah Ta’ala membekali
manusia dengan at-thaqah –potensi-,
yaitu as
sam’u s (pendengaran), al-basharu (penglihatan),
dan al-fuadu (hati).
Banyak sekali firman Allah Ta’ala yang
menyebutkan tentang hal ini, diantaranya adalah.
قُلْ
هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ
لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ
وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
“Katakanlah:
‘Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati’. (Tetapi) amat sedikit kamu
bersyukur.”
Allah Ta’ala menganugerahkan
telinga kepada manusia yang dengannya ia dapat mendengarkan
ajaran-ajaran agama Allah yang disampaikan kepadanya oleh rasul-rasul
Allah. Dianugerahi-Nya pula manusia mata yang dengannya ia dapat
melihat, memandang dan memperhatikan kejadian alam semesta ini.
Diberi-Nya manusia hati, akal dan pikiran untuk memikirkan,
merenungkan, menimbang dan membedakan mana yang baik bagimu dan mana
yang tidak baik, mana yang bermanfaat dan mana pula yang tidak
bermanfaat. Sebenarnya dengan anugerah-Nya itu manusia dapat mencapai
semua yang baik bagi dirinya sebagai makhluk Allah.
Firman-Nya
yang lain:
وَاللَّهُ
أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ
لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ
السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ
لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak
mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan
dan hati, agar kamu bersyukur.”
Allah Ta’ala mengeluarkan
manusia dari rahim ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa.
Tetapi sewaktu masih di dalam rahim, Allah Ta’alamenganugerahkan
bakat dan kemampuan pada diri manusia, seperti bakat berpikir,
mengindra dan lain sebagainya.
Setelah
manusia itu lahir, dengan hidayah Allah Ta’ala segala
bakat-bakat itu berkembang. Akalnya dapat memikirkan tentang
kebaikan, kejahatan, kebenaran dan kesalahan, hak dan batal. Dan
dengan bakat pendengaran dan penglihatan yang telah berkembang itu
manusia mengenali dunia sekitarnya dan mempertahankan hidupnya serta
mengadakan hubungan sesama manusia. Dan dengan perantaraan akal dan
indra itu pengalaman dari pengetahuan manusia dari hari ke hari
semakin bertambah dan berkembang. Kesemuanya itu merupakan rahmat dan
anugerah Tuhan kepada manusia yang tidak terhingga.
Karena
itu seharusnyalah manusia bersyukur kepada-Nya dengan
menjalankan al-mas’uliyyah (tanggung
jawab) yang telah dipikulkan kepadanya, yakni mempergunakan segala
nikmat Allah Ta’ala itu
untuk beribadah dan patuh kepada-Nya.
وَمَا
خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ
“Dan
aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi kepada-Ku.”
Di
saat memikul al-mas’uliyyah itu,
ada dua pilihan di hadapan manusia; apakah menindaklanjutinya
dengan al-amanah (sikap
amanah) atau dengan al-khiyanah (sikap
khianat).
Mereka
yang memilih sikap amanah, di dunia ini akan dianugerahi
kehormatan al-khilafah (kepemimpinan),
sebagaimana disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam
kitab-Nya.
وَعَدَ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ
فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ
مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ
دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ
وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ
خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا
يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ
بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ
الْفَاسِقُونَ
“Dan
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu
dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan
menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah
menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan
meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka,
dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka
dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku
dengan tiada mempersekutukan sesu atu apapun dengan Aku. Dan
barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka
itulah orang-orang yang fasik.” (QS.
An-Nur, 24: 55)
Berkenaan
dengan al-khilafah ini
ada beberapa hal yang harus diperhatikan manusia:
Pertama, manusia
bukan pemilik yang hakiki (‘adamu
haqiqatil mulkiyah),
karena Pemilik yang hakiki adalah Allah Ta’ala.
هُوَ
اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ
الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ
الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ
الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ
اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Dialah
Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha
Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang
Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha
Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS.
Al-Hasyr, 59: 23)
Allah
itu merajai segala apa yang di bumi dan di langit, bertasbih
kepada-Nya dengan kehendak-Nya berdasarkan kekuasaan dan
kebijaksanaan-Nya, suci dari segala yang tidak layak dan tidak sesuai
dengan ketinggian dan kesempurnaan-Nya. Tuhan Yang Maha Perkasa,
menundukkan segala makhluk-Nya dengan kekuasaan-Nya, Maha Bijaksana
dalam mengatur hal ihwal mereka. Dia-lah yang lebih mengetahui
kemaslahatan mereka, yang akan membawa mereka kepada kebahagiaan
mereka di dunia dan di akhirat kelak.
يُسَبِّحُ
لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا
فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ
الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
“Senantiasa
bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di
bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.” (QS.
Al-Jumu’ah, 62: 1)
Kedua, manusia
harus mengembannya sesuai dengan kehendak pihak yang mewakilkan
kepemimpinan tersebut ( at-tasharruf
bi-iradatil mustakhlif),
yakni Allah Ta’ala.
Apa
yang dikehendaki Allah Ta’ala dari
mereka yang telah diberi kekuasaan di muka bumi?
Dia
berfirman,
الَّذِينَ
إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ
أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ
وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا
عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ
الْأُمُورِ
“(yaitu)
orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi
niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat
ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada
Allah-lah kembali segala urusan.” (QS.
Al Hajj, 22: 41)
Ayat
di atas menegaskan bahwa mereka yang diberi kekuasaan di muka bumi
hendaknya melakukan hal-hal berikut ini:
-
Mendirikan
shalat pada setiap waktu yang telah ditentukan sesuai dengan yang
diperintahkan Allah. Makna yang lebih luas adalah bahwa para
pemimpin Islam hendaknya membimbing umat Islam agar menjalankan
shalat dan peribadahan dengan konsekuen, mengarahkan mereka agar
menjaga hubungan dengan Allah Ta’ala,menjaga
akhlak, keimanan, dan ketakwaan mereka. Karena salah satu tujuan
dari shalat adalah menyucikan jiwa dan raga, mencegah manusia dari
perbuatan keji dan perbuatan mungkar serta mewujudkan takwa yang
sebenarnya.
-
Menunaikan
zakat. Makna yang lebih luas adalah bahwa para pemimpin Islam
hendaknya mengarahkan umatnya agar meyakini bahwa di dalam harta si
kaya terdapat hak orang-orang fakir dan miskin. Dengan kata lain,
seorang pemimpin Islam hendaknya berupaya mewujudkan solidaritas
sosial di tengah-tengah umatnya, diantaranya adalah dengan
menegakkan syariat zakat.
-
Menyuruh
manusia berbuat makruf dan
mencegah perbuatanmunkar.
Para pemimpin Islam memiliki tugas untuk mendorong manusia
mengerjakan amal saleh, memimpin manusia malalui jalan lurus yang
dibentangkan Allah, dan dengan kekuatannya, mereka mencegah
orang-orang yang biasa mengerjakan larangan-larangan Allah. Dengan
kata lain, seorang pemimpin Islam berkewajiban menjalankan fungsi
kontrol sosial.
Tindakan
mereka sesuai dengan firman Allah Ta’ala,
كُنْتُمْ
خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ
عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada
Allah.” (QS.
Ali Imran, 3: 110)
Ketiga, dalam
mengembannya manusia tidak boleh menentang peraturan yang telah
ditentukan oleh Allah Ta’ala (‘adamut
ta’addi ‘alal hudud).
Sebagai
pengemban khilafah, manusia wajib melaksanakan peraturan Allah dan
menjaganya. Allah Ta’ala menyebutkan
bahwa salah satu ciri-ciri orang beriman itu adalah,
وَالْحَافِظُونَ
لِحُدُودِ اللَّهِ
“…dan
yang memelihara hukum-hukum Allah.” (QS.
At-Taubah, 9: 112)
Jadi,
sebagai individu dan pemimpin, manusia harus berupaya menjaga diri
dan umatnya agar tidak melampaui batas dan ketentuan yang telah
ditetapkan Allah Ta’ala,
yaitu berupa syariat dan hukum-hukum-Nya demi kebahagiaan mereka di
dunia dan di akhirat.
Bagi
manusia yang memilih sikap khianat, maka Allah Ta’ala akan
mengazab dan menghinakannya, na’udzubillahi
min dzalik. Mereka
yang tidak mau menggunakan potensi dirinya untuk beribadah, diumpakan
oleh Allah Ta’ala dengan
berbagai perumpamaan yang hina:
Kal
an’am (bagaikan
binatang ternak).
وَلَقَدْ
ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ
الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ
لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ
لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ
لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ
كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ
أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Dan
sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari
jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya
untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi)
tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah),
dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk
mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak,
bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang
lalai.” (QS.
Al-A’raf, 7: 179)
Kal
kalbi (bagaikan
anjing).
وَلَوْ
شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ
أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ
هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ
إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ
تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ
الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا
فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ
يَتَفَكَّرُونَ
“Dan
kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya
dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan
menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti
anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu
membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah
perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka
ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka
berfikir.”(QS.
Al-A’raf, 7: 176)
Kal
qirdi (seperti
monyet dan kal
khinzir (seperti
babi).
قُلْ
هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ
مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ
اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ
مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ
وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ
مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ
السَّبِيلِ
“Katakanlah:
‘Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih
buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu
orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada)
yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut
?’. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan
yang lurus.” (QS.
Al-Maidah, 5: 60)
Kutukan
yang disebutkan dalam ayat di atas -dan juga disebutkan dalam surat
Al-Baqarah ayat 65 adalah menceritakan tentang orang-orang Yahudi
pada masa lalu yang melanggar ketentuan yang terdapat di dalam
Taurat. Mereka meninggalkan kewajiban beribadah pada hari Sabtu hanya
karena ingin melakukan pekerjaan duniawi menangkap ikan di laut,
dimana pada hari itu ikan-ikan di laut bermunculan dan mudah
ditangkap.
Menurut
Mujahid, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, “Fisik mereka
tidak ditukar menjadi kera, tetapi hati, jiwa dan sifat mereka
dirubah menjadi seperti kera. Oleh sebab itu mereka tidak dapat
menerima pengajaran dan tidak dapat memahami ancaman”
Namun,
jumhur ulama berpendapat, bahwa mereka benar-benar bertukar rupa
menjadi kera. Disebut di dalam riwayat lain bahwa mereka yang dirubah
menjadi kera itu, tidak beranak, tidak makan, tidak minum dan tidak
dapat hidup lebih dari tiga hari.
Mengenai
kutukan ini Ibnu Mas’ud berkata,
سَأَلْنَا
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ عَنِ الْقِرَدَةِ وَالْخَنَازِيرِ،
أَهِيَ مِنْ نَسْلِ الْيَهُودِ؟ فَقَالَ:
“لَا
إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَلْعَنْ قَوْمًا
فَيَمْسَخُهُمْفَكَانَ لَهُمْ نَسْلٌ،
وَلَكِنْ هَذَا خَلْقٌ كَانَ، فَلَمَّا
غَضِبَ اللَّهُ عَلَى الْيَهُودِ
فَمَسَخَهُمْ، جَعَلَهُمْ مِثْلَهُمْ”.
“Kami
pernah bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
tentang kera dan babi, ‘Apakah kera dan babi yang ada sekarang
merupakan keturunan dari orang-orang Yahudi ?’. Maka Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Tidak, sesungguhnya Allah
sama sekali belum pernah mengutuk suatu kaum, lalu membiarkan mereka
berketurunan. Tetapi kera dan babi yang ada merupakan makhluk yang
telah ada sebelumnya. Dan ketika Allah murka terhadap orang-orang
Yahudi, maka Dia mengutuk mereka dan menjadikan mereka seperti kera
dan babi.’” (HR.
Muslim)
Kal
khasabi (seperti
kayu).
وَإِذَا
رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ
وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ
كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ
يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ
هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ
اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ
“Dan
apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu
kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka.
Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa
tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah
musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka;
semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai
dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS.
Al-Munafiqun, 63: 4)
Ayat
di atas menyebutkan tentang orang-orang munafik. Mereka memiliki
penampilan yang baik, pandai berbicara, dan berlisan fasih. Perkataan
mereka membuat pendengarnya akan terpesona. Padahal kenyataannya hati
mereka sangat lemah, rapuh, mudah sok, penakut, dan pengecut. Kalbu
mereka kosong dari iman. Mereka bagaikan kayu yang tersandar, tak ada
kehidupan dalam diri mereka. Manakala terdengar seruan sebagaimana
seruan di dalam kemiliteran, atau bagaikan seruan orang yang mencari
barang yang hilang, mereka rasakan hal itu ditujukan kepada mereka.
Demikian itu karena hati mereka sudah memendam rasa kecut dan takut
terhadap hal-hal yang akan menimpa mereka yang memperbolehkan darah
mereka dialirkan.
Kal
hijarah (seperti
batu).
ثُمَّ
قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ
فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ
قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ
لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ
وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ
فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ
مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ
اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا
تَعْمَلُونَ
“Kemudian
setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras
lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir
sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah
lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang
meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali
tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS.
Al-Baqarah, 2: 74)
Ayat
di atas berbicara tentang watak orang-orang Yahudi. Sesudah mereka
diberi petunjuk ke jalan yang benar dan mereka sudah pula memahami
kebenaran itu, mereka lari darinya dan hati mereka mengeras seperti
batu bahkan lebih keras lagi. Padahal sekeras apa pun batu, oleh
suatu sebab dapat terbelah atau retak. Lalu memancarlah air dan
kemudian berkumpul menjadi anak-anak sungai. Kadang-kadang batu-batu
itu jatuh dari gunung karena patuh kepada kekuasaan Allah. Tapi, hati
orang Yahudi lebih keras dari batu bagaikan tak mengenal retak
sedikit pun. Hati mereka tak terpengaruh oleh ajaran-ajaran agama
ataupun nasihat-nasihat yang biasanya dapat menembus hati manusia.
Kal
himar (seperti
keledai).
مَثَلُ
الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ
لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ
يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ
الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ
اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ
الظَّالِمِينَ
“Perumpamaan
orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada
memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang
tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat
Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang
zalim.” (QS.
Al-Jum’ah, 62: 5)
Orang
yang tidak mau mengamalkan isi kitabullah diumpamakan
oleh AllahTa’ala seperti
keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Bahkan mereka lebih
bodoh lagi dari keledai, karena keledai itu memang tidak mempunyai
akal untuk memahaminya sedangkan mereka itu mempunyai akal tetapi
tidak dipergunakanan.
Kal
‘ankabut (seperti
laba-laba).
مَثَلُ
الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ
أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ
اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ
الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ
لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Perumpamaan
orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah
seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang
paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS.
Al-Ankabut, 29: 41)
Orang
yang berkhianat kepada Allah Ta’ala, yakni
mereka yang berbuat musyrik, tak ubahnya bagaikan laba-laba yang
membuat sarang, sangat rapuh dan lemah, sebab sarang laba-laba itulah
ibarat dari suatu bangunan rumah yang sangat rapuh. Oleh karena
itu, at-thaqah (potensi), as-sam’u (pendengaran), al-basharu(penglihatan),
dan al-fuadu (hati)
yang telah dianugerahkan Allah Ta’ala
kepada kita harus dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh untuk
menjalankan amanah, sehingga Allah Ta’ala akan
memuliakan kita di dunia dan akhirat.
-
Manusia
dan Agama
Al-qur'anul
karim telah mengungkapkan bahwa Allah SWT menyimpankan agama pada
lubuk jiwa manusia :
Hadapkanlah
wajahmu dengan lurus kepada agama Allah tetaplah atas fitrah Allah
yang telah menciptakan manusia sesuai dengan fitrah Ar-rum
: 30
Hubungan
Manusia dengan Agama
Tujuan
penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah sebagai
pencipta alam semesta. Allah sendiri yang mencipta dan memerintahkan
ciptaan-Nya untuk beribadah kepada-Nya, juga menurunkan panduan agar
dapat beribadah dengan benar. Panduan tersebut diturunkan Allah
melalui nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya, dari Adam AS hingga Muhammad
SAW. Nabi-nabi dan rasul-rasul tersebut hanya menerima Allah sebagai
Tuhan mereka dan Islam sebagai panduan kehidupan mereka. Beribadah
diartikan secara luas meliputi seluruh hal dalam kehidupan yang
ditujukan hanya kepada Allah. Kita meyakini bahwa hanya Islamlah
panduan bagi manusia menuju kebahagiaan dunia dan akherat. Islam
telah mengatur berbagai perihal dalam kehidupan manusia. Islam
merupakan sistem hidup, bukan sekedar agama yang mengatur ibadah
ritual belaka.
Sayangnya,
pada saat ini, kebanyakan kaum muslim tidak memahami hal ini. Mereka
memahami ajaran Islam sebagaimana para penganut agama lain memahami
ajaran agama mereka masing-masing, yakni bahwa ajaran agama hanya
berlaku di tempat-tempat ibadah dan dilaksanakan secara ritual, tanpa
ada aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut biasanya
disebabkan karena dua hal: Pertama, terjadinya gerakan pembaruan di
Eropa yang fikenal sebagai Renaissance dan Humanisme,
sebagai reaksi masyarakat yang dikekang oleh kaum gereja pada masa
abad pertengahan atau Dark
Ages,
kaum gereja mendirikan mahkamah inkuisisi yang digunakan untuk
menghabisi para ilmuwan, cendikiawan, serta pembaharu. Setelah itu,
pada masaRenaissance,
masyarakat menilai bahwa Tuhan hanya berkuasa di gereja , sedangkan
di luar itu masyarakat dan rajalah yang berkuasa. Paham dikotomis ini
kemudian dibawa ke Asia melalui penjajahan yang dilakukan oleh
bangsa-bangsa Eropa; Kedua, masih adanya ulama-ulama yang jumud, kaku
dalam menerapkan syariat-syariat Islam, tidak dapat atau tidak mau
mengikuti perkembangan jaman. Padahal selama tidak melanggar
Al-Qur’an dan Hadits, ajaran-ajaran Islam adalah luwes dan dapat
selalu mengikuti perkembangan zaman. Akibat kejumudan tersebut,
banyak kalangan masyrakat yang merasa takut atau kesulitan dalam
menerapkan syariat-syariat Islam dan menilainya tidak aplikatif. Ini
membuat masyarakat semakin jauh dari syariat Islam.
Paham
dikotomis melalui sekularisme tersebut antara lain dipengaruhi
terutama oleh pemikiran August Comte melalui bukunya Course
de la Philosophie Positive (1842)
mengemukakan bahwa sepanjang sejarah pemikiran manusia berkembang
melalui tiga tahap: (1) tahap teologik, (2) tahap metafisik, dan (3)
tahap positif; pemikiran tersebut melahirkan
filsafat positivisme yang
mempengaruhi ilmu pengetahuan sosial dan humaniora,
melalui sekularisme.
Namun teori tersebut tidaklah
benar,
sebab perkembangan pemikiran manusia tidaklah demikian, seperti pada
zaman modern ini (tahap ketiga), manusia masih tetap percaya pada
Tuhan dan metafisika, bahkan kembali kepada spiritualisme.
Sejarah
umat manusia di barat menunjukkan bahwa dengan mengenyampingkan agama
dan mengutamakan ilmu dan akal manusia semata-mata telah membawa
krisis dan malapetaka. Atas pengalamannya tersebut, kini perhatian
manusia kembali kepada agama, karena: (1) Ilmuwan yang selama ini
meninggalkan agama, kembali pada agama sebagai pegangan hidup yang
sesungguhnya, dan (2) harapan manusia pada otak manusia untuk
memecahkan segala masalah di masa lalu tidak terwujud.
Kemajuan
ilmu pengetahuan telah membawa manusia pada tingkat kesejahteraan
yang lebih tinggi, namun dampak negatifnya juga cukup besar
berpengaruh pada kehidupan manusia secara keseluruhan. Sehingga untuk
dapat mengendalikan hal tersebut diperlukan agama, untuk diarahkan
untuk keselamatan dan kebahagiaan umat manusia.
Sehingga
dapat disimpulkan bahwa agama sangat diperlukan oleh manusia sebagai
pegangan hidup sehingga ilmu dapat menjadi lebih bermakna, yang dalam
hal ini adalah Islam. Agama Islam adalah agama yang selalu mendorong
manusia untuk mempergunakan akalnya memahami
ayat-ayat kauniyah (Sunnatullah)
yang terbentang di alam semesta dan ayat-ayat qur’aniyah yang
terdapat dalam Al-Qur’an, menyeimbangkan antara dunia dan akherat.
Dengan ilmu kehidupan manusia akan bermutu, dengan agama kehidupan
manusia akan lebih bermakna, dengan ilmu dan agama kehidupan manusia
akan sempurna dan bahagia.
-
Kebutuhan
Manusia terhadap Agama
Manusia
dalam kehidupannya mempunyai kebutuhan yang banyak sekali. Adanya
kebutuhan hidup inilah yang mendorong manusia untuk melakukan
berbagai tindakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan ter-sebut. Begitu
pula kebutuhan manusia terhadap agama. Dari sudut pan-dang
kebahasaan, “agama”
berasal dari bahasa Sansakerta yang artinya “tidak kacau”. Agama
diambil dari dua akar suku kata, yaitu a
yang
berarti “tidak” dan gama
yang
berarti “kacau”. Hal ini mengandung pe-ngertian bahwa agama
adalah suatu peraturan yang mengatur kehidupan manusia agar tidak
kacau. Dalam bahasa Arab, istilah agama disebut “dīn”,
berarti “ajaran tentang ketaatan absolut (kepada Tuhan, Allah)”,
pemahaman ini benar-benar sesuai dengan konsep “Islam”,
yang berarti “ Manusia
dan Agama. ketundukan
penuh (kepada Tuhan)”. Menurut para salaf
al- shālih se-bagaimana
yang dikutip oleh Atiqullah, agama adalah suatu keimanan manusia akan
adanya Allah Swt yang ditetapkan kebenarannya melalui perasaan iman
(qalb),
diucapkan dengan kata-kata (lisan),
dan melak-sanakan dengan perbuatan.
Dalam
pandangan positivism
atau materialism,
jika sains dan tek-nologi sudah maju, masyarakat tidak membutuhkan
agama lagi sebab semua kebutuhan dan keinginan mereka sudah terpenuhi
oleh sains dan teknologi. Sepintas pernyataan tersebut ada benarnya,
tetapi ketika dire-nungkan lebih dalam timbul persoalan. Apakah
keinginan manusia betul-betul mampu dipenuhi oleh sains dan
teknologi? Bagaimana ia mampu memenuhi keinginan yang tidak terbatas,
seperti dia tidak ingin mati. Apakah teknologi yang sangat canggih
itu mampu mengatasi persoalan tersebut? Kalau memang ada teknologi
yang mampu mengatasi persoalan tersebut akan dipastikan semua orang
akan menganut faham ini. Ternyata pandangan materialism
tersebut tidak
dapat dipertanggungjawabkan ka-rena alur pikirannya tidak logis.
Kebanyakan ahli
studi keagamaan sepakat bahwa agama sebagai sumber nilai, sumber
etika, dan pandangan hidup yang dapat diperankan dalam kehidupan
bermasyarakat dan berbangsa. Ada beberapa alasan yang
melatarbelakangi perlunya manusia terhadap agama. Alasan-alasan
tersebut secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut:
-
Fitrah
beragama
Fitrah
ini merupakan potensi bawaan yang memberikan kemam-puan kepada
manusia untuk selalu tunduk, taat melaksanakan perintah Tuhan sebagai
pencipta, penguasa dan pemelihara alam semesta. Dalam al-Qur‟an
dinyatakan bahwa fitrah beragama sudah tertanam ke dalam jiwa manusia
semenjak dari alam arwah dahulu, yaitu sewaktu ruh manusia belum
ditiupkan oleh Allah ke dalam jasmaninya. Pada waktu itu, Allah
bertanya kepada ruh-ruh manusia: “Bukankah
Aku ini Tuhanmu?”
kemudian ruh-ruh manusia itu menjawab: ”Benar,
kami telah menyaksikan.”
Hubungan
manusia dan agama tampaknya merupakan hubungan yang bersifat kodrati.
Agama itu sendiri menyatu dalam fitrah pencip-taan manusia. Terwujud
dalam bentuk ketundukan, kerinduan ibadah, serta sifat-sifat luhur.
Manakala dalam menjalankan kehidupannya, manusia menyimpang dari
nilai-nilai fitrahnya, maka secara psikologis ia akan merasa adanya
semacam “hukuman moral”. Lalu spontan akan muncul rasa bersalah
atau rasa berdosa.
-
Kemampuan
manusia terbatas
Dalam
masyarakat sederhana banyak peristiwa yang terjadi dan berlangsung di
sekitar manusia dan di dalam manusia, tetapi tidak dipahami oleh
mereka yang tidak dipahami itu dimasukkan ke dalam kategori ghaib.
Karena banyak hal atau peristiwa ghaib ini menurut pendapat mereka,
mereka merasakan hidup dan kehidupan penuh de-ngan keghaiban.
Menghadapi peristiwa ghaib ini mereka merasa lemah tidak berdaya.
Untuk menguatkan diri, mereka mencari perlindungan pada kekuatan yang
menurut mereka menguasai alam ghaib yaitu Dewa atau Tuhan. Atas dasar
itulah, manusia sangat memerlukan agama. Karena dengan agama manusia
dapat mengetahui dan mema-hami sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh
akal pikiran yang dimiliki manusia. Karena di samping manusia
memiliki berbagai kesempurnaan manusia juga memiliki kekurangan.
-
Tantangan
Manusia Beragama
Manusia
dalam kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik
yang datang dari dalam maupun dari luar. Pertama,
tan-tangan
dari dalam dapat berupa dorongan hawa nafsu dan bisikan setan.
Mengacu pada latar belakang sejarah penciptaannya, tampaknya manusia
selaku banī
ādam,
memang termasuk makhluk yang bermasalah. Banī
ādam memiliki
peluang untuk digoda setan. Karena itu, selaku makhluk yang
diciptakan untuk jadi “khalifah”, maka manusia selalu
diperingatkan oleh Allah agar selalu berhati-hati terhadap godaan
setan.55 Setan selalu ada, siap untuk menggodanya agar melakukan
kejahatan yang akan mem-buatnya gagal dalam cobaan. Dalam cerita Adam
dan setan, al-Qur‟an menceritakan bahwa iblis meminta kepada Allah
untuk ditangguhkan siksanya sampai waktu mereka dibangkitkan. Dalam
waktu penangguhan inilah setan akan menjerumuskan manusia untuk
berpaling dari jalan yang lurus dan mendatangi manusia dari depan,
belakang, kiri dan kanan se-hingga kebanyakan dari mereka tidak
bersyukur.
Menurut
Fazlurrahman, kehidupan manusia adalah “suatu perju-angan moral
yang tiada henti”. Jika dia mengabaikan perjuangan ini se-saat
saja, dia dapat dengan mudah terperangkap oleh setan. Hal ini ka-rena
manusia sebagai makhluk biologis yang berasal dari tanah dia
cende-rung terbujuk oleh godaan kehidupan keduniaan dan mengikutinya.
Kehidupan spiritual adalah sesuatu yang sulit baginya, dan dia harus
mengatasi daya tarik nafsu dan godaan-godaan duniawi yang lain.
Kedua,
tantangan
dari luar dapat berupa rekayasa dan upaya-upaya yang dilakukan
manusia yang secara sengaja berupaya ingin me-malingkan manusia dari
Tuhan. Mereka dengan rela mengeluarkan biaya, tenaga, dan pikiran
yang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk ke-budayaan yang di
dalamnya mengandung misi menjauhkan manusia dari Tuhan. Sebagaimana
firman Allah dalam al-Qur‟an yang artinya “Sesung-guhnya
orang-orang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk meng-halangi
(orang) dari jalan Allah”.
(Qs. Al-Anfal : 36)
Orang-orang
kafir itu sengaja mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mereka
gunakan agar orang mengikuti keinginannya. Ber-bagai bentuk budaya,
hiburan, obat-obat terlarang dan lain sebagainya di-buat dengan
sengaja. Untuk itu, upaya mengatasi dan membentengi ma-nusia adalah
dengan mengajar mereka agar taat menjalankan agama. Godaan dan
tantangan hidup demikian itu, saat ini semakin meningkat,
sehingga upaya
meningkatkan perilaku keberagamaan masyarakat men-jadi penting.