DEFINISI PERUBAHAN SOSIAL DAN
KEBUDAYAAN
Para sosilog maupun antropolog telah banyak membahas
definisi perubahan sosial dan kebudayaan. Diantaranya :
William F. Ogburn berusaha memberikan pengertian tertentu,
dia mengemukakan ruang lingkup perubahan-perubahan sosial meliputi unsur-unsur
kebudayaan baik yang material maupun yang immaterial, yang ditekankan adalah
pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial.[[1]]
Kingslay Davis mengartikan peerubahan sosial sebagai
perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.
Misalnya, timbulnya pengorganisasian buruh dalam masyarakat kapitalis telah
menyebabkan perubahan-perubahn dalam hubungan antara buruh dengan majikan
dan seterusnya menyebabkan perubahan-perubahan dalam organisasi ekonomi dan
politik.[3]
MacIver lebih suka membedakan antara utilitarian elements
dengan cultural elements yang didasarkan pada kepentingan-kepentingan manusia
yang primer dan sekunder. Semua kegiatan dan ciptaan manusia dapat
diklasifikasikan ke dalam dua kategori di atas. Sebuah mesin ketik, printer,
atau system keuangan merupakan utilitarian elements karena benda-benda tersebut
tidak langsung memenuhi kebutuhan manusia, tetapi dapat dipakai untuk memenuhi
kebutuhan. Utilitarian elements disebutnya civilization. Artinya, semua mekanisme
dan organisasi yang dibuat manusia dalam upaya menguasai kondisi-kondisi
kehidupannya. Culture menurut MacIver adalah ekspresi jiwa yang terwujud dalam
cara-cara hidup dan berfikir, pergaulan hidup,seni kesusastraan, agama,
rekreasi dan hiburan. Sebuah potret, novel, drama, film, permainan, filsafat
dan sebagainya, termasuk culture karena hal-hal itu secara langsung memenuhi
kebutuhan manusia.[4] Perubahan-perubahan sosial dikatakannya sebagai
perubahan-perubahan dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap
keseimbangan hubungan sosial.[5]
Gillin dan Gillin mengatakan perubahan-perubahan sosial
sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima baik karena
perubahan-perubahn kondisi geografis, kebudayaan materiil, komposisi penduduk,
ideologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam
masyarakat. Secara singkat Samuel Koenig mengatakan bahwa perubahan sosial
menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan
manusia yang terjadi karena sebab-sebab intern maupun ekstern.[6]
Selo Soemardjan: perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga
kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang memenuhi system sosialnya,
termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku diantara
kelompok-kelompok dalam masyarakat. Tekanan pada definisi tersebut terletak
pada lembaga-lembaga kemasyarakatan sebagai himpunan pokok manusia, yang
kemudian mempengaruhi segi-segi structure masyarakat lainnya.[7]
B.
TEORI-TEORI PERUBAHAN SOSIAL
Banyak dari ahli filsafat dan sosiolog berpendapat
bahwa kecenderungan terjadinya perubahan-perubahan sosial merupakan gejala
wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia. Ada yang berpendapat bahwa
perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang
mempertahankan keseimbangan masyarakat, misalnya perbahan dalam unsur-unsur
geografis, biologis, ekonomis, dan kebudayaan.
Ada pula yang berpendapat bahwa perubahan-perubahan sosial
bersifat periodic dan non periodik.[8] Pendapat-pendapattersebut pada umumnya menyatakan
bahwa perubahan merupakan lingaran kejadian-kejadian.
Pitirim A. Sorokin berpendapat bahwa segenap usaha untuk
mengemukakan adanya suatu kecenderungan yang tertentu dan tetap dalam
perubahan-perubahan sosial tidak aka berhasil baik. Dia meragukan kebenaran
akan adanya lingkaran perubahan-perubahan sosial tersebut. Akan tetapi,
perubahan-perubahan tetap ada dan yang paling penting adalah lingkaran
terjadinya gejala-gejala sosial harus dipelajari karena dengan jalan tersebut
barulah akan dapat diperoleh suatu generalisasi.[9]
William F. Ogburn menekankan pada kondisi teknologi dari
kondisi-kondisi sosial primer yang menyebabkan terjadinya perubahan disamping
aspek ekonomi, geografis, dan biologis. Ada beberapa ahli pula yang menyatakan
bahwa semua kondisi tersebut sama pentingnya , satua atau semua akan
menghasilkan perubahan-perubahan sosial.
C. HUBUNGAN ANTARA
PERUBAHAN SOSIAL DAN PERUBAHAN KEBUDAYAAN
Sosial sanant erat hubungannya dengan kebudayaan. Sosial
berbicara tentang masyarakat dan kebudayaan merupakan hasil dari masyarakat
yang berupa ekspresi jiwa, cara-cara hidup, berfikir, pergaulan, seni dan
sebagainya. Kingsley Davis berpendapat bahwa perubahan sosial merupakan bagian
dari perubahan kebudayaan.[10]
Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas. Sudah tentu
ada unsur-unsur kebudayaan yang dapat dipisahkan dari masyarakat, tetapi
perubahan-perubahan dalam kebudayaan tidak perlu mempengaruhi sistem sosial.
Masyarakat menurut Kinslay Davis adalah sistem hubungan dalam arti hubungan
antara organisasi-organisasi, bukan hubungan antara sel-sel.[11] Kebudayaan
dikatakannya mencakup segenap cara berfikir dan bertingkah laku, yang timbul
karena interaksi yang bersifat komutatif seperti menyampaikan buah pikiran
secara simbolis dan bukan karena warsan yang berdasarkan keturunan.[12] Apabila
diambil definisi kebudayaan dari Taylor yang mengatakan bahwa kebudayaan
adalahsuatu kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral,
hukum adat istiadat, dan setiap kemempuan serta kebiasaan manusia sebagai warga
masyarakat, maka perubahan-perubahan kebudayaan merupakan setiap perubahan dari
unsur-unsur tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari kita akan sulit menentukan garis
pemisah antara perubahan sosial dan prubahan kebudayaan karena tidak ada masyarakat
yang tidak memiliki kebudayaan dan tidak mungkin ada kebudayaan yang tidak
terjelma dalam suatu masyarakat. Jadi walapun secara teoritis pemisah antara
keduanya dapat dirumuskan, tapi dalam kehidupan sehari-hari garis pemisahnya
sukar dipertahankan.
Hal yang jelas adalah perubahan-perubahan sosial dan
kebudayaan mempunyai satu aspek yang sama, yaitu keduanya bersangkut-paut
dengan suatu penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dalam cara suatu
masyarakat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.[13]
D. BEBERAPA BENTUK
PERUBAHAN SOSIAL
Bentuk-bentuk perubahan sosial dan kebudayaan telah dibahas
oleh banyak sosiolog. Perubahan-perubahn tersebut diantaranya :
- Perubahan yang Direncanakan dan Perubahan yang Tidak Direncanakan
Adakalanya perubahan sosial memang telah direncanakan, baik
waktunya, pola biayanya, manusia-manusianya dan sebagainya. Tapi disamping itu
ada perubahan sosial yang tidak direncanakan seperti karena terjadinya
penjajahan, banana alam dan lain-lain.
Perubahan sosial yang direncanakan, merupakan perubahan yang
diperkirakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan
di dalam masyarakat. Pihak-pihak yang menghendaki perbahan itu dinamakan “agen of change atau agen perubahan.
Yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mempunyai ide-ide baru atau yang
dipercayakan untuk pengembangan kegiatan-kegiatan yang akan dapat membawa
perubahan di dalam masyarakatnya.[14] Perubahan sosial yang demikian itu, lazimnya
sudah menyiapkan suatu cara untuk mempengaruhi masyarakat dengan konsepsi
dan sistem yang teratur dan terarah, yang disebut dengan “social engineering”atau juga disebut “social planning”.
Tugas dari agen of change adalah menciptakan
institusi-institusi kemasyarakatan, yang dapat dijadikan saluran efektif dalam
mengintrodusir ide-ide baru dan kegiatan pembaharuan sosial. Disamping
menciptakan institusi modern tersebut juga diusahakan mewujudkan
manusia-manusia modern yang mempunyai orientasi ke depan dan sanggup menjangkau
horizon pemikiran yang lebih jauh dan terbuka.
- Perubahan Lambat dan Perubahan Cepat
Perubahan-perubahan yang berlangsung lama, yang berupa
rentetan-rentetan perubahan kecil yang saing mengikuti dengan lambat dinamakan
evolusi. Evolusi sosial terjadi dengan sendirinya tanpa adanya rencana atau
kehendak tertentu. Perubahan tersebut terjadi karena usaha-usaha
masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan-keperluan, keadaan-keadaan
dan kondisi-kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.
Ada beberapa teori tentang evolusi, yang pada umumnya dapat
digolongkan ke dalam beberapa ketegori sebagai berikut :[15]
- Unilinear theories of evolution
Teori ini pada pokoknya berpendapat bahwa manusia dan
masyarakat (termasuk kebudayaan) mengalami perubahan sesuai dengan tahap-tahap
tertentu, mulai dari bentuk sederhana lalu bentuk yang kompleks sampai bentuk
yang sempurna. Pelopor teori ini antara lain August Comte, Herbert Spencer dan
sebagainya. Variasi dari teori ini adalah Cyclical theories, Teori yang
dipeopori oleh Vilfredo Pareto berpendapat bahwa masyarakat dan kebudayaan
mempuyai tahap-tahap perkembangan yang berupa siklus, di mana suatu tahap
tertentu dapat dilalui berulang-ulang. Termasuk pendukung teori ini adalah
Pitirim A. Sorokin yang pernah pula mengemukakan teori dinamika sosial dan kebudayaan.
Sorokin menyatakan bahwa masyarakaat berkambang melalui tahap-tahap yang
masing-masing didasarkan pada sistem kebenaran. Dalam tahap pertama dasarnya
kepercayaan, tahap kedua indra manusia dan tahap terakhir dasarnya adalah
kebenaran.[16]
- Universal theory of evolution
Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidaklah
perlu melalui tahap-tahap tertentu yang tetap. Teori ini mengemukakan bahwa
kebuadayaan manusia telah mengikuti suatu garis evolusi tertentu.
Prinsip-prinsip teori ini diuraikan oleh Herbert Spencer yang antara lain
mengatakan bahwa masyarakat merupakan hasil perkembangan dari kelompok homogeny
ke kelompok heterogen, baik sifat maupun susunannya.
- Multilined theories of evolution
Teori ini menekankan pada penelitian-penelitian terhadap
tahap-tahap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat. Misalnya,
mengadakan penelitian perihal pengaruh perubahan sistem pencaharian dari sistem
pertanian ke industri, terhadap sistem kekeluargaan dalam masyarakat yang
bersangkutan.
Dewasa ini sangat sulit meentukan apakah suatu masyarakat
berkembang melalui tahap-tahap tertentu karena tahap-tahap tersebut juga sulit
untuk dijelaskan. Tahap-tahap Perubahan sosial itu sendiri pada masa mendatang
akan menuju kebentuk kehidupan sosial yang lebih sempurna dari sekarang atau
sebaliknya oleh karena itu banyak sosilog telah banyak meninggalkan teori-teori
evolusi (tentng, masyarakat).
Sementara itu, perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan
yang berlangsung dengan cepatdan menyangkut dasar-dasar atau sendi-sendi pokok
kehidupan masyarakat (yaitu lembaga-lembaga kemasyarakatan) lazimnya dinamakan “revolusi”.
Di dalam revolusi, perubahan-perubahan yang terjadi dapat
direncanakan terlebih dahulu atau tanpa rencana. Ukuran kecepatan pada revolusi
ini sebenarnya relatif. Misalnya revolusi industri di Inggris, dimana
perubahan-perubahan terjadi dari tahap produksi tanpa mesin menuju ke tahap
produksi menggunakan mesin. Perubahan tersebut dianggap cepat karena mengubah
sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat, seperti sistem kekeluargaan, hubungan
antara buruh dengan majikan dan sebagainya. Suatu revolusi dapat berlangsung
dengn didahilui dengan pemberontakan. Pemberontakan para petani di Banten
misalnya, didahului dengan suatu kekerasan, sebelum menjadi revolusi yang
mengubah sendi-sendi kehidupan masyarakat.
- Perubahan Kecil dan Perubahan Besar
Agak sulit untuk merurumuskan masing-masing pengertian
tersebut di atas karena batas-baas pembedanya sangat relative. Sebagai pegangan
dapatlah dikatakan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi pada unsur-unsur
struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau berarti pada
masyarakat.[17]pengaruh mode pakaian misalnya tidak akan membawa pengaruh apa-apa
bagi masyarakat secara keseluruhab karena tidak mengakibatkan perubahan-perubahan
pada lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sealiknya, suatu proses indusrialisasi
yang berlangsun pada masyarakat agraris, misalnya merupakan perubahan yang akan
membawa pengaruh besar pada masyarakat. Berbagai lembaga kemasyarakat akan ikut
terpengaruh, misalnya hubungan kerja, hubungan kekeluargaan, sistem
kekeluargaan, stratifikasi msyarakat dan sebagainya.
E. FAKTOR-FAKTOR YANG
MENYEBABKAN PERUBAHAN SOSIAL DAN
KEBUDAYAAN
Faktor-faktor penyebab perubahan
sosial dan kebudayaan berasal dari dalam masyarakat itu sendiri dan juga
berasal dari luar. Yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri antara lain :
- Bertambahnya dan Berkurangnya Peduduk
Sentralisasi pemerintahan dan juga pusat lapangan kerja
membuat banyak penduduk pedesaan melakukan urbanisasi ke kota-kota besar.
Sehingga terjadi bertambahan penduduk di daerah perkotaan dan juga berkurangnya
penduduk di daerah pedesaan. Kepadaatan pendudukan di kota besar telah
melahirkan berbagai perubahan dengan pengaruh yang besar. Areal tanah yang
dapat diusahakan menjadi lebih sempit; pengannguran semakin tampak. Banyak
penduduk bertempat tinggal di tempat yang tidak layak dan tidak pada tempatnya
seperti di kolong jembatan, di jalanan, di piarnggir sungai dan sebagainya.
Hal semacam itu membuat sistem sosial tidak terkendali. Dan
perubahan sosial berkembang kearah yang lebih buruk.
- Penemuan-Penemuan Baru dan Perkembangan Teknologi
Penemuan-penemuan baru sebagai sebab terjadinya
perubahan-perubahan dapat dibedakan dalam pengertian-pengertian discovery dan
invention. Discvery adalah penemuan unsur kebudayaan yang baru, baik berupa
alat ataupun yang berupa gagasan yang diciptakan oleh seorang individu atau
serangkaian ciptaan para individu,
Discovery baru menjadi invention kalu masyarakat sudah
mengakui, menerima serta menerapkan penemuan baru itu.[18]sering kali proses dari
discovery sampai ke invention mebutuhkan suatu rangkaian pencipta-pencipta.
Penemuan mobil misalnya dimulai dari usaha seorang Austria, yaitu S.Marcus
(1875) yang membuat motor gas yang pertama. Sebetulnya sistem motor gas
tersebut juga merupakan suatu hasil dari rangkaian ide yang telah dikembangkan
sebelum Marcus. Meskipun demikian, Marcus lah yang membulatkan penemuan
tersebut, dan yang untuk pertama kali yang menghubungkan motor gas dengan
sebuah kereta sehingga dapat berjalan tanpa ditarik seekor kuda itulah saatnya
mobil menjadi discovery. Jadi 30 tahun kemudian sesudah suatu rangkain
sumbangan dari sekian banyak pencipta lain yang menambah perbaikan mobil
tersebut, barulah sebuah mobil dapat mencapai suatu bentuk sehingga dapat
dipakai sebagai alat pengangkut oleh manusia dengan cukup praktis dan aman.
Bentuk mobil semacam itu yang mendapat paten di amerika serikat (1911) dapat
disebut sebagai permulaan dari kendaran mobil yang pada masa sekarang menjadi
salah satu alat yang amat penting dalam kehidupan masyarakat. Dengan
tercapainya bentuk tersebut, kendaraan mobil menjadi suatu invention.
Pada saat penemuan menjadi invention, proses inovasi belum
selesai. Meskipun kira-kira sesudah 1911 produksi mobil dimulai, mobil masih
belum dikenal ole selurruh masyarakat. Penyebaran ala pengangkutan tersebut
harus dipropagandakan kepada khalayak ramai selain itu biaya produksi mobil
demikaian tingginya sehingga hanya suatu golongan sangat kecil saja yang dapat
membelinya. Masih diperlukan rangkain penelitian lain dan penemuan-penemuan
lain yang akan dapat menekan biaya produksi. Satu persoalan lain yang juga
harus dihadapi adalah apakah masyarakat sudah siap menerimanya karena misalnya
diperlukan pembuatan jalan-jalan raya yanga baru. Seluruh proses tersebut
merupakan rangkaian proses inovasi dari sebuah mobil.[19]
Seperti halnya mobil, penemuan internet juga telah mengubah
sistem sosial dan sendi pokok kehidupan masyarakat. Internet memberi pengaruh
besar pada bangsa Indonesia kerena internet menyebarkan ilmu pengetahuan dan
juga kebudayaan Negara lain sehingga kebudayaan Indonesia terkikis oleh budaya
global. Kebudayaan atau tradisi gotong royong semakin lama semakin menghilang.
Apalagi setelah adanya jejaring sosial yang berupa facebook, twiter, dan
sebagainya telah memberikan banyak perubahan pada hubungan sosial antara setiap
orang. Jejaring sosial telah membuat hubungan sosial antara manusia yang
saling berjauhan menjadi lebih dekat tapi, seseorang lebih mempedulikan
orang yang jauh dari pada orang yang didekatnya
- Pertentangan (Conflict) Masyarakat
Pertentangan masyarakat mungkin pula menjadi sebab
terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan. Pertentangan yang kerap tejadi
antara generasi tua dan generasi muda. Pertentangan-pertentangan demikian
akibat ketidak sefahaman antara keduanya tentang cara pandang kehidupan sosial
dan kebudayaan. Generasi muda menganggap geerasi tua itu kuno dan ketinggalan
zaman, mereka lebih mudah menerima unsur-unsur kebudayaan asing (khususnya
kebudayaan barat) karena merasa kebudayaan asing lebih modern dan masa kini.
- Terjadinya pemberontakan
Revolusi yang meletus pada Oktober 1917 di rusia telah
menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar Negara Rusia yang mula-mula
mempunyai bentuk kerajaan absolute berubah menjadi dictator proletariat yang
dilandaskan pada doktrin Marxis. Segenap lembaga kemasyarakatan, mulai dari
bentuk Negara sampai keluarga batih, mengalami perubahan-perubahan yang
mendasar.
Suatu perubahan sosial dan kebudayaan dapat pula bersumber
pada sebab-sebab yang berasal dari luar masyarakat, yaitu :
- Lingkungan alam yang ada di sekitar manusia
Terjadinya gempa bumi, topan, banjir besar dan sebagainya
mungkin menyebabkan masyarakat yang mendiami daerah-daerah tersebut terpaksa
harus meninggalkan tempat tinggalnya. Apabila masyarakat tersebut mendiami
tempat yang baru mereka harus menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut.
Kemungkinan penyesuaian itu menimbulkan perubahan-perubahan pada lembaga
kemasyarakatan.
Lingkungan alam juga berpengaruh bagi kaum urban. Mereka
yang sebelumnya bertani atau bergantung pada alam, setelah ke kota mereka akan
menyesuaikan diri dan berubah sesuai dengan masyarakat kota.
- Peperangan
Peperangan dapat pula menyebabkan terjadinya perubahan
karena biasanya pihak yang menang akan memaksaka kebudayaannya pada yang kalah.[20]
Contohnya Negara-negara yang kalah dalam perang dunia ke dua banyak sekali
mengalami perubahan dalam lembaga kemasyarakatannya. Negara-negara yang
kalah dalam perang dunia kedua seperti jerman da jepang mengalami
perubahan-perubahan yang besar dalam masyarakat.
- Pengaruh kebudayaan lain
Hubungan yang dilakukan fisik antara dua masyarakat dengan
kebudayaan yang berbeda mempunyai kecenderungan pengaruh timbal balik. Kedua
kebudayaan akan saling mempengaruhi. Kadang kala ada kebudayaan yang menolak
kebudayaan lain. Seperti kebudayaan orang cina yang masuk ke Indonesia karena
banyak orang cina yang tinggal di Indonesia telah menyebabkan banyak perubahan
terhadap kebudayaan di Indonesia.
Pengaruh kebudayaan tidak harus ada kontak fisik antara
kebudayaan. Dengan adanya internet, televisi dll, telah menyebarkan kebudayaan
keseluruh dunia. Karena penguasa teknologi ini adalah budaya barat dan jepang
sehingga pengaruh yang disebarkan sebagian besar adalah budaya tersebut.
Sehingga pengaruh itu hanya dari satu pihak saja.
Apabila salah satu dari dua kebudayaan yang bertemu
mempunyai taraf teknologi yang lebih tinggi, maka yangterjadi adalah proses
imitasi, yaitu peniruan terhadap unsur-unsur kebudayaan lain. Mula-mula
unsur-unsur tersebut ditambahkan pada kebudayaan asli. Akan tetapi, lambat laun
unsur-unsur kebudayaan aslinya diubah dan diganti oleh unsur-unsur kebudayaan
asing tersebut.[21]
F.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES PERUBAHAN
- Faktor-Faktor yang Mendorong Proses Perubahan
Di dalam masyarakat yang terjadi perubahan terdapat
faktor-faktor yang mendorong proses perubahan yang terjadi. Faktor-faktor
tersebut antara lain:[22]
1.
Kontak dengan kebudayaan lain. Kontak langsung maupun tidak
langsung telah mendorong terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan. Seperti
contoh pengaruh adanya masyarakat asing didaerah tertentu dan juga adanya
internet yang menyebarkan pengaruh kebudayaan asing.
2.
Sistem pendidian formal yang maju. Pendidikan merupakan
faktor yang sangat menentukan untuk adanya perubahan yang menuju kearah yang
lebih baik. SDM suatu tempat akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, karena
mereka lebih dapat memanaatkan Alam dengan efektif dan efisien.
3.
Sikap menghargai hasil karya seseorang dan
keinginan-keinginan yang maju. Setiap karya dapat berpotensi untuk memajukan
peradaban manusia. Seperti karya atau penemuan telepon. Pada awalnya telepon
tidak dianggap oleh masyarakat sebagai karya yang hebat mereka lebih
meremehkannya. Tapi suatu ketika masyarakat mengetahui fungsi sesungguhnya maka
karya tersebut menjadi sangat dihargai masyarakat. Suatu perbuatan pasti
diawali oleh keinginan. Keinginan untuk maju membuat kita berkembang kearah yang
lebih baik.
4.
Sistem terbuka lapisan masyarakat. Sistem terbuka
memungkinkan adanya gerak sosial vertical yang luas atau berarti memberi
kesempatan kepada para individu untuk maju atas dasar kemampuan sendiri. Dalam
keadaan demikian, seseorang mungkin akan mengadakan identifikasi dengan
warga-warga yang mempunyai satus lebih tinggi. Identifikasi merupakan tingkah
laku yang sedemikian rupa sehngga seseorang merasa berkedudukan sama dengan
orang atau golongan lain yang dianggap lebih tinggi dengan harapan agar
diperlakukan sama dengan golongan tersebut. Identifikasi terjadi dalam hubungan
super ordinasi-subordinasi. Pada golongan yang berkedudukan lebih rendah
acap kali terdapat perasaan tidak puas terhadap kedudukan sosial sendiri.
Keadaan tersebut dalam sosiologi disebut status-anxiety. Status anxiety
menyebabkan seseorang berusaha untuk menaikkan kedudukan sosialnya.
5.
Penduduk yang heterogen. Pada masyarakat yang terdiri dari
kelompok-kelompok sosial yang mempunyai latar belakang kebudayaan ras ideologi
yang berbeda mudah terjadinya pertentangan-pertentangan yang mengundang
kegoncangan-kegoncangan. Keadaan demikian menjadi pendorong bagi terjadinya
perubahan-perubahan dalam masyarakat.
6.
Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan
tertentu
7.
Orientasi ke masa depan
8.
Nilai bahwa manusia harus senantiasa berikhtiar untuk
memperbaiki hidupnya
- Faktor-Faktor yang menghalangi terjadinya perubahan
1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat
lain. Kehidupan terasing atau jauh dari kehidupan masyarakat lain menyebabkan
sebuah masyarakat tidak mengetahui perkembangan-perkembangan apa yang terjadi
pada masyarakat lain yang mungkin akan dapat memperkaya kebudayaannya sendiri.
Hal itu juga menyebabkan para warga masyarakat terkungkung pols-pols
pemikiranya oleh tradisi.
2. Perkembangan ilmu pengetahuan yang
terlambat. Hal ini mungkin disebabkan hidup masyarakat tersebut terasing dan
tertutup atau karena dijajah oleh masyarakat lain.
3. Sikap masyarakat yang sangat
tradisional suatu sikap yang mengagung-agungkan tradisi dan masa lampau serta
angapan bahwa tradisi secara mutlak tak dapat diubah menghambat jalannya proses
perubahan.
4. Adanya kepentingan-kepentingan yang
telah tertanam dengan kuat atau vested interests dalam setiap organisasi sosial
yang mengenal sistem lapisan, pasti akana da sekelompok orang yang menikmati
kedudukan perubahan-perubahan. Misalnya dalam masyarakat feodal dan juga pada
masyarakat yang sedang mengalami transisi. Dalam hal yang terakhir, ada
golongan-golongan dalam masyarakat yang dianggap sebagi pelopor-pelopor
transisi. Karena selalu mengidentifikasikan diri dengan usaha-usaha dan
jasa-jasanya, sukar sekali bagi mereka untuk melepaskan kedudukannya didalam
suatu proses perubahan.
5. Rasa takut akan terjadinya kegoyahan
pada integrasi kebudayaan memang harus diakui kalau tidak mungkin integrasi
semua unsur-unsur kebudayaan yang bersifat sempurna beberapa perkelompokan
unsure-unsur tertentu mempunyai drajat integrasi tinggi. Maksudnya unsure-unsur
luar dikhawatirkan akan menggoyahkan integrasi dan menyebabkan
perubahan-perubahan pada aspek tertentu pada masyarakat.
6. Prasangka terhadap hal-hal baru atau
asing / sikap yang tertutup
7. Hambatan-hambatan yang bersifat
ideologis
8. Adat atau kebiasaan
G. PROSES-PROSES
PERUBAHAN SOSIAL DAN KEBUDAYAAN
a. Penyesuaian Masyarakat Terhadap
Perubahan
Keserasian atau harmoni dalam masyarakat (social
equilibrium) merupakan keadaan yang diidam-idamkan setiap masyarakat.
Keserasian masyarakat dimaksudkan sebagai suatu keadaan dimana lembaga-lembaga
kemasyarakatan yang pokok benar-benar berfungsi dan saling mengisi.[23]
Dalam keadaan demikian, individu secara psikologis merasakan akan adanya
ketentraman karena tidak adanya pertentangan dalam norma-norma dan nilai-nilai.
Setiap kali terjadi gangguan terhadap keserasian, masyarakat
dapat menolaknya atau mengubah susunan lembaga-lembaga kemasyarakatannya dengan
maksud menerima atau beradaptasi dengan unsur yang baru. Akan tetapi,
kadangkala unsur baru dipaksakan maksudnya oleh suatu kekuatan seperti
pemerintah atau juga orang yang mempunyai uang dan membangun suatu unsur baru
(mall, perumahan) dan sebagainya. Adakalanya unsur-unsur baru dan lama yang
bertentangan secara bersamaan mempengaruhi norma-norma dan nilai-nilai yang
kemudian berpengaruh pula pada masyarakat. Itu berarti adanya gangguan yang
kontinyu terhadap keserasian masyarakat. Keadaan tersebut menimbulkan
ketegangan-ketegangan serta kekecewaan diantara para warga yang tidak mempunyai
saluran pemecahan. Apabila ketidak serasian dapat diplihkan kembali setelah
terjadinya perubahan, keadaan tersebut dinamakan penyesuaian (anjustment). Bila
sebaliknya yang terjadi, maka dinamakan ketidakpenyesuaian sosial
(maladjustment) yang mungkin mengakibatkan terjadinya anomie.[24]
Menurut teori evolusi sesuatu yang tidak dapat menyesuaikan diri
tehadap perubahan dan lingkungan maka, akan tereliminasi. Setelah munculnya
faktor penyebab perubahan sosial maka Masyarakat akan selalu berusaha untuk
menyesuaikan dengan lingkungannya. jika lingkungan berubah maka ia akan
berubah.
b. Saluran-Saluran Perubahan Sosial dan
Kebudayaan
Saluran-saluran perubahan sosial kebudayaan (avenue or
channel of change) merupaka saluran-saluran yang dilalui oleh suatu proses
perubahan. Umumnya saluran-saluran tersebut adalah lembaga-lembaga
kemasyarakatan dalam bidang pemerintahan, ekonomi, pendidikan, agama, rekreasi,
dan sebagainya. Lembaga kemasyarakatan tersebut menjadi titik tolak, tergantung
pada cultural focus masyarakat paa
suatu masa tertentu.
Lembaga kemasyarakatan yang ada pada suatu waktu mendapatkan
nilai tertinggi dari masyarakat cenderung menjadi saluran utama perubahn sosial
dan kebudayaan. Perubahan lembaga kemasyarakatan tersebut akan membawa akibat
pada lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya karena lembaga-lembaga
kemasyarakatan merupakan suatu sistem yang terintegrasi.
Lembaga-lembaga kemasyarakatan tersebut merupakan
suatu struktur apabila mencakup hubungan antar lembaga kemasyarakatan
yang mempunyai pola-pola tertentu dan keserasian tertentu.
Pada tanggal 17 agustus 1945, terjadilah proklamasi kemerdekaan
Indonesia, di mana pertama-tama terjadi perubahan pada struktur pemerintahan,
dari jajahan menjadi Negara yang merdeka dan berdaulat. Hal ini menjalar ke
lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya. Misalnya dalam bidang pendidikan, tidak
ada lagi diskriminasi antara golongan-golongan, sebagaimana halnya pada zaman
penjajahan. Setiap orang boleh memilih pendidikan ,acam apa yang disukai.
Peubahan tersebut berpengaruh pada sikap pola perilaku dan
nilai-nilaimasyarakat Indonesia.
Dengan singkat dapatlah dikatakan bahwa saluran tersebut
berfungsi agar sesuatu perbahan dikenal, diterima, diakui, serta dipergunakan
oleh khalayak ramai, atau dengan singkat, mengalami proses institutionalization (pelembagaan).
c. Disorganisasi (Disintegrasi) dan
Reorganisasi (Reintegrasi)
Organisasi merupakan artikulasi dari bagian-bagian yang
merupakan suatu kesatuan fungsional. Tubuh manusia misalnya, terdiri dari
bagian-bagian yang masing-masing mempunyai fungsi dalam rangka hidupnya.
Seluruh tubh manusia merupakan suatu kesatuan. Apabila seseorang sedang sakit,
bisa dikatakan salah satu atau lebih bagian tubuhnya tidak dapat berfungsi
seperti seharusnya, maka akan dirasakan oleh seluruh tubuh. Jadi, secara
keseluruhan bagian-bagian tubuh manusia tadi merupakan keserasian yang fungsional.
Demikian juga kehidupan dalam suatu kota merupakan suatu
organisasi tersendiri. Ada kegiatan membersihkan kota, jalan raya untuk
keperluan transport, restoran, tempat rekreasi, sekola, rumah penduduk, dan
sebagainya. Apabila salah satu bagian kota tidak berfungsi, timbullah ketidak
serasian. Misalnya saja ada jalan yang ditutuk karena rusak lantas akan timbul
kemacetan. Maka dapatlah dikatakan bahwa disorganisasi adalah suatu keadaan
dimana tidak ada keserasian pada bagian-bagian dari suatu kebulatan.[25]
Disorganisasi mengenal pula bermacam-macam derajat atau
tahap-tahap kelangsungan. Disorganisasi tidak hanya terjadi karena
pertentangan-pertentangsn yang meruncing, misalnya peperangan, tetapi dapat
pula disebabkan karena kemucetan lalu lintas misalnya. Kedua hal itu mempunyai
pengaruh yang berbeda derajatnya. Criteria terjadinya disorganisasi antara lain
terletak pada persoalan apakah organisasi tersebut berfungsi secara semestinya
atau tidak.
Sehubungan dengan masuknya unsur-unsur baru, di dalam tubuh
suatu sistem sosal seperti masyaraka, ada unsur-unsur yang menentukan sifatnya
sistem sosial tersebut, yang tidak dapat diubah selama hidup oleh pihak manapun
juga.[26]
Seperti biji jagung, jika ditana maka akan menghasilkan pohon jagung dan tidak
akan menghasilkan selain itu. Maka, suatu lembaga pemerintahan misalnya,
tidak akan dapat berubah menjadi night
club.
Suatu disorganisasi atau disintegrasi mungkin dapat
dirumuskan sebagai suatu proses memudarnya norma-norma dan nilai-nilai dalam
masyarakat krena perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga
kemasyarakatan. Sementara itu reorganisasi atau reintegrasi adalah suatu proses
pembentukan norma-norma dan nilai-nilai baru agar serasi dengan lembaga-lembaga
kemasyarakatan yang mengalami perubahan. Tahap reorganisasi dilaksanakan
apabila norma-norma dan nilai-nilai yang baru telah melembaga dalam diri warga
masyarakat. Berhasil atau tidaknya proses pelambagaan tersebut
Apabila disorganisasi terjadi dengan sangat cepat,
maka mungkin akan timbul hal-hal yang sulit untuk dikendalikan. Dengan
demikian, reorganisasi tidak dapat terjadi dengan cepat karena terlebih dahulu
harus menyesuaikan diri dengan masyarakat. Kemugkinan akan terjadi suatu
keadaan dimana norma-norma lama sudah hilang karena disorganisasi, sedangkan
norma-norma baru belum terbentuk. Keadaan tersebut merupakan keadaan krisis
dalam masyarakat. Pada keadaan demikian akan dijumpai anomie[27]. Anomie mungkin juga terjadi pada waktu suatu
disorganisasi meningkat ke tahap reorganisasi.
Pada ketidak serasian perubahan-perubahan dan ketertinggalan
budaya ada unsur-unsur yang cepat berubah dan ada pula unsure yang sukar untuk
berubah. Biasaya unsur-unsur kebudayaan kebendaan lebih mudah berubah dari pada
unsur-unsur kebudayaan rohaniah. Apabila terdapat unsur-unsur yang tidak
mempunyai hubungan yang erat, tidak ada persoalan mengenai tidak adanya
keseimbangan lajunya perubahan-perubahan. Apabila dalam hal ini terjadi ketidak
serasian, kemungkinan akan terjadinya kegoyahan dalam hubungan antara
unsur-unsur tersebut diatas sehingga keserasian masyarakat terganggu. Misalnya,
apabila pertambahan pendudk berjalan dengan cepat, untuk menjaga tata tertib
dalam masyarakat diperlukan pula penambahan petugas-petugas keamanan yang
seimbang banyaknya.
Sampai sejauh mana akibat keadaan tidak serasi laju
perubahan tersebut tergantung dari erat atau tidaknya integrasi antara
unsur-unsur tersebut. Apabila integrasi unsur-unsur dalam masyarakat sangat
erat maka ketidakserasian mempunyai akibat yang sangat jauh.
Suatu teori yang terkenal di dalam sosiologi mengenai
perubahan dalam masyarakat adalah teori ketertinggalan budaya (cultural lag)
dari William F. Ogburn. Teori tersebut mulai dengan kenyataan bahwa pertumbuhan
kebudayaan tidak selalu sama cepatnya dalam keseluruhan, tetapi ada bagian yang
tumbuh cepat dan ada yang tumbuh dengan lambat. Perbedaan antara taraf kemajuan
berbagai bagian dalam kebudayaan dari suatu masyarakat dinamakan culture lag.
Jadi suatu ketertinggalan terjadi apabila laju perubahan dari dua unsur atau
lebih masyarakat atau kebudayaan yang mempunyai kolerasi, tidak seimbang
sehingga unsure yang satu tertinggal oleh unsur lainnya.
Pada
dewasa ini proses-proses pada perubahan-perubahan sosial dapat diketahui dari
adanya ciri-ciri tertentu, yaitu sebagai berikut:
1. Tidak ada masyarakat yang berhenti
perkembangannya karena setiap masyarakat mengalami perubahan yang terjadi
secara lambat atau secara cepat.
2. Perbahan yang terjadi pada lembaga
kemasyarakatan tertentu, akan diikuti dengan perubahan-perubahan pada
lembaga-lembaga sosial lainya. Karena lembaga-lembaga sosial tadi sifatnya
interdependen, maka suli sekali untuk mengisolasi perubahan pada
lembaga-lembaga sosial tertentu saja. Proses awal dan proses-proses selanjutnya
merupakan suatu mata rantai.
3. Peubahan-perubahan sosial yang cepat
biasanya mengakibatkan disorganisasi yang bersifat sementara karena berada di
dalam proses penyesuaian diri. Disorganisasi akan diikuti oleh suatu
reorganisasi yang menyangkut pemantapan kaidah-kaidah dan nilai-nilai lain yang
baru.
4. Perubahan-perubahan tidak dapat
dibatasi pada bidang kebendaan atau sepiritual saja karena kedua bidang
tersebut mempunyai kaitan timbal balik yang sangat kuat.
Secara tipologis,
perubahan-perubahan sosial dapat dikategorikan sebagai berikut.[28]
a) Social proces: the circulation of
variousreward, facilities, and personnel in an existing structure.
b) Segmentation: the ploriferation of
structural unit that do not differqualitatively for existing unit.
c) Stuctura change: the emege of
qulitatifely new complexes of role and organitation.
d) Change in group sturucture: the
sifts in the composition of groups, the level of consciousness of groups, and
the relations among the groups in socity.
H. DAMPAK PERUBAHAN SOSIAL DAN KEBUDAYAAN
TERHADAP
MASYARAKAT
Adanya perubahan sosial budaya secara
langsung atau tidak langsung akan memberikan dampak negatif dan positif.
- Akibat Positif
Perubahan
dapat terjadi jika masyarakat dengan kebudayaan mampu menyesuaikan diri dengan
perubahan. Keadaan masyarakat yang memiliki kemampuan dalam menyesuaikan
disebut adjusment, sedangkan bentuk penyesuaian dengan gerak perubahan disebut
integrasi.
- Akibat Negatif
Akibat
negatif terjadi apabila masyarakat dengan kebudayaannya tidak mampu
menyesuaikan diri dengan gerak perubahan. Ketidakmampuan dalam menyesuaikan
diri dengan perubahan disebut maladjusment. Maladjusment akan menimbulkan
disintegrasi. Penerimaan masyarakat terhadap perubahan sosial budaya dapat
dilihat dari perilaku masyarakat yang bersangkutan.
Apabila perubahan sosial budaya tersebut tidak berpengaruh
pada keberadaan atau pelaksanaan nilai dan norma maka perilaku masyarakat akan
positif. Namun, jika perubahan sosial budaya tersebut menyimpang atau
berpengaruh pada nilai dan norma maka perilaku masyarakat akan negatif.
Terdapat
beberapa tanggapan masyarakat sebagai dampak perubahan sosial yang
menimbulkan suatu ketidakpuasan, penyimpangan masyarakat, ketinggalan, atau
ketidaktahuan adanya perubahan, yaitu sebagai berikut.
- Perubahan yang diterima masyarakat kadang-kadang tidak sesuai dengan keinginan. Hal ini karena setiap orang memiliki gagasan mengenai perubahan yang mereka anggap baik sehingga perubahan yang terjadi dapat ditafsirkan bermacam-macam, sesuai dengan nilai-nilai sosial yang mereka miliki.
- Perubahan mengancam kepentingan pihak yang sudah mapan. Hak istimewa yang diterima dari masyarakat akan berkurang atau menghilang sehingga perubahan dianggapnya akan mengancangkan berbagai aspek kehidupan. Untuk mencegahnya, setiap perubahan harus dihindari dan ditentang karena tidak sesuai kepentingan kelompok masyarakat tertentu.
- Perubahan dianggap sebagai suatu kemajuan sehingga setiap perubahan harus diikuti tanpa dilihat untung ruginya bagi kehidupan. Pembahan juga dianggap membawa nilai-nilai baru yang modern.
- Ketidaktahuan pada perubahan yang terjadi. Hal ini mengakibatkan seseorang ketinggalan informasi tentang perkembangan dunia.
- Masa bodoh terhadap perubahan. Hal itu disebabkan perubahan sosial yang terjadi dianggap tidak akan menimbulkan pengaruh bagi dirinya.
- Ketidaksiapan menghadapi perubahan. Pengetahuan dan kemampuan seseorang terbatas, dampak perubahan sosial yang terjadi ia tidak memiliki kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.
Akibat
atau dampak perubahan sosial dan kebudayaan yang terjadi dalam masyarakat dapat berbentuk antara lain sebagai
berikut :
- Pergolakan dan Pemberontakan
Proklamasi
dikumandangkan sebagai pernyataan kemerdekaan Indonesia dapat diterima di
berbagai daerah walaupun tidak secara bersamaan. Rakyat menyambut dan
mendukungnya. Oleh karena itu, segera dibentuk suatu tatanan dan kehidupan
sosial baru. Rangkaian peristiwa itu disebut revolusi. Adanya pergolakan dan
pemberontakan di berbagai daerah pascakemerdekaan, berlujuan untuk menjatuhkan
kedudukan penguasa pada saat itu, sekaligus menyatakan kelidaksetujuan mereka
terhadap ideologi pemerintah.
- Aksi Protes dan Demonstrasi
Aksi
protes disebut juga unjuk rasa yang selalu terjadi dalam kehidupan manusia. Hal
itu terjadi karena setiap orang memiliki pendapat dan pandangan yang mungkin
berbeda. Protes dapat terjadi apabila suatu hal menimpa kepentingan individu
atau kelompok secara langsung sebagai akibat dari rasa ketidakadilan akan hak
yang harus diterima. Akibatnya, individu atau kelompok tersebut tidak puas dan
melakukan tindakan penyelesaian.
Protes
merupakan aksi tanpa kekerasan yang dilakukan oleh individu atau masyarakat
terhadap suatu kekuasaan. Protes dapat pula terjadi secara tidak langsung
sebagai rasa solidaritas antarsesama karena kesewenang-wenangan pihak tertentu
yang mengakibatkan kesengsaraan bagi orang lain.
- Kriminalitas
Perubahan
sosial yang terjadi dalam kehidupan memberi peluang bagi setiap orang untuk
berubah, tetapi perubahan tersebut tidak membawa setiap orang ke arah yang
dicita-citakan. Hal ini berakibat terjadinya perbedaan sosial berdasarkan
kekayaan, pengetahuan, perilaku, ataupun pergaulan. Perubahan sosial tersebut
dapat membawa seseorang atau kelompok ke arah tindakan yang menyimpang karena
dipengaruhi keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi atau terpuaskan dalam
kehidupannya.
Perbuatan
kriminal yang muncul di masyarakat secara khusus akan diuraikan sebagai akibat
terjadinya perubahan sosial yang menimbulkan kesenjangan kehidupan atau jauhnya
ketidaksamaan sosial. Akibatnya, tidak semua orang mendapat kebahagiaan yang
sama. Adanya perbedaan tersebut menyebabkan setiap orang memiliki penafsiran
yang berbeda-beda terhadap hak dan kewajibannya. Setiap orang harus mendapat
hak disesuaikan dengan kewajiban yang dilakukan.
- Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme
Bangsa
Indonesia yang sedang membangun perlu memiliki sistem administrasi yang bersih
dan berwibawa, bebas dari segala korupsi, kolusi, dan nepotisme. Masalah
korupsi menyangkut berbagai aspek sosial dan budaya maka Bung Hatta (dalam
Mubyarto) mengatakan bahwa korupsi adalah masalah budaya. Apabila hal ini sudah
membudaya di kalangan bangsa Indonesia atau sudah menjadi bagian dari
kebudayaan bangsa akan sulit untuk diberantas. Akibatnya, ha! tersebut akan
menghambat proses pembangunan nasional. Untuk memberantas korupsi, tidak hanya
satu atau beberapa lembaga pemerintahan saja yang harus berperan, tetapi
seluruh rakyat Indonesia harus bertekad untuk menghilangkan korupsi.
- Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja merupakan disintergasi
dari keutuhan suatu masyarakat. Hal itu karena tindakan yang mereka lakukan
dapat meresahkan masyarakat Oleh karena itu, kenakalan remaja disebut sebagai
masalah sosial. Munculnya kenakalan remaja merupakan gejolak kehidupan yang
disebabkan adanya perubahan-perubahan sosial di masyarakat, seperti pergeseran
fungsi keluarga karena kedua orangtua bekerja sehingga peranan pendidikan
keluarga menjadi berkurang.
Selain
itu, pergeseran nilai dan norma masyarakat mengakibatkan berkembangnya sifat
individualisme. Juga pergeseran struktur masyarakat mengakibatkan masyarakat
lebih menyerahkan setiap permasalahan kepada yang berwenang. Perubahan sosial,
ekonomi, budaya, dan unsur budaya lainnya dapat mengakibatkan disintegrasi.
[2] William F. Ogburn dan Meyer F.
Nimkoff: sociologi, edisi ke-4, A.
Feffer dan Simons Internatinal University Edition, 1964, bagian 7
[3] Kingslay Davis, human society, cetakan ke-13, The
Macmillan
[4]
Mac Iver, society; A textbook of
sociology, new York: Farrar and Rinehart, 1937), hal 272 dan seterusnya
[5]
Ibid.,
[6]
Samuel Koenig, Mand and Society, the
basic teaching of sociology, (New York: Barners & noble Inc, 1957) hal.
279
[7]
Dalam social Change in Yogyakarta, 1962 ,
(New York: Cornell University Prss, Ithaca), hlm. XVIII dan 376
[8]
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu
Pengantar, Jakarta: Rajawali Pers, Cet 43, 2010, hlm. 263
[9]
Pitirim A. Sorokin, Contemporary
Sociologial Teories, (New York: Harper and Brothers, 1928), hlm. 739
[10]
Kingslay Dafis, op.cit, hlm. 622,623
[14]
Muhammad Tholhah Hasan, Islam dalam
perspektif sosiokultural, Jakarta: Lantabora Press, 2005, cet ke-3, hlm. 13
[15]
Alex Inkeles, What is Sociology? An Introduce to the Discipline and Profession,
(New Delhi: Prentice Hall of India (Private) Ltd. 1965) hlm. 31 dan Seterusnya
[16] Pitirim A. Sorokin, Sicial and Culture Dinamics, (Pargent,
Boston, 1957)
[17] Willbert E, Moore,
op.cit., hlm 72 dan seterusnya
[18]
Koentjaraningrat, Pemgantar Antropologi,
(Jakarta: Penerbit Universitas, 1965)., hlm. 135
[19]
Ibid h.,36 lihat juga dalam Maclever dan page, op.cit ., hlm. 159
[20]
Soerjonno Soekanto, op.cit., hlm. 281
[21]
Ibid.,
[22]
Ibid.,
[23]
Selo Sumardjan, op.cit., hlm. 383.
[24]
Soerjono Soekanto, op.cit., hlm. 289
[25]
Ibid., hlm. 291
[26]
Teori dari Pitirim A. Sorokin
[27] Yaitu suatu keadaan
dimana tak ada pegagan terhadap apa yang baik dan apa yang buruk sehingga
anggota-anggota masyarakat tidak mampu mengukur tindakan-tindaknnya karena
batas-batas tidak ada.
[28]
Neil J. Smelser, the sociology of
Ekonomiclife. (New Jersey: Prentice-Hall Inc., 1975, hlm. 1414, 142.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar