Senin, 24 Februari 2014

Proses dan Interaksi Sosial



    Pengertian Proses Sosial dan Interaksi Sosial

Proses sosial adalah hubungan pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama.Adapun menurut Soerjono Soekanto proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dilihat apabila orang peroarangan dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menemukan sistem serata bentuk-bentuk hubungan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang telah ada. Pengertian ini sangat luas karena mencakup hal yang nyata dan tidak nyata, proses sosial menjadi hal yang penting dalam pembahasan sosiologi karena pengetahuan tentang struktur masyarakat saja tidak cukup untuk memperoleh gambaran nyata mengenai kehidupan bersama manusia.
Adapunpengertian proses sosialmenurutparaahlilainnya, sebagaiberikut :
a)      Soerdjono Dirdjosisworo; mengartikan proses sosial sebagai pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama.
b)      Gillin dan Gillin; proses-proses sosial adalah cara berhubungan yang dapat dilihat apabila orang perorangan dan kelompok-kelompok manusia saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya cara-cara hidup yang telah ada.

       Ciri-ciri dan Tujuan Interaksi Sosial
     Ciri-ciri Interaksi Sosial
            Menurut Charles P. Loomus, sebuah hubungan itu bisa dikatalan interaksi sosoal jika memiliki ciri-ciri hubungan sebagai berikut :
a)      Jumlah pelakunya adalah dua orang atau lebih.
b)      Adanya kominikasi antar pelaku dengan menggunakan simbol-simbol atau lambang.
c)      Adanya suatu dimansi waktu yang meliputu masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.
d)     Adanya tujuan yang hendak dicapai.


 Tujuan Interaksi Sosial
Tujuan yang hendak dicapai dari interaksi sosial adalah :
a)      Terciptanya hubungan yang harmonis.
b)      Terciptanya tujuan hubungan dan kepentingan.
c)      Sebagai sarana dalam menciptakan keteraturan hidup (kehidupan sosial masyarakat).

 Faktor – Faktor Penyebab Interaksi Sosial
a)      Faktor Internal
Adapun yang menjadi dorongan dari dalam diri seseorang untuk berinteraksi sosial meliputi hal-hal berikut :
1)      Dorongan untuk meneruskan keturunan.
2)      Dorongan untuk memenuhi kehidupan.
3)      Dorongan untuk mempertahankan kehidupan.
4)      Dorongan nutuk berkomunikasi.

b)      Faktor Eksternal
1)      Faktor Imitasi
Yaitu proses sosial atau tindakan seseorang untuk meniru orang lain, baik sikap penampilan, gaya hidupnya, bahkan apa-apa yang dimilikinya. Imitasi pertama kali muncul di lingkungan tetangga dan lingkungan masyarakat.
2)      FaktorSugesti
Adalahrangsangan, ataupengaruh, stimulus yang diberikanseorangindivudukepadaindividu lain sehingga orang yang diberisugestimenurutiataumelaksanakantanpaberpikirkritisdanrasional.
3)      FaktorIdentifikasi
Adalah upaya yang dilakukan oleh seseorang individu untuk menjadi sama (identik) dengan individu lain yang ditirunya. Proses identifikasi tidak hanya terjadi melalui serangkaian proses peniruan pola perilaku saja, tetapi juga melalui proses kejiawaan yang sangat mendalam.
4)      FaktorSimpati
Yaitu proses kejiwaan dimana seorang individu merasa tertarik kepada seseorang atau kelompok orang dikarenakan sikapnya, penampilannya, wibawanya atau perbuatannya yang sedemikian rupa.
5)      FaktorMotivasi
Yaitu rangsangan, pengaruh, stimulus yang diberikan seorang individu kepada individu lain, sehingga orang yang diberi motivasi menuruti atau melaksanakan apa yang dimotivasikan secara kritis, rasional dan penuh rasa tanggung jawab. Motivasi biasanya diberikan oleh orang yang memiliki status yang lebih tinggi dan berwibawa. Contohnya : motivasi dari seorang ayah kepada anaknya dan dari seorang guru kepada siswa.
6)      FaktorEmpati
Faktorempatimiripdengansimpati, akantetapitidaksemata-mataperasaankejiwaansaja. Empatidibarengidenganperasaanorganismetubuh yang sangatdalam (intens).

    
      Syarat-syarat Terjadinya Interaksi Sosial

Terjadinyainteraksisosialsebagaimanadimaksud, karenaadanyasalingmengertitentangmaksuddantujuanmasing-masingpihakdalamsuatuhubungansosial.Dalam proses sosialbarudapatdikatakanterjadiinteraksisosial, apabilatelahmemenuhipersyaratansebagaiaspekkehidupanbersama, yaituadanyakontaksosialdankomunikasisosial.

a)      KontakSosial (Social Contact)
   Kontaksosialadalahhubunganantarasatu orang ataulebih, melaluipercakapandengansalingmengertitentangmaksuddantujuanmasing-masingdalamkehidupanmasyarakat.Kontaksosialdapatterjadisecaralangsungmaupuntidaklangsungantarapihaksatudenganpihaklainnya.Kontaksosialtidaklangsungadalahkontaksosial yang menggunakanalatsebagaiperantaranya.Misalnya :melaluitelepon, radio, surat, dan lain-lain.
b)      Komunikasi (Communication)
   MenurutSoerjonoSoekanto, komunikasiadalahbahwaseseorangmemberikantafsiranpadaperilaku orang lain (yang berwujudpembicaraan, gerak-gerakbadaniahatausikap) perasaan-perasaanapa yang ingindisampaikanoleh orang lain tersebut. Denganadanyakomunikasi, makasikapdanperasaan di satupihak orang atausekelompok orang dapatdiketahuidandipahami.


     Bentuk-bentuk Interaksi Sosial

            Interaksi sosial dapat terjadi dalam berbagai bentuk, yaitu kerja sama, persaingan, pertikaian atau pertentangan dan akomodasi. Bentuk-bentuk tersebut dapat terjadi secara berantai terus-menerus, bahkan dapat berlangsung seperti lingkaran tanpa berujung. Misalnya suatu pertikaian untuk sementara waktu dapat diselesaikan (akomodasi), kemudian dapat bekerja sama, berubah menjadi persaingan dan apabila persaingan ini memuncak maka dapat terjadi pertikaian. Proses-proses interaksi yang pokok adalah sebagai berikut :

       Proses-proses yang Asosiatif
a)      Kerja Sama (Cooperation)
  Kerja sama adalah suatu bentuk proses sosial, dimana di dalamnya terdapat aktivitas tertentu yang ditujukan untuk mencapai tujuan bersama dengan saling membantu dan saling memahami terhadap aktivitas masing-masing. Roucek dan Warren mengatakan bahwa kerja sama berarti bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama.
Menurut Charles Horton Cooley, kerja sama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut melalui kerja sama.
Menurut James D. Thompson dan William J. Mc Ewen ada 5 (lima) bentuk kerja sama yaitu :
1)      Kerukunan yang mencakup gotong-royong dan tolong-menolong.
2)      Bargaining, yaitu pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan jasa-jasa antara dua organisasi atau lebih.
3)      Kooptasi (Cooptation), yakni suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan.
4)      Koalisi (Coalition), yaitu kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sama.
5)      Joint Venture, yaitu kerja sama dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu. Misalnya pengeboran minyak, perhotelan perfilman, pengelolaan pelabuhan dan lain sebagainya.

b)      Akomodasi (Accomodation)
Akomodasi adalah suatu keadaan hubungan antara kedua belah pihak yang menunjukkan keseimbangan yang berhubungan dengan nilai dan norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Menurut Soedjono, akomodasi adalah suatu keadaan dimana suatu pertikaian atau konflik mendapat penyelesaian sehingga terjalin kerja sama yang baik kembali.
Tujuan akomodasi (menurut Soerjono Soekanto) dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapi yaitu :
1)      Untuk mengurangi pertentangan antara orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia sebagai akibat perbedaan paham.
2)      Untuk mencegah meledaknya suatu pertentangan, baik sementara waktu maupun secara temporer.
3)      Untuk memungkinkan terjadinya kerja sama antara kelompok-kelompok sosial yang sebagai akibat faktor-faktor sosial psikologis dan kebudayaan, hidupnya terpisah, seperti misalnya yang dijumpai pada masyarakat-masyarakat dengan sistem berkasta.
4)      Mengusahakan peleburan antara kelompok-kelompok sosial yang terpisah, misalnya melalui perkawinan campuran.

c)      Asimilasi (Assimilation)
Menurut Gillin & Gillin, Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut, ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan bersama.
Koentjaraningrat berpendapat bahwa proses asimilasi timbul bila ada :
1)      Kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaannya.
2)      Orang-perorangan sebagai warga kelompok tadi saling bergaul secara langsung dan insentif untuk waktu yang lama.
3)      Kebudayaan-kebudayaan dari kelompok manusia tersebut masing-masing berubah dan aling menyeseuaikan diri.
Proses asimilasi bila memiliki syarat-syarat sebagai berikut :
1)      Bersifat suatu pendekatan terhadap pihak lain, dimana pihak yang lain tersebut juga berlaku sama.
2)      Tidak mengalami halangan-halangan atau pembatasan-pembatasan.
3)      Bersifat langsung dan primer
4)      Berfrekuensi tinggi dan tetap serta ada keseimbangan
Ada beberapa faktor-faktor yang dapat mempermudah terjadinya suatu asimilasi, antara lain adalah :
1)      Toleransi.
2)      Kesempatan-kesempatan yang seimbang di bidang ekonomi.
3)      Sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya.
4)      Sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat.
5)      Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan.
6)      Perkawinan campuran (amalgamation)
7)      Adanya musuh bersama dari luar.
Ada juga beberapa hal yang dapat menghalangi terjadinya proses asimilasi, yaitu sebagai berikut :
1)      Toleransinya kehidupan suatu golongan tertentu dalam masyarakat
2)      Kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan yang dihadapi dan sehubungan dengan itu sering kali menimbulkan faktor ketiga.
3)      Perasaan takut terhadap kekuatan suatu kebudayaan yang dihadapi.
4)      Perasaan bahwa suatu kebudayaan golongan atau kelompok tertentu lebih tinggi daripada kebudayaan golongan atau kelompok lainnya.
5)      Dalam batas-batas tertentu, perbedaan warna kulit atau perbedaan ciri-ciri badaniah.
6)      In-group feeling.
7)      Gangguan dari golongan yang berkuasa terhadap golongan minoritas.
8)      Perbedaan kepentingan dan pertentangan-pertentangan pribadi.

       Proses-proses yang Disosiatif
a)      Persaingan (Competition)
Persaingan merupakan suatu usaha dari seseorang untuk mencapai sesuatu yang lebih daripada yang lain. Persaingan ini dapat dibedakan menjadi 2 (dua) kelompok yaitu :
1)      Persaingan Pribadi, adalah persaingan yang berlangsung antara individu dengan individu atau individu dengan kelompok secara langsung.
2)      Persaingan Kelompok, adalah persaingan yang berlangsung antara kelompok dengan kelompok.
Persaingan biasanya didorong oleh hal-hal seperti mendapatkan status sosial, memperoleh jodoh, mendapatkan kekuasaan, mendapatkan nama baik, mendapatkan kekayaan, karena perbedaan agama dan lain-lain.

b)      Kontraversi (Competition)
Kontraversi merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan antara pertikaian dan juga merupakan sikap mental yang tersembunyi terhadap orang-orang lain atau terhadap unsur-unsur kebudayaan golongan tertentu.
Bentuk-bentuk kontraversi antara lain adalah sebagai berikut :
1)      Perbuatan penolakan, perlawanan, dan lain-lain.
2)      Menyangkal pernyataan orang lain dimuka umum.
3)      Melakukan penghasutan.
4)       Berkhianat.
5)      Mengejutkan lawan, dan lain-lain.

c)      Pertikaian atau Pertentangan (Conflict)
Pertikaian adalah bentuk persaingan yang berkembang secara negatif, artinya di satu pihak bermaksud untuk mencelakakan atau paling tidak berusaha untuk menyingkirkan pihak lainnya.
Menurut Soedjono, pertikaian adalah suatu bentuk dalam interelasi sosial dimana terjadi usaha-usaha pihak yang satu berusaha menjatuhkan pihak yang lain, atau berusaha mengenyahkan yang lain menjadi rivalnya.
Meskipun demikian, pertikaian tidak selamanya disertai kekerasan, bahkan ada pertikaian yang berbentuk lunak dan mudah untuk dikendalikan, misalnya pertentangan antara orang-orang dalam seminar, dimana perbedaan pendapat bisa diselesaikan secara ilmiah, atau sekurang-kurangnya tidak emosional.
Adapun sebab-sebab yang menimbulkan pertentangan adalah sebagai berikut :
1)      Perbedaan antara individu-individu
2)      Perbedaan kebudayaan
3)      Perbedaan kepentingan
4)      Perubahan sosial
Pertentangan mempunyai bentuk-bentuk antara lain seperti berikut :
1)      Pertentangan pribadi
2)      Pertentangan Rasial
3)      Pertentangan antara kelas-kelas sosial
4)      Pertentangan politik
5)      Pertentangan yang bersifat internasional
Dari bentuk-bentuk pertentangan tersebut akan mengakibatkan dampak-dampak seperti berikut :
1)      Bertambahnya solidaritas in-group
2)      Akan goyah dan retaknya persatuan apabila terjadi pertentangan antara golongan-golongan dalam satu kelompok
3)      Perubahan kepribadian para individu
4)      Hancurnya harta benda dan jatuhnya korban manusia
5)      Akomodasi, dominasi, dan takluknya salah satu pihak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar